Thursday, 6 November 2014

Review: Manusia Setengah Salmon

Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti


gambar diambil dari sini


Apa yang terpikir di benak kalian ketika mendengar judul film ini? Well, kalau aku gak ngeh ini film Raditya Dika, aku mengira ini film drama serius bukan drama komedi. Yea, beberapa kali aku menonton film Dika (termasuk yang terbaru: Malam Minggu Miko), masih ada satu atau dua hal yang kurang halus dari film tersebut. Adapun hal yang kurang halus itu dari segi acting atau peran, music/suara, serta jalan cerita. Beberapa filmnya terasa mentah walaupun unsur komedinya keren banget dan gak norak.

Namun ketika kamu menonton Manusia Setengah Salmon, well, aku rasa ini film Dika yang terbaik. Semua terasa pas, lumayan halus, dan oke sebagai film layar lebar. Film ini sebenarnya tayang pada tahun 2013. Namun aku-nya saja yang baru nonton gratisan di tivi. Haha, iya ada salah satu stasiun tivi swasta yang menyangkan kembali film ini. Dan, yea, gak rugi nontonnya.



Jalinan cerita di film ini rada padat dari yang biasanya. Di film ini, Dika dan keluarganya akan pindah ke rumah baru. Sebenarnya dia gak mau pindah, karena rumah tersebut memiliki banyak kenangan tentang masa kecilnya. Namun satu dua alasan, membuatnya menyetujui rencana keluarga untuk pindah rumah. Dika memandang kalau pindahan rumah itu sama halnya dengan move on dari mantan, punya supir baru, menulis buku dengan kisah yang baru, plus berganti peran antara orangtua dan anak. Semua digambarkan dengan ringan namun padat dan mengasyikan.

Ya, lumayan seru menonton film ini. Aku pun jadi berpikir untuk membeli bukunya. Haduhh, tiba-tiba terbayang dengan tumpukan buku yang harus segera dibaca. Susahnya mengatur waktu dan diri sendiri ini. Oke, skip. Review ini mulai meng-gaje! See ya on next post.

No comments:

Post a Comment