Tuesday, 19 February 2013

Capung

Agak heran sih. Hari ini, tidak seperti biasa, ada capung nyasar masuk ke dalam rumah. Padahal baru beberapa hari yang lalu nonton acara di Trans7 tentang capung. Maaf, aku lupa nama acaranya. Pastinya acara itu tayang siang hari dan membahas tentang dunia hewan gitu.


Ok back to the capung tadi, si Capung tersebut awalnya nengkreng dengan manis di dinding ruang makan. Capung itu bewarna merah dengan sayap transparant yang ada sedikit motif warna biru dan kuning.

Melihat itu capung, aku jadi flashback ke some years ago. Saat aku masih kecil, yah jaman-jaman SD dulu lah. Aku, adikku, plus sepupu-sepupuku suka nangkapin capung bareng-bareng. Kami buat semacam jaring, tapi tidak berlubang,  dari plastik es yang dililit dengan lidi di tepi-tepinya. Lalu ujung lidi itu di tancapin di sebatang kayu pohon singkong. Nah, mulai deh hunting capungnya,:).

Dulu capung mudah sekali ditemui. Makanya sampai bisa ditangkap-tangkapi untuk dipegang-pegang, disuruh makan daun, dijadikan mainan. Tidak seperti sekarang. Jarang banget ketemu atau melihat capung terbang ke sana sini. Hmm, mungkin karena dulu, daerah tempat tinggalku ini masih banyak pohon kali ya. Sehingganya banyak capung yang hinggap dan nyari makan.

Oh iya, di daerahku, setidaknya dulu, kami menyebut capung itu 'kinjeng'. Hmm dari bahasa apa ya itu,? Mungkin bahasa jawa kali ya. Ada kinjeng rajo, kinjeng merah, kinjeng putih, kinjeng tawon, kinjeng jarum, ahh macam-macam dulu kami menyebutnya. Memang dulu ada banyak macam kinjeng yang bertebangan. Aku tidak tahu siapa yang mengajari untuk menyebut seperti itu.

Baiklah aku akan menceritakannya satu per satu. tetapi ini kinjeng atau capung yang aku ingat saja ya. Pastilah di luar sana ada banyak macam yang lainnya.

Pertama kinjeng rajo adalah kinjeng yang ukurannya lebih besar dari kinjeng-kinjeng lain, dan berwarna hitam. Gerakkan kinjeng satu ini lambat, tidak gesit. Jadi paling mudah untuk ditangkap. Jadi tak payah pakai perangkap, langsung pakai tangan aja bisa.


Lalu ada kinjeng merah dan kinjeng putih kekuning-kuningan dengan sayap putih transparan, itu jenis yang paling sering ditemui. Tidak terlalu gesit, tapi lebih gesit daripada kinjeng rajo. Dnamakan seperti itu berdasarkan warna tubuhnya.Walaupun ada juga 'kinjeng merah' yang lainnya.


Selanjutnya kinjeng tawon, kinjeng ini mempunyai warna sayap/tubuh seperti tawon (lebah). Jadi berbelang hitam kuning seperti itu. Nah ini kinjeng yang paling gesit dan awas banget. Susah nangkapnya. Tetapi kalau tertangkap, wah, bangga nya pake banget, haha.


Nah, satu lagi kinjeng yang bikin bangga kalau bisa menangkapnya adalah kinjeng merah. Kinjeng ini seluruh tubuhnya berwarna merah termasuk hingga ke sayapnya. Kinjeng ini gesit minta ampun. Oh ya, tetapi entah kenapa kinjeng ini juga cukup atau malah cukup susah untuk ditemui. Jarang jarang jaraang banget deh bisa nangkepnya ketika dulu itu.


Dan last but not least, kinjeng jarum. Aku paling suka kinjeng ini. Karena bentuknya tidak seperti kinjeng lainnya. Dia kecil seperti jarum. Suka hinggap didahan-dahan tanaman katuk atau yang penuh dengan daun hijau. Warnanya pun bermacam-macam. Yang paling menakjubkanku, adalah warna biru. Ahh cantik sekali pokoknya. Terkadang susah, terkadang mudah menangkapnya.


 Hmm, kemana ya sekarang kinjeng atau capung-capung dulu itu. Sudah jarang sekali aku temui. Apa karena pepohonan dan tanaman yang kini semakin berkurang? Dan ditambah pula masa hidup capung yang singkat? Iya singkat, karena dari info yang kudapat, capung yang masih berbentuk larva, memang dapat bertahan hidup selama 6 bulan, tetapi ketika sudah menjadi capung, masa hidupnya hanya sekitar 4 bulan. Ahh ntah lah, hmm.

Well, back to Capung merah yang ku ceritain di atas tadi, ntah kenapa, jadi nyasar ke kamar aku. Dengan nyantainya nengkreng di dekat lampu kamar. Dan ini capung alias kinjeng merah, betahnya bemalam di kamar ini. Ketika pagi masih ada ku lihat itu kinjeng. Ini hasil jepretanku ke si Kinjeng tersebut:


Hai kinjeng merah, salam ya buat teman-teman kamu yang lainnya, :).

[17 Februari 2013]

No comments:

Post a Comment