Posts

DOPPELGANGER | MFF #9

Image
"Ahh, lega!" Suaraku memantul di dinding toilet sekolah. Tidak ada yang menggubris karena aku memang sendirian. Suasana pagi, saat jam pertama sekolah dimulai memang sepi. Kurapikan seragam dan rambutku. "Baiklah, saatnya kembali ke kelas." Aku hampir sampai. Hanya perlu menyusuri satu koridor lagi. Kelasku di ujung koridor, sedikit berbelok ke kanan. Di koridor terakhir ini, hanya ada satu ruang kelas, kelas Tujuh. Kau harus melewati deretan loker siswa sebelum sampai di pintu masuk kelas ini. "Bu Heny!" Aku bergumam pelan. Aku cukup terkejut melihat Bu Heny. Saat berjalan ke toilet tadi, Bu Heny tengah berceloteh di dalam kelas Tujuh, menerangkan pelajaran. Kini beliau terlihat asyik membaca mading di sisi kiri koridor yang berseberangan dengan loker siswa. Koridor ini tidak terlalu lebar. Sepi pula. Aku harus menyapa beliau. Demi kesopanan. "Selamat pagi, Bu!" Bu Heny menoleh, namun pandangannya dingin. Beliau juga tidak menjawab sa...

PERJANJIAN | MFF #8

Image
Lucy melirik jam di kamarnya. 3:06, dini hari. Tidurnya tertahan, memikirkan tunggakan cerita yang harus dia selesaikan. Semilir angin dingin tiba-tiba berhembus. Seperti terhipnotis, akhirnya dia tertidur dalam kegelisahan. Mimpi mengantarkannya ke atas jembatan sungai Themes. Hening, sepi, sendiri. Awan terlihat rendah, menggumpal. Sesekali kilat, petir menghiasi. Lucy berlari keluar dari jembatan. "Hello, Lucy!” Seseorang muncul dan menghalangi jalannya. Lelaki berpostur tinggi tegap dengan mantel hitam semata kaki. Lucy terhenti. Pandangannya menyelidik. “Kau siapa?” “Aku Astaroth. Kali ini kau memerlukan bantuanku!” Lelaki itu tersenyum tipis, membuat raut wajahnya semakin menarik. Pria ini mencurigakan. Lucy tidak ingin berurusan dengannya. Namun tubuhnya enggan beranjak. “Aku bisa menyelesaikan bukumu dalam sekejap. Dan aku bisa memberikanmu banyak cerita hebat lainnya. Kau akan terkenal, kaya. Dan Ibumu bisa terus kau beri makan.” “Tidak mungkin!” “Kau hanya p...

NOMOR 666666 | MFF #7

Image
Cahaya matahari telah surut. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Jalan Cemara masih ramai oleh manusia. Entah itu melintas dengan mobil-mobil mereka atau dengan langkah kakinya. Hewan-hewan liar tak bertuan juga ikut melintasi jalan ini. Aku mematung di sisi jalan. Memperhatikan mereka dari balik tudung hitamku. Lebih tepatnya memperhatikan angka-angka berwarna merah yang menyala di atas ubun-ubun mereka. Angka yang menunjukkan berapa lama lagi waktu yang tersisa bagi mereka untuk menarik napas. Cahaya bulan memantul dari ujung sabitku. Baru 100 tahun menjadi Penjagal, namun rasa bosan mulai menghinggapi. Apalagi jika sedang tidak ada roh yang harus kupisahkan dari tubuh makhluk yang membutuhkan udara untuk bernapas, seperti mereka itu. Ah, entahlah dengan Penjagal lainnya. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apakah mereka juga merasa bosan dengan kehidupan yang nyaris abadi, seperti yang kurasakan ini. "Edo, apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh? Tiba-tiba udara menjadi dingi...

POHON SUKUN MERANGGAS

Image
Gambar di atas adalah sebuah foto pohon sukun di belakang rumah. Jadi dulu, sekitar mungkin 10 tahun yang lalu, Bapak membawa bibit pohon sukun untuk ditanam di belakang rumah. Saya tidak ingat persis kapan waktunya, pohon sukun tersebut tumbuh dengan mudah dan mulai berbuah. Ketika cukup matang, buahnya akan jatuh. Itulah kali pertama saya makan buah sukun. Rasanya? Seperti ubi, namun teksturnya lebih lunak dari ubi kayu. Saya lebih suka buah ini digoreng atau dibuat kripik. Tentu saja harus ditambahkan garam karena daging buah sukun itu tawar. Buah sukun tersebut akan jatuh dengan sendirinya saat telah matang. Bahkan ada juga yang jatuh karena sudah membusuk. Ada sebagian yang suka memakan buah sukun yang sudah matang. Namun saya lebih memilih buah sukun yang tidak terlalu matang namun tidak juga mengkal. Buah sukun yang matang itu baunya tidak karuan, langu di hidung. Dulu, sering buah sukun matang jatuh dan mengenai jemuran baju di bawahnya. Atau sukun tersebut pecah menghantam ...

TAK KASAT MATA | MFF #6

Image
sumber unsplash Theo dengan sweater abu-abunya menggandeng tangan Naya. Sebelah tangannya lagi memegang ice cream yang baru saja dibelinya. Malam ini mereka berjalan-jalan menikmati keriuhan Pekan Raya Festival. "Naya, kamu kenapa sih bawa boneka beruang itu terus?" Theo bertanya sambil menyeruput es krimnya. "Namanya Anne. Diingat dong, Theo!" Naya menyorongkan Anne kehadapan Theo. "Kamu sendiri, mengapa masih saja memakai topi jelek itu?" Naya balik bertanya sambil merapihkan pita biru yang melingkar di leher Anne. "Topi ini keren, Nay. Lihat! Aku jadi lebih kerenkan dengan topi ini? Haha.." "Apanya yang keren? Kamu saja yang tidak mau tahu," Naya menggerutu pelan. "Duduk situ yuk, Nay! Ribet nih makan es krim sambil jalan." Theo menunjuk bangku di sisi jalan. Beberapa tetes es krim meleleh jatuh melewati tangannya. Namun tetes es krim itu tidak pernah mencapai tanah. "Theo, sebaiknya kamu buang topi itu. Kamu...