TENTANG MANGGA DAN AIR ZAM ZAM | BUKAN KEBETULAN #1
Saat itu Bapak suka sekali beli mangga. Bawa pulang sekilo, dimakan sehari dua hari, terus habis, beli lagi.
Bapak suka makan buah
Pernah beliau cerita, waktu kecil dulu, mau makan mangga langsung ambil dari pohonnya. Dikupas pakai gigi, tanpa pisau. Biasanya dulu Bapak makan mangga bareng teman-teman masa kecilnya. Tetapi sekarang, beda sudah caranya. Bapak lebih rapi.
![]() |
| sumber unsplash |
Beliau kupas mangga pakai pisau dan dibasuh dengan air matang. Kemudian dipotong-potong dadu, ditempatkan di sebuah wadah plastik bekas es krim gitu, wkwk.
Bapak memang paling jago yang namanya mengupas dan memotong buah. Pastinya bukan cuma mangga. Buah lain seperti nanas, pepaya, bengkuang, kedondong, semangka, sampai singkong, dikupas potong sampai selesai, tuntas, rapi.
Saya coba ikutan makan mangga
Mari kita balik ke cerita mangga tadi. Ritual selanjutnya setelah potong memotong dan penempatan, langsung deh ambil garpu. Bapak kalau makan buah potongan gitu pakai garpu. Dan mulai beliau panggil Emak, saya dan adik. Semua yang ada di rumah ini diajaknya makan mangga bareng.
Sebenarnya saya tidak terlalu suka mangga. Aromanya aneh dan lidah tidak biasa dengan tekstur daging buahnya. Tetapi karena yang lain pada makan, saya pun ikutan icip-icip. Yah itung-itung membiasakan lidah dengan buah ini. Dan setelah beberapa kali icip-icip, lumayan. Saya mulai suka mangga.
Ada satu hal unik lainnya saat ritual makan mangga bareng ini. Emak pasti bakal cerita (lagi dan lagi) tentang khasiat mangga. Emak bakal bilang, "mangga ini bagus buat kesehatan, bisa menambah daya ingat."
Beliau dapat ini dari hasil menonton iklan jus buah kemasan yang dibintangi sama Darius Sinatrya itu loh, wkwk. Terlepas dari itu semua, Emak adalah perempuan yang suka membaca, menonton, mengamati dan pintar sekali berlogika serta berbahasa. Dan beliau punya seribu kebaikan lainnya. Saya bersyukur jadi anak Emak dan Bapak.
Lanjut cerita
Setelah berhasil menyukai mangga untuk sebulan dua bulan, saya kembali tidak mau makan mangga. Kali ini bukan karena tidak suka, tetapi karena saya kena sakit.
Berawal dari makan mangga bareng seperti biasanya. Ehh, gak taunya sehari atau dua hari kemudian, ujung bibir saya sebelah kanan menjadi kering keputih-putihan, seperti kapalan gitu.
Saya masih santai, masih berpikir mungkin kering karena kurang minum dan ini akan segera hilang. Akan tetapi perkiraan saya salah, hiks.
Kulit kering di ujung bibir menjadi makin parah, basah, perih, dan luka. Emak bilang, mungkin bibir saya terkena getah mangga yang dimakan tempo hari.
Waktu Emak kecil dulu, sering diberi tahu, kalau lagi makan mangga, hati-hati sama getahnya. Jangan terkena bibir, bisa bikin korengan.
Hiks, mungkin tak sengaja, ada sedikit getah yang menempel di potongan mangga yang saya makan, dan itu kena ke sudut bibir saya, huwwaaa. Mau nangis rasanya.
Walaupun tidak terlalu kelihatan, dan mungkin orang lain tidak ada yang menyadarinya, tetapi ini tetap membuat saya merasa malu apalagi kalau beraktivitas di luar. Saya pun berinisiatif untuk mengolesinya dengan madu.
Kebetulan madu yang Bapak beli bulan lalu masih ada. Saya coba rutin oles tiap hari. Tetapi kok tak kunjung sembuh?
Saya jadi curiga. Jangan-jangan, madu ini madu campuran. Bukan madu asli. Karena dari berbagai sumber yang saya baca, madu adalah obat dari berbagai macam penyakit.
Lagian Bapak juga pernah bilang, madu ini murah harganya. Dapat 1,5 liter madu dengan harga Rp.75.000 saja. Astaga, jadinya malah suudzon, deh.
Jadi harus bagaimana?
Aduh, makin bingung lah diri ini. Bagaimana ya biar cepat sembuh? Lukanya tambah hari tambah parah. Jangankan makan yang berkuah, hanya membuka mulut untuk menguap atau bilang A, terasa sulit dan perih. Huhuhu, :'(
Hingga tibalah suatu hari, salah seorang Mbah (Nenekku) baru pulang dari berhaji. Saya memanggil beliau Mbah Wiwik. Beliau adalah adik dari Mbah kandung saya atau adik dari bapaknya Bapak saya. Haha, bingung, gak tuh? Kalau kamu kenal saya secara personal dan pernah main ke rumah, pasti gak bingung lagi. Ok lah, abaikan silsilah ini, wkwk.
Pastinya si Mbah baru pulang berhaji dan membawa bermacam oleh-oleh. Salah satunya yang khas sekali, air zam zam donk. Masing-masing keluarga mendapatkan sebungkus kecil air zam zam beserta berbagai macam oleh-oleh lainnya. Nah, di sinilah rahmat Allah mengenai kesembuhanku datang, Alhamdulillah.
Well, karena merasa madu tadi tidak asli atau campuran serta tidak terlalu membawa hasil, saya mulai berpikir mencari alternatif obat lainnya. Saya memang tidak membeli obat kimia di apotek untuk luka kali ini. Sebab saya merasa masih bisa menahan luka ini dan juga tidak mau memporsir ginjal untuk menyaring zat kimia yang mungkin tersisa kalau minum obat dokter.
Kalau memakai saleb dan sebagainya, saya malah takut merusak kulit. Makanya alternatif kemarin pakai madu, walau keaslian madunya masih diragukan.
Ketemu air zam zam
Dan siang itu, saya yang lagi haus, berjalan menuju meja makan untuk minum segelas air. Ketika minum, mata tiba-tiba tertuju kepada pelastik kecil yang diletakkan berdekatan dengan plastik berisi kurma dan kismis. Yup, plastik kecil itu berisi air zam zam, oleh-oleh si Mbah kemarin.
Hmm, saya mulai berpikir begini. Air zam zam katanya adalah air yang memiliki kelebihan. Berbeda dari air lainnya karena mengandung unsur kesehatan yang lebih banyak. Ada banyak cerita beredar kalau air ini juga bisa dipakai buat obat. Lantas, mengapa tidak sayacoba saja, kan?
Akhirnya saya mengambil plastik berisi air itu dan membukanya. Lalu menuangkan sedikit isinya ke dalam gelas yang sudah kosong. Saya pun lalu berdoa kurang lebih seperti ini:
Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah, hamba mohon ampun atas segala dosa-dosa hamba. Ya Allah, hambaMu ini sedang sakit. Angkatlah penyakit ini ya Allah. Jadikan air zam zam ini sebagai perantaraMu untuk menyembuhkan penyakit yang hamba derita ini. Tiada sekutu bagiMu ya Robb, Tuhan hamba Yang Maha Agung. Perkenankanlah ya Allah. Aamiin.
Lalu saya pun meminum seteguk dua teguk air zam zam tersebut. Kemudian kembali melanjutkan aktivitas.
![]() |
| sumber google image |
Bagaimana hasilnya?
Hingga esok hari pun datang. Saya terbangun dari tidur, dan sadar jika sakit ini belum sembuh. Masih dengan luka mengering yang perih di sudut bibir ini. Luka yang menjadi basah ketika minum, makan, bahkan hanya sekedar menguap.
Belum lagi jika terkena air saat mandi dan menyikat gigi. Aduhai! Harus hati-hati sekali rasanya. Yang sakit mungkin hanya di sudut bibir, tetapi seluruh bagian tubuh merasakan dampaknya.
Lanjut cerita, di hari ini Emak bilang kalau besok beliau minta ditemani mencari sesuatu di Pasar Besar. Saya tidak terlalu ingat lagi barang apa yang hendak dibelinya. Tetapi saya iyakan saja ajakan Emak.
Walau saya tahu, ini bibir masih seperti ini keadaannya. Ya sudahlah, cuek saja. Anggap kalau di tempat umum nanti tidak ada yang menyadarinya, haha. Harapan saya sih gitu yaa. Padahal jelas banget itu luka nyempil di ujung bibir.
Keesokan harinya, saya, dan Emak pergi ke pasar naik angkot. Nanti setelah turun di terminal atau di titik tertentu, kami berjalan menyusuri pasar dengan berjalan kaki.
Adik saya tidak ikut. Sebenarnya dia tidak terlalu suka jalan kaki. Tetapi kali ini bukan karena itu dia tidak bisa ikutan. Melainkan karena ada kuliah yang harus dihadiri di kampusnya.
Begitulah, pasar yang kami tuju masih original. Maksudnya bukan berbentuk mall. Masih pasar yang di dalamnya ada proses tawar menawar. Pasar yang sudah ada sejak dulu, jauh sebelum mall-mall di bangun.
Pasar yang umurnya lebih tua dari umur saya. Sudah ada sejak zaman Emak kuliah. Entah mengapa kami menyebut tempat itu Pasar Besar. Sepertinya bukan nama resminya. Namun sejak saya kecil, begitulah lingkungan menyebutnya.
Maaf jadi melantur, haha
Intinya begitulah, hari berganti. Hari esok pun tiba. Bersiap pergi ke pasar. Dan ternyata apaahh???
Rupanya sakit dan luka perih di sudut bibir ini makin terasa parah daripada hari sebelumnya. Kali ini bahkan untuk membuka mulut untuk bicara, susah sekali. Susahnya karena terasa perih minta ampun.
Akhirnya mau tak mau saya banyak diam dan kalau bicara pun a.la priyayi gitu. Ehh, bener gak ya itu namanya a.la priyayi? Hehe.
Maksudnya saya bicara dengan bibir yang sedikit terbuka. Kalau bisa sedikit celah yang dibuat, semakin baik. Apalagi kalau gigi pun ikut tak terlihat saat bicara. Itu lebih baik lagi. Semoga kebayang lah seperti apa perihnya luka di bibir ini di hari itu.
Sebab kemarin sudah mengiyakan untuk menemani Emak ke pasar, walaupun dengan kondisi seperti ini, saya tetep pergi juga. Mungkin saya-nya juga kali ya yang lagi pengen jalan-jalan, haha. Ok dan begitulah. Kami ke pasar dari pagi menjelang siang dan saat siang menjelang sore baru balik ke rumah lagi.
Kesimpulannya hari itu saya habiskan dengan menemani Emak belanja. Lalu pulang dan bla bla bla. Hingga esok harinya lagi datang. Dan kalian tahu? Di sini sesuatu yang bernama keajaiban itu, menghampiri saya.
Alhamdulillah
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Hari itu saya bangun pagi dan Eng Ing Eng, penyakit saya telah sembuh!! La la la la!
Asli, benar-benar sembuh. Tak ada lagi rasa sakit ketika aku minum, makan, mencuci muka, menguap, atau bahkan bicara. Masya Allah.
Saya tidak tahu ada proses apa ketika tidur tadi malam. Bahkan bekas kulit yang mengelupas karena luka itu pun tidak saya temukan. Keajaiban sekali, kan?
Saya bersyukur sekali kepada Allah ta'ala. Ini benar-benar nikmat. Jalan keluar setelah kesusahan seperti di firmannya QS Al-Insyirah, 5-6:
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."
Dan mungkin ini juga salah satu bentuk nyata khasiat air zam zam yang saya minum dua hari yang lalu. Yup, baru selang dua hari minum air tersebut. Atas izin Allah, mungkin air itu jadi perantara kesembuhan. Dan tetap Allah yang menyembuhkan. Terima kasih ya Allah. :)
Akhir cerita
Haha, dari mangga sampai air zam zam. Begitulah kisah hidup saya suatu ketika. Salah satu scene kehidupan yang harus dilalui di dalam hidup ini.
Kala itu saya juga sekalian introspeksi diri. Mungkin ini teguran sekaligus bentuk kasih sayang dari Allah terhadap saya.
Tetapi sejak itu, saya kembali menjadi Kiki yang semula. Kiki yang tidak ikutan ritual makan mangga bareng Bapak cs. Kali ini bukan karena tak suka, hanya masih belum mau aja, haha. Yah mungkin suatu hari nanti saya coba makan mangga lagi. :) [29 Desember 2012]


Mau nanya dong min, sembuhnya brp lama ya? Soalnya saya kayaknya mengalami hal yg sama
ReplyDeleteKejadiannya sudah lama. Kalau tidak salah ingat sembuh setelah 3-4 hari setelah minum air zamzam tsb. Alhamdulillah. Yang jelas saya ingat (sampai sekarang) sebelum sembuh itu, ada satu hari dimana rasa sakitnya benar-benar memuncak. Perih luar biasa. Setelah melewati hari itu, luka dan rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.
Delete