Posts

SEKILAS TENTANG JEMBATAN PEDESTRIAN DAN MENARA GENTALA ARASY

Image
Menara Gentala Arasy merupakan salah satu ikon baru kota Jambi. Sedikit kilas balik, menara tersebut di bangun di Seberang Kota Jambi, di tepi Sungai Batanghari. Menara yang tingginya sekitar 80 meter tersebut dicat dengan warna hijau tua dan dominan krem (hehe sepenglihatan saya, ya). Menara Gentala Arasy Menara ini terhubung dengan sebuah jembatan pedestrian, yang kala itu masih dalam proses pembangunan. Jadi ada dua cara jika kamu ingin ke menara ini. Pertama dengan melewati jembatan Aurduri, masuk dari arah Seberang Kota. Namun kali ini, sudah terbuka jalan kedua yang lebih singkat dan memang seharusnya begitu. Yup, melewati jembatan pedestrian Titian Arasy. Sekilas tentang Jembatan Pedestrian Titian Arasy Jembatan ini lah yang kira-kira seminggu Arasy saya kunjungi bersama Ez. Jembatan ini telah diresmikan dan dibuka untuk umum oleh Bapak Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus pada sekitar awal April 2015 yang lalu. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 503 meter dengan lebar sekitar ...

CERITA TENTANG KUCING HITAM | CERITA HEWAN #4

Image
gambar unsplash Ada seekor anak kucing lucu yang beberapa hari ini tampak berkeliaran di sekitar rumah. Anak kucing itu berwarna hitam legam yang membuat mata hijaunya tampak begitu terang. Pertama kali menyadari keberadaan anak kucing ini saat saya di perjalanan hendak menuju tempat mengajar. Kala itu, anak kucing ini mengintip dari balik rerumputan di pelataran samping rumah Bulek. Matanya yang hijau beradu pandang dengan mata saya. Oh, so cute!  Dan yang paling membekas adalah saat malam harinya. Saat itu, Ez memang menemani dan mengantar saya pulang seusai mengajar malam. Ketika telah sampai di rumah dan Ez ingin pulang ke rumahnya, saya mengantar Ez hingga ke teras. Saya dan Ez yang sedang mengambil motornya berada di teras samping. Tiba-tiba, tepat di samping teras depan, yang berjarak sekitar 3 meter dari tempat saya dan Ez berada, ada seekor kucing yang dengan manis melihat ke arah kami. Kucing hitam itukah? Haha, bukan. Anggora, kucing angora. Ada seekor angora berbulu put...

SEBELUM FAJAR | MFF #13

Image
“Kalian dapat apa malam ini?” ujar Selena yang diapit oleh kedua adiknya. “Beberapa gelandangan merayuku, namun aku memilih pejalan kaki,” ucap Mariskha. “Seharusnya kak Mariskha ikut aku. Mereka yang di klub malam sangat menyenangkan,” timpal si Bungsu, Verona. “Hmm, besok akan kucoba ke sana,” ujar Marishka sambil mengulas senyum. “Kak Selena sendiri dapat apa?” Selena menghela napas, “Tidak ada. Aku bosan hidup seperti ini.” Mariskha dan Verona sontak menatap kakaknya. Mata mereka membulat. “Kak, sudah tiga hari. Bisa bahaya jika kakak terus seperti itu!” Samar-samar semburat fajar mulai menampakkan dirinya. Selena menyadari itu. “Tenanglah. Aku hanya bosan, bukan berarti akan berhenti. Lagi pula tidak mungkin aku meninggalkan kalian begitu saja,” ujar Selena sembari merangkul kedua saudarinya. “Fajar akan menyingsing. Ayo, lekas kita pulang!” Mariskha dan Verona menggangguk sembari tersenyum lega. Serupa sayap kelelawar tumbuh dan mengepak dari punggung mereka. Ya, harus pulang seb...

DALAM DEKAPAN JARAK | MFF #12

Image
“Gak mungkin! Rian gak mungkin seperti itu. Jangan bawa Rian! Riaannn…” Niya terbangun dengan napas terengah. Butiran peluh mengalir di dahinya. Mimpi tentang Rian telah membuatnya kembali terjaga. Ternyata ia tertidur saat mengerjakan tugas Pak Hendra, dosen Bahasa Inggrisnya. Niya meringis sejenak menghalau pusing yang sempat hinggap di kepala. Ia ingin beringsut ke tempat tidur namun kelip lampu kecil di tepi laptopnya membuatnya mengurungkan niat. Mimpi yang membuatnya terjaga tadi kembali melintas. Niya mengulurkan tangannya, layar laptop pun kembali menyala. Sketsa oleh Carolina Ratri Niya termanggu. Airmatanya mulai menetes. Matanya memandang penuh rindu. Ya, rindu yang dengan susah payah ia bendung. Rian masih tersenyum lewat fotonya yang terpajang sebagai wallpaper di layar laptop Niya. Andai Rian benar ada di dekatnya, pastilah ia sudah menghapus airmata yang saat ini menderas di pipinya. “Happy Birthday, Sayang!” Rian merangkul tubuh mungil Niya dengan lembut. “Mak...

TENTANG NOVEL RUMAH MAYA KARYA TAN SWAT SAN | KELAR BACA #1

Image
“Aku terperangkap menyaksikan kematian sang waktu.” Judul: Rumah Maya Penulis: Tan Swat San Penerbit: Castle Books Tahun terbit: 2005 (Cetakan I) Tebal buku: 288 halaman ISBN: 979-9892-59-7 Ketika membongkar timbunan buku, novel berjudul Rumah Maya karangan Tan Swat San ini muncul kehadapan saya. Sudah lama sekali saya membelinya, ketika masih semester awal perkuliahan (sekitar tahun 2008). Entah mengapa, novel ini malah terlewat untuk dibaca. Memang, sih, saat itu saya membeli beberapa buku sekaligus, mumpung harganya diskon banget, hehe. Alur cerita novel Rumah Maya karya Tan Swat San Oke, langsung saja! Novel ini dibuka dengan sebuah prolog tentang seorang lelaki bisu yang kebingungan dan nyaris seperti orang gila. Lelaki tanpa sehelai benang yang melekat di tubuhnya itu terlihat kurus dan tak terurus. Namun, lengan kanannya terkepal kuat menggenggam sebuah kertas, yang entah apa isinya. Singkat cerita, lelaki tersebut diselamatkan oleh tetua desa. Namun tak lama, dia ditemuk...