Posts

Showing posts with the label MFF

SEBELUM FAJAR | MFF #13

Image
“Kalian dapat apa malam ini?” ujar Selena yang diapit oleh kedua adiknya. “Beberapa gelandangan merayuku, namun aku memilih pejalan kaki,” ucap Mariskha. “Seharusnya kak Mariskha ikut aku. Mereka yang di klub malam sangat menyenangkan,” timpal si Bungsu, Verona. “Hmm, besok akan kucoba ke sana,” ujar Marishka sambil mengulas senyum. “Kak Selena sendiri dapat apa?” Selena menghela napas, “Tidak ada. Aku bosan hidup seperti ini.” Mariskha dan Verona sontak menatap kakaknya. Mata mereka membulat. “Kak, sudah tiga hari. Bisa bahaya jika kakak terus seperti itu!” Samar-samar semburat fajar mulai menampakkan dirinya. Selena menyadari itu. “Tenanglah. Aku hanya bosan, bukan berarti akan berhenti. Lagi pula tidak mungkin aku meninggalkan kalian begitu saja,” ujar Selena sembari merangkul kedua saudarinya. “Fajar akan menyingsing. Ayo, lekas kita pulang!” Mariskha dan Verona menggangguk sembari tersenyum lega. Serupa sayap kelelawar tumbuh dan mengepak dari punggung mereka. Ya, harus pulang seb...

DALAM DEKAPAN JARAK | MFF #12

Image
“Gak mungkin! Rian gak mungkin seperti itu. Jangan bawa Rian! Riaannn…” Niya terbangun dengan napas terengah. Butiran peluh mengalir di dahinya. Mimpi tentang Rian telah membuatnya kembali terjaga. Ternyata ia tertidur saat mengerjakan tugas Pak Hendra, dosen Bahasa Inggrisnya. Niya meringis sejenak menghalau pusing yang sempat hinggap di kepala. Ia ingin beringsut ke tempat tidur namun kelip lampu kecil di tepi laptopnya membuatnya mengurungkan niat. Mimpi yang membuatnya terjaga tadi kembali melintas. Niya mengulurkan tangannya, layar laptop pun kembali menyala. Sketsa oleh Carolina Ratri Niya termanggu. Airmatanya mulai menetes. Matanya memandang penuh rindu. Ya, rindu yang dengan susah payah ia bendung. Rian masih tersenyum lewat fotonya yang terpajang sebagai wallpaper di layar laptop Niya. Andai Rian benar ada di dekatnya, pastilah ia sudah menghapus airmata yang saat ini menderas di pipinya. “Happy Birthday, Sayang!” Rian merangkul tubuh mungil Niya dengan lembut. “Mak...

DI SUATU MALAM, DI TEPI SEBUAH DANAU | MFF #10

Image
gambar deviantart Laurent menjejakan kakinya di tepian danau. Ada batuan yang sedikit menjorok ke danau itu dan ia menyusurinya. Laurent menurunkan tudung jaketnya, membiarkan dingin menyusup hingga ke sela-sela rambut. Matanya menatap jauh ke air danau yang hitam. Samar terdengar nyanyian merdu dari tengah danau. Bulan malu-malu, bersembunyi di balik awan Langit malam ini pekat, pepohonan pun telah tertidur Namun angin masih ada, mengantarkanmu kembali Dan di danau ini kita bertemu lagi Manusia duyung! Siripnya yang menyala keemasan sesekali mengintip dari pekatnya air danau. Rambutnya panjang terurai dan juga berwarna keemasan. Manusia duyung berparas cantik! Duyung itu berenang mendekati Laurent. Berputar beberapa kali seperti menari, lalu memangku tangan manusianya ke tepian batu. Separuh tubuhnya yang bersisik seperti ikan ada di dalam air danau. Dengan suaranya yang lembut dia bertanya, "jadi, apa yang malam-malam menyala di atas sana?" Laurent tak lagi berdiri....

DOPPELGANGER | MFF #9

Image
"Ahh, lega!" Suaraku memantul di dinding toilet sekolah. Tidak ada yang menggubris karena aku memang sendirian. Suasana pagi, saat jam pertama sekolah dimulai memang sepi. Kurapikan seragam dan rambutku. "Baiklah, saatnya kembali ke kelas." Aku hampir sampai. Hanya perlu menyusuri satu koridor lagi. Kelasku di ujung koridor, sedikit berbelok ke kanan. Di koridor terakhir ini, hanya ada satu ruang kelas, kelas Tujuh. Kau harus melewati deretan loker siswa sebelum sampai di pintu masuk kelas ini. "Bu Heny!" Aku bergumam pelan. Aku cukup terkejut melihat Bu Heny. Saat berjalan ke toilet tadi, Bu Heny tengah berceloteh di dalam kelas Tujuh, menerangkan pelajaran. Kini beliau terlihat asyik membaca mading di sisi kiri koridor yang berseberangan dengan loker siswa. Koridor ini tidak terlalu lebar. Sepi pula. Aku harus menyapa beliau. Demi kesopanan. "Selamat pagi, Bu!" Bu Heny menoleh, namun pandangannya dingin. Beliau juga tidak menjawab sa...

PERJANJIAN | MFF #8

Image
Lucy melirik jam di kamarnya. 3:06, dini hari. Tidurnya tertahan, memikirkan tunggakan cerita yang harus dia selesaikan. Semilir angin dingin tiba-tiba berhembus. Seperti terhipnotis, akhirnya dia tertidur dalam kegelisahan. Mimpi mengantarkannya ke atas jembatan sungai Themes. Hening, sepi, sendiri. Awan terlihat rendah, menggumpal. Sesekali kilat, petir menghiasi. Lucy berlari keluar dari jembatan. "Hello, Lucy!” Seseorang muncul dan menghalangi jalannya. Lelaki berpostur tinggi tegap dengan mantel hitam semata kaki. Lucy terhenti. Pandangannya menyelidik. “Kau siapa?” “Aku Astaroth. Kali ini kau memerlukan bantuanku!” Lelaki itu tersenyum tipis, membuat raut wajahnya semakin menarik. Pria ini mencurigakan. Lucy tidak ingin berurusan dengannya. Namun tubuhnya enggan beranjak. “Aku bisa menyelesaikan bukumu dalam sekejap. Dan aku bisa memberikanmu banyak cerita hebat lainnya. Kau akan terkenal, kaya. Dan Ibumu bisa terus kau beri makan.” “Tidak mungkin!” “Kau hanya p...

NOMOR 666666 | MFF #7

Image
Cahaya matahari telah surut. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Jalan Cemara masih ramai oleh manusia. Entah itu melintas dengan mobil-mobil mereka atau dengan langkah kakinya. Hewan-hewan liar tak bertuan juga ikut melintasi jalan ini. Aku mematung di sisi jalan. Memperhatikan mereka dari balik tudung hitamku. Lebih tepatnya memperhatikan angka-angka berwarna merah yang menyala di atas ubun-ubun mereka. Angka yang menunjukkan berapa lama lagi waktu yang tersisa bagi mereka untuk menarik napas. Cahaya bulan memantul dari ujung sabitku. Baru 100 tahun menjadi Penjagal, namun rasa bosan mulai menghinggapi. Apalagi jika sedang tidak ada roh yang harus kupisahkan dari tubuh makhluk yang membutuhkan udara untuk bernapas, seperti mereka itu. Ah, entahlah dengan Penjagal lainnya. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apakah mereka juga merasa bosan dengan kehidupan yang nyaris abadi, seperti yang kurasakan ini. "Edo, apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh? Tiba-tiba udara menjadi dingi...