Tuesday, 1 March 2016

Review: Dead Pool (2016)

I didn't ask to be super, and I'm no hero. But when you find out your worst enemy is after your best girl, the time has come to be a fucking superhero. 

sumber

What is Hero?
Setiap orang mungkin punya jawaban masing-masing. Dan film ini memberikan definisi baru atau, ya, baru dari sisi seorang superhero. Definisinya cukup nyes dan itu, kuletakkan sebagai tagline dari postingan ini, hehe.

Minggu lalu aku sempat nonton Dead Pool bareng Ez. Film ini sudah terdengar gaungnya dari setahun yang lalu. Aku ingat beberapa cuplikan awal saat si Dead Pool itu berkelahi di dalam mobil. Ada juga kulihat memenya di 9Gag tentang dia yang menggambar sesuatu di atas sebuah kertas dan gambar itu diwarnai. Ya, superhero satu ini cukup kocak dan tampilan filmnya memang dibuat berbeda dengan film superhero kebanyakan (katakanlah semacam Captain America, Batman, Superman, dkk).

Perbedaan itu sudah terlihat di menit awal film. Credit title bergulir dengan tidak biasa. Semisal menyebut sutradara sebagai “Studio Owned Tool”. Dilanjutkan dengan beberapa joke yang terasa khas America (sarcasm at its finest). Lalu adegan pembuka, si SuperHero naik taksi yang pengemudinya akhirnya curhat dengannya, haha.

Wade Wilson (Ryan Renolds) dipercaya sebagai sosok dibalik kostum Dead Pool. Sebelumnya kita bisa melihatnya di film Green Lantern dimana banyak review negative terhadap film itu. Namun syukurlah, karirnya terselamatkan melalui film ini. Banyak yang percaya bahwa kesuksesan Dead Pool juga berkat acting si Ryan yang oke banget. Seolah memang dia terlahir sebagai pahlawan ini.

Misi Dead Pool kali ini adalah menemukan orang yang menyebabkannya tidak bisa mati. Bahkan meski kepalanya sudah tertusuk pisau sepanjang 15 cm #haduh. Tubuhnya mampu beregenerasi secara cepat. Namun butuh proses yang panjang dan menyakitkan hingga dia bisa mendapatkan kekuatan ini. Bahkan Wade menganggap bahwa kekuatan ini adalah kutukannya. Karena ini, dia pun harus meninggalkan kekasihnya dan menyembunyikan sosoknya dibalik kostum.

Ya, bisa ditebak, dia adalah hasil eksperimen yang dilakukan oleh Francis (Ed Skrein). Ada agensi terselubung yang menghubungi para penderita kanker dan mengatakan mereka mempunya obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Wade merasa ini adalah pilihan terbaiknya. Dia harap bisa sembuh agar punya waktu lebih lama untuk dihabiskan bersama kekasihnya Vanessa (Morena Baccarin).

Agensi ini memaksa tubuhnya bermutasi dengan menyuntikkan serum lalu disiksa dan disiksa. Dan memang, suatu kali mutasinya berhasil dan dia sembuh. Bahkan dia mempunyai kekuatan mutan. Namun efek yang ditimbulkan tidaklah baik. Seluruh jaringan kulitnya rusak dan mengubah penampilannya. Seluruh kulitnya merah dan berparut seperti jaringan kulit yang terbakar api. Akankah Vanessa mau menerimanya kembali?

Francis mengatakan padanya bahwa dia bisa mengembalikan kulit Dead Pool menjadi lebih baik. Mungkin lewat operasi plastik, kali, ya, hehe. Dia pun percaya. Namun karna suatu insiden dan mereka juga saling bertengkar, dia kehilangan jejak Francis. Dan begitulah konflik terus bergulir. Francis juga mutan dan dia hampir sama dengan Dead Pool yang memiliki kecepatan beregenerasi. Namun terlepas dari itu, aku malah penasaran siapa sebenarnya dalang di balik proyek tersebut? Siapa pemilik agensi tersebut sebenarnya?

Apa ceritanya terlihat serius? Iya.
Akan tetapi, seperti yang kubilang sebelumnya, film ini dikemas dengan kocak. Apalagi sewaktu dia membuat kostumnya tersebut, mengapa dia lalu memilih warna merah. Haha, aku ingat sekali adegan itu. Dan alur film ini maju mundur serta memakai sudut pandang orang pertama alias langsung dari sisi Dead Pool-nya. Film ini membawa kita ke gelaran aksinya menangkap Francis sembari flashback mengingat masa lalunya dan apa penyebab konflik tersebut. Jadi, jangan bayangkan gloomy atmosphere kayak di film Batman, atau seserius Captain America. Semua berjalan kocak. Kamu pasti akan dibuat tertawa. Well, setidaknya aku begitu sewaktu menonton film ini.

Ayo, bagi yang belum, langsung tonton aja, ya, filmnya. Eh, tapi, siap-siap juga buat adegan kekerasan di dalamnya yang cukup sadis. Anyway, have a good time, fellas!. :D

No comments:

Post a Comment