CERITA TENTANG KADAL | CERITA HEWAN #8

cerita tentang kadal | gambar unsplash
Saya mau cerita sedikit tentang kadal-kadal yang (tidak sengaja) ditemui saat tinggal di Batam. Mengapa tentang kadal? Karena ternyata saya cukup sering berurusan dengan hewan tersebut saat tinggal di sana. Mungkin karena kebetulan di belakang rumah tinggal di sana ada sebatang pohon buah seri yang lumayan tinggi. Habitatnya kadal (kalau tidak salah) di batang pohon. Jadi, ya, mungkin karena itulah saya jadi terus-terusan bertemu dengan reptil satu ini.
Kadal Pertama
Ukurannya sedang. Tidak terlalu kecil dan tidak juga terlalu besar. Mungkin seukuraan tokek dewasa. Saat itu saya hendak menjemur pakaian di halaman belakang. Ketika membuka pintu, saya terkejut. Ada sesuatu yang melintasi rerumputan yang memang lumayan memenuhi halaman belakang. Rumputnya tidak pula tinggi, namun ternyata cukup untuk kadal bersembunyi.
Ragu-ragu, saya beranikan diri untuk tetap menjemur pakaian yang baru selesai dicuci. Ketika melihat pergerakan saya, si Kadal juga ikut bergerak. Dia lari ke pojok kiri halaman. Saya pun memutuskan untuk mulai menjemur dari pojok kanan. Saat jemuran di kanan penuh, saya perlahan ke kiri. Si Kadal waspada dan langsung berlari ke kanan.
Saya ketakutan. Kadalnya juga ketakutan. Setidaknya kami tidak ketakutan sendirian. Hari berikutnya pun demikian hingga Ez pulang dan mengusir keluar hewan tersebut dari halaman belakang.
Kadal Kedua
Ukurannya terbesar dari semua kadal yang pernah saya lihat selama ini. Kira-kira sebesar anak kucing; gemuk, montok, dengan kepala tegak ketika dia berjalan di siang hari itu. Intinya “besar”. Demikian jika benakku tidak salah ingat. Sayang, tidak ada fotonya.
Omong-omong, saat itu saya sedang menunggu Ez keluar dari kantornya. Saya menunggu bersama motor di depan sebuah ruko yang tidak terpakai (memang sengaja tidak menunggu di depan kantor). Ketika bosan memainkan hape, saya mendongak ke arah jalan. Terkejutlah saya jadinya.
Saya tebak dia muncul dari celah selokan air yang terbuka sedikit di bagian atas. Si Kadal yang ada di hadapan saya ini tampak ragu-ragu. Agaknya dia mau menuju teras tempat saya duduk menunggu.
Saya enggan untuk pindah. Akhirnya saya coba keluarkan suara untuk mengusirnya. Dia berbalik. Eh, tak lama kemudian, maju kembali.
Saya pun mengusirnya lagi sambil berjalan beberapa langkah ke depan. Oke, dia balik badan kembali menuju selokan. Aman saya pikir. Namun, jantung jadi berdebar melihat dia maju kembali ke arah saya.
Astaga! Apa teras ini rute jalan-jalan dia di siang hari, ya? Kok, keukuh beud mau lewat sini. Hey! Kamu terlambat. Saya sudah duluan duduk di sini.
Rasanya saya mau bicara seperti itu ke kadal tersebut. Sayangnya, tak jauh dari situ ada seorang anak sekolah yang sedang berdiri menunggu jemputan (sepertinya di juga kaget dengan kemunculan kadal tersebut). Selain itu, ada juga beberapa orang yang lalu lalang di koridor teras-teras ruko tersebut.
Akhirnya saya kembali mengusirnya dengan suara “hush..hush!”. Untung kali ini dia menurut dan pergi menjauh. Mencari rute baru, mungkin.
Kadal Ketiga
Saya bukan pengintip dan jarang sekali menyibak tirai jendela kalau tidak ada tujuan yang jelas (dan baik), misalnya melihat air yang sedang turun dari langit. Melihat hujan maksudnya. Namun di suatu siang, entah karena apa, saya menyibak tirai jendela depan.
Tidak ada keramaian di depan rumah. Tidak ada kurir yang membawa kabar gembira sambil teriak "paket!" Tidak ada truk sampah yang suka iseng tidak mengembalikan tong sampah ke tempat semula. Hari itu tidak pula hujan. Hanya matahari yang terik dan udara gersang yang tertiup angin.
Ya, mungkin hari itu saya diminta untuk menyaksikan tingkah seekor kadal lagi. Tirai tersibak dan bola mata mengarah ke kanan. Tampak sedikit pekarangan depan dari rumah sebelah. Di dekat teras rumah itu ada sepetak tanah yang penuh dengan semak belukar. Tampaknya si Kadal mau ke semak tersebut. Tapi dia berhenti sejenak di teras.
Kepalanya tegak dan celingak celinguk. Kepala kadal itu menoleh ke kiri kanan. Kamu habis ngapain? Apa, yang kamu lihat, hey? ~rasa hati ingin menanyainya. Kadal yang ini mencurigakan.
P.S. Saya tidak mengadu tentang kadal itu ke si pemilik rumah karena tidak tahu siapa pemiliknya. Rumah sebelah itu tidak berpenghuni alias masih kosong.
Kadal Keempat
Saya berani mengusir kadal besar alias si Kadal Kedua. Namun ketar ketir saat ada kadal kecil di halaman belakang. Alasannya sederhana. Kadal besar itu ada di ruang terbuka. Ada banyak tempat untuk menghindar dan lari. Ada orang-orang di sekitar yang bisa langsung dimintai tolong.
Nah, kalau di halaman belakang rumah, situasinya berkebalikan. Ruangan tertutup dengan permukaan penuh rumput yang sebenarnya sangat menguntungkan si Kadal jika dia paham. Dan kejadian lagi. Halaman belakang rumah kemasukan kadal lagi.
Syukurlah ukurannya sedikit lebih kecil dari semua kadal yang sempat saya temui sebelumnya. Dia menetap jauh di pojok kanan pintu. Ketika saya bergerak untuk menjemur pakaian, dia tidak panik. Dia diam bersembunyi. Ini kadal pembawaannya tenang sekali.
Saya pun mulai akur dengan kadal yang ini. Apakah ada sebulan dia di halaman belakang rumah? Lebih, rasa-rasanya. Ez juga enggan mengusir keluar kadal tersebut. Saya jadi berpikir, apa yang dimakan kadal ini? Apakah buah-buah seri yang jatuh terbawa angin ke halaman belakang? Apakah kadal pohon itu herbivora?
Terakhir saya dengar kadal tersebut masuk ke rumah dan berdiam di dalam hingga dua hari. Dia bersembunyi di balik rak sepatu. Saya sudah tidak ada di rumah. Saat itu rumah hanya dihuni oleh Ez yang sangat rajin membuka pintu belakang seharian.
Setelah ketahuan dia hidup bersama kadal selama dua hari, kadal itupun diusir lewat pintu depan. Berkelanalah dia ke sekitaran komplek perumahan ini, saya rasa. Atau mungkin, dia malah sudah bersahabat dengan Kadal Ketiga.
Ya, begitulah ceritanya...
Jadi, sejauh ini, itulah empat kadal yang sempat saya temui selama tinggal di sana. Mungkin mereka kadal yang sama. Bisa juga mereka empat kadal yang berbeda. Yang jelas, saya masih belum paham mengapa harus melihat dan berurusan dengan kadal-kadal itu. #rahasiailahi
Comments
Post a Comment