Friday, 6 June 2014

Biodata Konyol si Santri (Jangan) Galau

Tulisan ini dimulai di suatu malam yang tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Karena seharian matahari bolak balik antara sembunyi di balik awan dan memplototi Bumi. Aku menulis ini dengan nyala lampu kamar yang sudah ku matikan. Hingga hanya nyala smartphone yang menerangi mata dan muka. Aku menulis ini sendirian tanpa teman manusia yang duduk atau mengintipku. Jika ada yang mengintipku sekarang, mungkin manusia itu akan ngeri sendiri. Wajahku tersorot cahaya smartphone. Teringat akan film di mana seorang pelakunya menakuti seorang pelaku lainnya dengan menaruh senter di bawah wajahnya. Aku merasa itu konyol. Namun pasti ada yang latah dan merasa ketakutan pula. Entahlah.

Dan aku hampir lupa. Jika saat ini seharusnya aku menulis tentang orang lain. Tentang anak manusia yang bernama Helmi Rafi Jayaputra. Bagaimana awal mula aku seharusnya menulis tentang dia dalam suatu bentuk biodata konyol? Oke, beberapa paragraf lagi untuk awal mula ku mengapa aku akan menulis sesuatu tentang anak manusia yang satu ini.

Di malam yang entah apa rasanya ini, aku belum bisa terlelap. Dan mataku masih sedikit basah karena sesuatu yang sulit ku jelaskan. Aku sendiri menanyakan titik terang dari apa yang baru saja aku tangisi. Air mataku keluar di kamar ini bersama ngengat coklat atau katakanlah kupu-kupu yang nyasar masuk ke dalam kamar. Entah apa mau serangga bersayap itu. Aku tidak menanyainya.

Aku kebas dalam merasai hari libur. Jika ada yang bersorak ketika weekend semacam Jumat Sabtu atau Minggu datang. Lalu ada yang menggerutu ketika Monster Day a.k.a Monday atau Senin itu kembali. Aku kebas dengan semua itu. Bagiku sama saja antara Senin ke Minggu atau Minggu ke Senin. Namun aku sedikit iri dengan yang bersorak kepada weekend. Aku iri ingin merasai lagi nikmatnya weekend. Apakah kamu tahu mengapa aku kebas dan iri seperti ini? Silakan beri tebakan terbaikmu!

Berawal dari tangis kebas dan iri aku melancong ke dunia maya yang katanya sangat luas tak terbatas. Aku mampir di kawasan yang isinya penuh aneka informasi lomba menulis. Dan dari situ terdamparlah aku ke blog Santri Jangan Galau yang bernama asli (seperti yang sudah kutuliskan sebelumnya) Helmi Rafi Jayaputra. Ada kontes menarik, menuliskan biodata tentang dia. Aku gak ngerti apa yang bisa ku ceritakan. Namun aku memaksa untuk menceritakan tentang si Helmi ini. Aku cerita berdasar apa yang ku baca. Aku bercerita melalui tulisan dan kata-kata yang dia susun di dalam blognya.

Hal pertama yang aku tahu Helmi ini seorang santri. Aku tahu karena menebak saja. Alamat blognya santrigalau.blogspot.com. Jadi langsung ku simpulkan saja dia santri dan pernah bersekolah di pesantren. Mengenai kegalauannya, aku juga gak tau itu soal apa. Aku belum menanyainya. Aku juga saat ini habis menangis. Dan sampai di kalimat ini, kupu-kupu coklat itu masih melompat-lompat berisik.

Dari gambar di header blog, aku menyimpulkan sesuatu. Kamu santri yang memakai kacamata (sepertinya dengan lensa yang lumayan tebal) berbingkai hitam. Ada apa dengan matamu? Apakah kamu jarang makan wortel seperti yang kelinci makan itu? Atau karena kamu tidak playboy seperti kelinci makanya kamu tidak makan wortel sehingga matamu jadi berkacamata? Aku gak ngerti. Kamu lah yang tahu awal mula kenapa kamu berkacamata.

Aku scroll down blognya dan menjumpai tulisan tentang info lomba ini. Aku harus tahu dulu dengan jelas ini lomba dari si empunya. Dan apa hasilnya? Bermuara pada satu kata: bingung. Aku bingung apa yang dia mau untuk ku tuliskan. Oleh karenanya ku skip dan langsung ku scroll down lagi ini blog. Aku mampir di postingannya yang berjudul Adalah Sejenis Percakapan dalam Buku Tulis.

Tidak begitu jelas ini tulisan tentang apa. Namun ketidak jelasan ini menarik. Bukan ketidakjelasan yang tidak jelas. Aku menikmati percakapan mereka meskipun dengan tampang melongo cantik. Hingga ku berani menarik suatu pertanyaan berkenaan dengan postingannya ini. Hmm..masa iya si Helmi ini maho? Atau Dzimar adalah seorang perempuan? Yup, itu pertanyaanku untuk kamu Helmi akibat dari membaca postinganmu yang itu di malam yang entah apa rasanya ini dan di kala aku habis nangis serta kupu-kupu coklat yang masih melompat-lompat berisik.

Lanjut ku ke halaman selanjutnya. Aku singgah ke postinganmu yang lainnya. Postingan itu berjudul Hidupitu adalah Hidupku yang sedang Bernyanyi. Aku baca paragraf pembuka. Masih biasa. Belum ada bentuk-bentuk absurd dari kalimat-kalimat yang kamu susun di postingan sebelumnya. Hingga kamu tuliskan lirik-lirik lagu yang baru saja kamu ciptakan. Lagu tentang langit biru dan burung yang nangkring di kabel listrik. Lagu tentang hidup. Itu lagu yang indah. Indah karena aku suka deretan kata dan makna di barisan lirik di lagu itu. Kata-katanya sederhana. Dan kesederhanaan bisa serta merta dengan mudah menjadi keindahan. Sepertinya kamu suka seni. Ya, entahlah. Aku cuma menebak saja.

Lanjut aku masih mencari tahu tentang kamu agar biodata yang sedang kutuliskan ini mempunyai isi. Aku mampir lagi di postinganmu tentang Pidi Baiq. Aku kira dia beneran Ayahmu. Karena ada lirik tentang Pidi Baiq di lirik lagu yang ku baca sebelumnya itu. Namun semakin ku baca, makin absurd menjadi-jadi.

Selain tentang Pidi Baiq, ada juga Ayah lainnya yang kamu ceritakan. Dan lagi-lagi ku tebak saja ya, sepertinya mereka bukan beneran Ayahmu. Ya ya, bisa saja tebakan ini salah. Tapi kutuliskan saja apa yang terlintas saat ini. Kamu juga begitukan. Suka langsung menuliskan apa saja yang terlintas. Tanpa perlu repot menyusunnya lagi jika ada yang berantakan atau lari-lari. Cerita-cerita kamu liar; antara ingin berbagi penuh dengan berbagi sedikit dibatasi.

Sejauh ini apa kamu bisa mengerti tulisan ku tentang bioadata mu ini? Jika kamu bingung dengan tulisanku yang sedang kamu baca saat ini, percayalah, aku juga mengalami kebingungan yang sama saat membaca postingan di blog kamu itu. Akhirnya bersama kupu-kupu coklat yang entah kenapa kali ini tidak lagi berisik, aku meniru, menulis dengan gayamu menulis. Tidak akan sama persis, namanya saja tiruan. Namun sepertinya aku menyukai hal absurd seperti ini. Ya, aku menyebutnya -absurd-, apa kamu setuju dengan sebutan itu? Terserah saja. Seperti tokek atau cicak yang terserah mau berbunyi beberapa kali di malam yang semakin larut ini.

Aku melompat-lompat dalam membaca postinganmu. Dan masih ada postinganmu lagi yang mau ku ceritakan. Untuk menulis biodata ini, aku hanya mau peduli dengan postinganmu di tahun 2014 saja. Aku berhenti untuk yang tahun 2013 karena aku mengalami kesedihan yang dalam terlebih menjelang akhir tahun itu. Jadi dengan egois, meskipun tidak ada hubungannya dengan postinganmu yang tidak bersalah itu, aku akan tetap mengabaikannya. Setidaknya mungkin untuk malam ini. Boleh jadi, aku akan berubah pikiran lagi esok atau lusa jika umur masih ada dan kesempatan untuk membuka blog mu juga masih ada. Ehh, kupu-kupu coklatnya masih melompat-lompat lagi. Ku kira tadi dia sudah tidur panjang akibat menghirup asap tak kasat mata dari mat elektrik yang sedari tadi ku pasang sebagai anti nyamuk.

Ada beberapa postinganmu yang tidak ku buka. Hanya ku baca judulnya saja. Sedikit mengintip ke salah satu judul postingan, ternyata kamu masih muda. Masih 18 tahun 2 hari di tanggal 26 maret itu. Berarti jika kamu 18, kita berselisih 6 tahun. Aku 6 tahun lebih dulu dari kamu. Dan karena aku hanya mengintip judulnya tanpa membuka isinya, aku jadi bingung karena malas berpikir, tanggal berapa kamu lahirnya. 24, 26 atau 28 maret? Jika 24 maret, maka kamu pasti berzodiak Aries. Aku tahu bukan hanya karena aku lumayan suka astronomi. Aku tahu karena 24 Maret adalah tanggal lahir Emak-ku. Hoamm aku sudah mulai mengantuk saat menuliskan tentang kapan waktu kamu lahir ini.

Hmm..yah, walaupun postingan tahun 2013 tidak aku baca, aku melihat beberapa judulnya yang tentunya dengan tidak sengaja. Kamu ada ikut lomba menulis tentang kepedulian terhadap lingkungan. Di postingan kamu yang lain pun ada membahas tentang kota Tasikmalaya. Ya, lagi-lagi aku menebak. Kamu ini berasal dari Tasik. Kamu lahir, tinggal dan besar di sana.

Dan kamu menyukai alam. Aku masih teringat tentang lirik lagumu itu. Kamu terus berbicara tentang hidup dan apa yang alam bicarakan tentang hidup. Ku rasa hidup memang pertanyaan yang singgah ke hampir semua kepala manusia. Aku juga menemukan burung dan kupu-kupu di alam. Nah, makanya aku menebak kamu ini pecinta alam liar, alam yang masih asri, terlindungi. Alam yang tanpa kerusakan yang dibuat oleh makhluk bernama manusia.

Helmi, malam semakn larut dan sebaiknya aku berangkat tidur. Biarlah kupu-kupu coklat itu melompat berisik. Toh aku juga tidak melihatnya karena lampu kamar telah mati. Aku dapat mendengarnya jelas melompat-lompat dengan sayapnya itu lantaran malam larut ini telah semakin sunyi. Dan kupu-kupunya tidak jauh dari kasur tempat ku berbaring saat ini. Mungkin begitu saja yang bisa ku ceritakan tentang kamu. Benar tidaknya, kamu lah yang bisa memastikannya. Itu hanya tebakan. Dan jika ada beberapa atau banyak kata dalam tulisan ini yang membuatmu galau dan ingin mengamuk, anggap saja itu salam perkenalan dariku. Jangan di simpan di dalam hati karena nantinya hatimu malah penuh dengan hal yang biasa. Sementara hati adalah tempat penyimpanan untuk sesuatu yang luar biasa.

Aku hanya sedang bermain tebak-tebakan dengan kamu, salah satu penghuni dunia maya yang sempat aku temui. Oke. Saatnya menyimpan tulisan ini. Oh ya jika kamu sedang melancong di dunia maya, boleh saja mampir ke rumahku. Perihal alamatnya, silakan cari sendiri. Wassalam.


 

No comments:

Post a Comment