CERITA TENTANG KUCING HITAM | CERITA HEWAN #4
gambar unsplash
Ada seekor anak kucing lucu yang beberapa hari ini tampak berkeliaran di sekitar rumah. Anak kucing itu berwarna hitam legam yang membuat mata hijaunya tampak begitu terang. Pertama kali menyadari keberadaan anak kucing ini saat saya di perjalanan hendak menuju tempat mengajar. Kala itu, anak kucing ini mengintip dari balik rerumputan di pelataran samping rumah Bulek. Matanya yang hijau beradu pandang dengan mata saya. Oh, so cute!
Dan yang paling membekas adalah saat malam harinya. Saat itu, Ez memang menemani dan mengantar saya pulang seusai mengajar malam. Ketika telah sampai di rumah dan Ez ingin pulang ke rumahnya, saya mengantar Ez hingga ke teras. Saya dan Ez yang sedang mengambil motornya berada di teras samping. Tiba-tiba, tepat di samping teras depan, yang berjarak sekitar 3 meter dari tempat saya dan Ez berada, ada seekor kucing yang dengan manis melihat ke arah kami.
Kucing hitam itukah? Haha, bukan. Anggora, kucing angora.
Ada seekor angora berbulu putih yang gemuk melihat kami dengan intens. Karena penasaran dan gemes, saya coba dekati angora tersebut. Namun, yea, malu-malu kucing, dia malah berlari ke arah rumah Mbah. Lalu berbelok ke arah rumah salah seorang Bulek saya (bukan Bulek yang di atas tadi kuceritakan, ya). Yep, selidik punya selidik, sepupu saya, si Anjeli, memang memelihara dua ekor angora. Entah karena apa, akhirnya anggora tersebut malah bebas berkeliaran di malam itu.
Lalu, mana kucing hitamnya? Haha..sabar. Nah, ceritanya berlanjut.
Saya coba kejar angora tersebut sambil setengah berlari ke teras depan tanpa alas kaki. Saya juga sambil berseru menirukan suara kucing, meong, meong. Saya pikir si Angora tadi bakal tertarik dan mendekat. Yea, yea, dia memang sempat berhenti dan menoleh ke arah saya, namun ya, itu, cuma sebentar. Kemudian dengan acuh melenggang cantik pulang (ke rumah Bulek).
Nah, menariknya, ketika saya panggil si Anggora tadi, anak kucing hitam itu ada di sekitar situ dan mendengarnya. Tak dinyana, malah dia yang datang mendekat. Dia berlari-lari ke arah saya. Awalnya saya gak sadar kalau ada kucing hitam tersebut. You know, lah, it was at night. That night was as dark as its fur. Saya baru menyadarinya saat melihat kilatan mata hijaunya yang terang dan semakin jelas. Saya tersenyum, ih menggemaskan sekali. :D
Di teras depan saya berjongkok sebentar. Anak kucing itu kini di dekat kaki. Dia ternyata lumayan jinak dan bersemangat dengan manusia yang baru ditemuinya, hehe. Saya mencoba mengelus kepalanya dan dia tidak lari malah semacam menikmati sembari memejamkan mata. Lalu saya coba mengangkatnya. Haha, dia diam saja tidak melawan. Ohh, cute banget. Benar-benar full hitam, tanpa corak warna lainnya sedikitpun. Perfecto! :D
Sayang saya tidak sempat mengambil fotonya. Yea, hari itu sudah malam, dan kamera hape saya sulit untuk menangkap gambar yang bagus. Ez pun sudah di atas motor bersiap untuk pulang. Saya turunkan lagi kucing itu dan dia bergabung dengan beberapa kucing kuning lainnya di sekitar rumah.
Haha, saya kadang rada ber-filosofis ria. Ketika Ez sudah berlalu pulang dan saya berjalan ke pintu, kembali masuk rumah, ada dua kalimat yang terlintas di benak ini. Mau tahu? Haha.
“Even darkness is beautiful.”
“The beautiful of darkness is when you are willing to taste it with your good heart.”
Dan sebuah quote legendaris melintas lagi di kepala kala itu. Saat saya menyadari fakta bahwa bukan Anggora yang dipanggil yang datang, melainkan si Kucing hitam. Begini bunyi quote legendaris yang saya yakin kamu juga pasti sudah pernah mendengarnya:
“Terkadang kita tidak mendapat apa yang kita mau, namun kita mendapat apa yang kita butuh.”
Kembali ke cerita kucing tadi, akhir-akhir ini saya mulai jarang melihat anak kucing itu lagi berkeliaran di sekitar rumah. Mudah-mudahan dia tetap sehat dan gak ada yang jahat sama dia hanya karena warnanya hitam legam. I miss you, Kitty.

Comments
Post a Comment