Tuesday, 19 August 2014

Review: Teenage Mutant Ninja Turtle

So, you're... Ninja Mutant Turtle Teenagers?


Film ini mengingatkanku pada masa kecil dulu. Ada sebuah majalah komik yang kulupa namanya. Di majalah itu ada beberapa kisah komik dari Barat. Jadi bukan komik Jepang namun bukan pula Donald Bebek. Ada cerita tentang Smurf dan ada cerita tentang ini, Kura-kura Ninja. Adegan di komik itu adegan bersambung atau dalam artian itu adalah seri-seri awal dari petualangan mereka yang kulihat. Adegannya adalah si Tikus (yang kini kuketahui bernama Splinter) sedang mengajari para kura-kura kecil.

Aku tidak terlalu mengikuti petualangan mereka. Aku malah agak kurang suka karena mereka Super Hero yang aneh. Maksudku, kura-kura yang bertransformasi menjadi separuh manusia, diasuh oleh tikus yang berkuku panjang, dan mereka adalah ninja. What? Sungguh kombinasi yang aneh. Namun sekarang pendapatku berubah setelah menonton versi layar lebarnya. Auww..!!

Awal film sangat datar dan kupikir "oke, sepertinya akan membosankan!" Film ini dibuka dengan penuturan narator tentang asal usul these four Teenange Mutant Ninja Turtles dan Splinter (Danny Woodburn, voice: Tony Shalhoub), tikus yang membesarkannya. Kemudian disusul dengan April O'Neil (Megan Fox) yang berusaha mencari berita terbaik tentang Foot Clan untuk menaikan reputasi karirnya. Ditambah dengan pengenalan Vernon Fenwick (Will Arnett) sebagai kameramen yang naksir sama April. Begitu pula cerita asal usul ayahnya April yang dulunya bekerjasama untuk membuat antidot racun yang dapat membunuh manusia dengan si antagonis Eric Sacks (William Fitchtner) yang ternyata berkerjasama dengan antagonis lainnya Shredder (Tohoru Masamune).

Namun adegan-adegan awal yang membosankan tersebut luruh ketika April bertemu keempat Ninja berwujud kura-kura yang gokil banget. Aslii! Film ini seterusnya dibumbui dengan joke-joke keren dari mereka. Aku begitu menikmati film ini hingga tak sempat berkomentar atau mengganggu Ez yang duduk menonton di sebelahku. Rasanya film ini mengalir dengan ringannya dan aku jadi gemes sama para teenage mutants itu. *hugs*

Jika dulu sewaktu kecil aku menjadi bingung dan males banget mengikuti ceritanya karena beberapa hal di atas, sekarang aku tarik kembali ucapanku. Mereka lucu dan gokil (termasuk Splinter). Dulu aku sempat bingung dengan nama-nama para kura-kura ninja tersebut, namun sekarang gak lagi. Yup, nama-nama mereka diambil dari para pelukis jaman Renaisance. Oke aku perkenalkan ya, ada Leonardo (Pete Ploszek, voice:Johnny Knoxville - ikat kepala biru), Raphael (Alan Ritchson - ikat kepala merah), Donatello (Jeremy Howard - ikat kepala ungu), dan Michael (Noel Fisher - ikat kepala orange). Haha, aku benar-benar terdiam dan malah Ez yang mengajakku berceloteh. :D

Haha, scene terbaik dari film ini ada dua. Pertama scene para Ninja tersebut yang tiba-tiba nge-Rap di dalam lift. Haha, itu kocak banget! Hampir seluruh penonton lainnya terbahak melihat adegan itu. Scene kedua adalah car chasing di daerah bersalju, menuruni bukit dan tebing. Wow! Keren dan gak biasa banget. Salut buat para tim special effect yang membuat film ini menakjubkan namun tetap natural.

Well, bagi kalian yang ingin menonton film yang ringan, penuh hiburan, happy ending, dan memberi pelajaran yang ok, ayo nonton film ini. Mungkin awal film agak membosankan, namun seterusnya film mengalir cepat dan asyik banget. Abaikan saja kameramen yang naksir April, hehe (gak deh, jahat banget, yak). Namun salut untuk akting dari pemain lainnya. Mereka total dan membuat suasana film ini hidup. Skoring musiknya pun pas dan tidak berisik atau berlebihan. Oke, met menonton aja, deh. Cowabunga! :D

No comments:

Post a Comment