CERITA TENTANG ULAT BULU | CERITA HEWAN #5
Hampir sama seperti melihat badut, saya juga tidak suka melihat ulat bulu. Rasanya badan jadi merinding dan takut tidak jelas. Apalagi jika badut atau ulat berjalan ke arah saya, huwwa… ingin kabur menjauh rasanya. Entah mengapa saya bisa begitu.
Lalu mengapa judul postingan kali ini adalah ulat bulu? Iya, walaupun tidak suka, tapi ada satu momen yang mau saya ceritakan perihal ulat bulu. Bukan momen menakutkan atau panik luar biasa gara-gara si Ulat. Ataupun momen dimana jadi kagum dan mencoba menyentuhnya, hiii amit-amit (merinding). Ini hmm katakanlah suatu momen di suatu hari yang panas.
Begini ceritanya...
Suatu kali, masih di bulan Ramadhan tahun ini, saya melangkahkan kaki ke halaman belakang rumah. Sudah cukup lama Bapak tidak membersihkan halaman belakang sehingga mulai banyak rumput liar tumbuh.
Salah satu rumput itu mempunyai bunga yang berwarna kuning cerah. Bunganya kecil dan ada satu lagi bunga kecil juga namun berwarna kuning muda dan sedikit putih. Saya tidak tahu itu rumput apa namanya, hanya suka mengamati.
Saya sudah mengamati rumput itu sedari kecil. Bukan mengamati dengan serius semacam riset. Hanya sekadar menikmati bunga-bunganya yang kecil. Dan rumput itu salah satu penghubung memori otak saya yang memutar kenangan di masa kecil. Bunga rumput liar itu menjadi bagian tersendiri dalam kepingan ingatan di benak.
Dan kali itu pun sama. Saya mulai mengamati rumput tersebut yang kebetulan sedang berbunga. Nah, ketika itulah saya melihat ada ulat, bulu, hiii...!!
Bagaimana bentuk ulat bulunya?
Ulat bulu tersebut berwarna hitam dengan panjang sekitar 5-7cm. Selain warna hitam di sekujur badannya, ada pula, seperti duri-duri berwarna kuning cerah. Mungkin karena dia tinggal di rumput yang mempunyai bunga warna kuning, kali ya, jadi ada totol kuning juga di badan si Ulat.
Namun ketika itu lucunya saya tidak langsung terlonjak dan panik kabur. Saya cukup tenang karena memang orangnya kalem, wkwk. Gak juga sih!
Mungkin karena pasokan hormon bahagia sehabis melihat bunga liar tadi bikin saya malah jadi menyempatkan diri (walau dengan sedikit takut campur waspada) mengamati ulat tersebut.
Biasanya ulat bulu itu punya banyak bulu, tetapi ulat ini bulunya seperti duri berwarna kuning. Tumbuh dengan jarak yang teratur, terpola, dan tidak saling tumpang tindih. Bulu kuningnya itu juga terjumput rapi dan cukup tebal sehingga cukup kontras dengan warna kulitnya yang hitam.
Itulah mengapa saya jadi tertarik untuk melihat lebih lama. Lagi pula hewan ini sepertinya sedang tertidur. Kalau tidak dia sedang jadi patung(?) karena hanya diam dan tidak bergerak. Dan saya rasa ulat bulu tidak bisa melompatkan? Hii… serem ah, jadi terbayang kalau ulatnya melompat minta pangku. Huwwaa…hiksss…
Baiklah, saya cukup terkesima dengan ulat bulu yang satu ini. Coraknya unik. Dan dengan sedikit gemetar dan kewaspadaan tinggi, mencoba mengambil fotonya. Inilah penampakan si ulat.
entah dengan kekuatan apa saya berhasil foto ini
Bagaimana menurut kalian?
Saya jujur baru kali ini melihat ulat bulu dengan bentuk dan corak seperti ini. Dan ketika saya amati untuk kali kedua (di sore harinya), saya lihat jika bukan hanya ada satu ulat. Tetapi tiga, dan mereka hampir sama panjang dan segemuk yang pertama. Hii…
Saya tidak akan melewati rumput itu jika ingin membuang sampah. Saya juga sudah memberitahu Emak supaya hati-hati jika ingin menjemur pakaian ataupun melintasi rumput itu. Ada tiga ulat bulu yang sedang santai dan nom nom nom, mereka juga makan.
Apa yang bisa dipelajari dari penampakan ulat bulu ini?
Akan tetapi ada sedikit pengetahuan dari tingkah si Ulat yang sempat saya amati.
- Ulat akan berlindung dibawah daun ketika matahari terik menyengat.
- Saya rasa mereka bisa makan di waktu pagi, sore, atau mungkin malam.
- Ketika matahari tidak menyengat, dan ulat tidak sedang makan daun, maka si Ulat akan santai selonjoran di batang atau tangkai rumput tersebut.
- Saya sempat memperhatikan salah satu dari ulat tersebut makan. Ternyata kepalanya kecil, bulat dengan dua antena mencuat berwarna merah.
- Ulat tersebut makan daun dengan lahap.
- Tampaknya ada pola tersendiri ketika ulat menikmati daun. Ulat akan menggigit dari tepi atas daun lalu terus hingga ke bawah sepanjang jangkauan kepalanya.
- Gigitan tersebut membentuk garis busur alias melengkung.
- Setelah melengkung, ulat akan menaikkan kepalanya kembali ke atas dan mulai lagi memakan tepi daun tersebut. Begitu terus berulang-ulang.
Saya tebak ulat itu nanti akan menjadi kupu-kupu berwarna kuning dengan warna dasar sayap hitam. Namun satu hal yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara ulat tadi bisa sampai dan tinggal di dahan rumput tersebut.
Mungkin kah si Kupu-kupu, induknya yang menaruh telur di rumput liar tersebut. Dan setelah tidak hujan untuk hampir dua minggu ini, ulat pun tumbuh dan berkembang. Hii… mudah-mudahan tidak jadi wabah, ya. Serem kalau begitu…
Tinggal menunggu waktunya tiba...
Haha, jadi ingat waktu kecil dulu, ada ungkapan yang bilang kalau kita jadi orang tidak boleh pelit. Kalau pelit, nanti matinya jadi ulat bulu.
Ungkapan atau perkataan atau apalah namanya yang dulu cukup ampuh buat menakuti dan mengajari anak-anak kecil, termasuk ketika saya kecil dulu. Saya tidak mau membahas ini benar atau salah. Hanya saja saya jadi teringat ungkapan tersebut ketika menulis cerita ini.
Hmm, saya agak menunggu, sih proses selanjutnya dari si Ulat. Kalau tidak ada hewan lain yang usil atau pun memakan ulat itu, saya pengen lihat bagaimana ulat itu berubah menjadi kepompong lalu menjadi kupu-kupu.
Kalau tidak salah dari waktu menetas menjadi ulat hingga menjadi kepompong butuh waktu sekitar 7-14 hari. Saya ingin tahu, benar atau tidak dugaan jika si Ulat tadi cikal bakal kupu-kupu bersayap hitam dengan totol kuning cerah.
Hmm, ya, mari kita ihat sama-sama, yuk, hehe. Kalau nanti terasa menarik, akan saya tuliskan lagi kelanjutan cerita ini.


Comments
Post a Comment