Wednesday, 23 July 2014

Go to Tungkal

Ini berawal dari ajakan temanku yang manis, Clebubb Dedew. Sebenarnya ingin juga mengajak Clebubb Fandy dan Clebubb Bimbi. Namun ada kesibukan yang tidak bisa mereka tinggalkan.

Kuala Tungkal itu sendiri adalah salah satu kota Kabupaten di Jambi. Dewi mengajakku dan Ez untuk travel ke Tungkal naik motor. Itu memang mungkin dilakukan karena jarak antara Tungkal dan Kota Jambi tidak terlalu jauh. Jaraknya sekitar 125 km dan dapat ditempuh kira-kira dalam waktu sekitar 2,5 jam dengan kecepatan 80-90km/jam. Lagipula aku juga cukup sering mendengar Abang Alek, sepupuku yang tinggal di Tungkal, bertandang ke Jambi bersama anak dan istrinya dengan mengendarai sepeda motor, matic pula. Seperti halnya perjalanan kami ini, kami juga pakai matic, hehe.


Sebelum Berangkat…
Telah disepakati bahwa kami akan berangkat jam 7 pagi. Ketemuan di dekat jembatan atau simpang jembatan Aurduri 1. Ez ke rumahku dulu. Menjemputku dan kami akan pergi dengan motor matic-ku. Yang jadi masalah, jarak rumah Ez sekitar 20 km dari rumahku. Jika ditempuh dengan motor, kira-kira butuh waktu 45 menit, haha. Alhasil kami telat dan tempat ketemuan pun berubah. Kami bertemu dengan Dewi dan Bang Uun (cowok Dewi) sekitar pukul setengah sembilan pagi. Kami akhirnya ketemuan di rumah Dewi, haha.

Setelah ketemu, kami langsung siap-siap berangkat. Aku dan Ez mengisi bensin motor dan membeli air minum untuk bekal, sementara Dewi dan Bang Uun juga membeli minum dan membeli masker buat kelengkapan perjalanan. Sekitar pukul 9, peralatan telah lengkap dan kami pun siap jalan. Yaiiyy. :D

Di Perjalanan Menuju Tungkal…
Sepengetahuanku, hanya ada satu rute untuk ke Kuala Tungkal. Setelah melewati jembatan Aurduri 1, arahkan kendaraan ke kiri atau melewati Sengeti. Dari Sengeti terus lurus hingga sampai di simpang tiga dimana satu mengarah ke Pekanbaru atau Riau dan satunya lagi mengarah ke Tungkal. Ambil arah kanan, arah ke Tungkal. Ikuti saja jalan tersebut hingga nanti akan sampai ke gerbang utama Kuala Tungkal. Hehe, maaf ya jika penjelasan jalurnya tidak terlalu detail.

Oke lah, perjalanan ke Tungkal kali ini seru. Keseruan pertama tentunya karena naik motor. Walaupun akhirnya pan*at kami pegal-pegal semua lantaran sekitar 5-6 jam-an duduk di atas motor, haha. Oh, belum ku ceritakan ya kalau kami pulang hari. Jadi kami tidak menginap.

Keseruan yang lagi enak-enaknya dinikmati tiba-tiba berubah menjadi kepanikan. Saat di pertengahan jalan, katakanlah begitu,motorku mengalami masalah. Sementara motor Dewi dan Bang Uun telah hilang di balik kelokan jalan, motor kami berhenti mendadak di tepi hutan dan rumah penduduk yang begitu jarang. Ban motor ku pecah. Itulah dia penyebabnya, hiks.

Sempat sedikit panik, namun aku berusaha tenang. Karena menyulut kepanikan biasanya bisa menumpulkan otak, hehe. Aku dan Ez putar arah sambil membawa motor yang kempes. Kami putar arah karena melihat ada rumah penduduk tak jauh di belakang. Dan tampaklah seorang Bapak yang sedang menyapu ruang tamu rumahnya. Aku menyebrang jalan dan bertanya kepada Bapak itu dimana tambal ban terdekat. Si Bapak bilang tidak jauh dari mesjid, maju lagi ke arah sana kira-kira setengah kilo. Waduh! Tepok jidat sembari mengucapkan terimakasih kepada si Bapak.

Aku dan Ez terus menyusuri jalan dengan langkah seadanya, hingga hampir tiba di suatu warung kecil kepunyaan Bapak-Ibu sekitar situ. Kebetulan ada tukang sayur yang baru saja beranjak dari warung tersebut. Tukang sayur itu bercakap-cakap degan Ez sementara aku menyebrang jalan mendekati warung. Aku dan Ez sepakat, biar Ez yang menambal ban, sementara aku menunggu di warung tersebut. Bapak dan Ibu empunya warung dengan baik hati mempersilakanku menunggu di warungnya. Aku igin menghubungi Dewi namun tidak ada sinyal di hapeku.

Namun tak lama, ada motor yang menepi dekat warung tempat aku menunggu tadi. Dewi dan Bang Uun datang menjemput aku. Rupanya mereka menyadari kalau motor kami tak nampak lagi di belakang motor mereka. Akhirnya mereka putar balik lalu menemukan Ez di tempat tambal ban. Lalu mereka pun menjemputku di warung itu. Alhamdulillah. Lega.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Kami terus menyusuri rute yang telah ditentukan. Aku tidak tahu di daerah apa namanya, saat itu aku mulai khawatir dengan persediaan bensin motorku. Terlihat kalau bensin motorku mulai menyusut dan khawatir sebelum masuk Tungkal, motor malah mogok. Aku mengajak Ez untuk menepi dan membeli bensin, namun yang ada hanya kios PertaminaMini. Ez beranggapan jika bensin kami cukup. Namun alhasil, dia memintaku untuk bertanya dengan Dewi dan Bang Uun dimana pom bensin terdekat. Sepertinya Ez agak enggan membeli bensin dari PertaminaMini yang cukup banyak berseliweran di sepanjang jalan.

Nah, baru saja ku selesai bertanya kepada pasangan itu, ehh di depan kami telah muncul pom bensinnya. Haha, aku pun jadi ditertawai oleh mereka. Duh, lagi-lagi kekonyolanku kumat (-__-). Menepilah aku dan Ez mengisi bensin. Sementara Dewi dan Bang Uun mengaso, meluruskan badan sejenak dan minum air. Dewi sempat bertanya di mana rumah Mak Mbong (kakak Emak-ku). Aku memang lupa di mana persisnya. Cuma kata Emak –aku bertanya sebelum berangkat- rumah Mak Mbong berada di dekat Telkom, Parit 3, dekat Kampung Nelayan. Haha, masih belum jelas dimananya, namun kami melanjutkan perjalanan. Dan tibalah ke gerbang selamat datang daerah Kuala Tungkal. Yaiyy..\(^.^)/

Tiba di Tungkal…
Setelah melewati gerbang, jalanan mulai buruk. Nampak di depan gedung-gedung pemerintahannya, aspal yang berlobang dan bahkan tergenang air, –sepertinya air laut-. Genangan tersebut mulai dari yang kecil hingga yang lebar. Alhasil jalan yang seharusnya dua jalur, menjadi satu jalur. Kami beberapa kali pindah jalur untuk menghindari genangan air di jalanan yang sampai beberapa meter itu.

Saat sampai di kawasan pasar, Bang Uun sempat bertanya di mana persisnya rumah Mak Mbong-ku itu. Namun aku memang tidak bisa menemukan jalan yang pasti. Pun sudah tujuh tahun berlalu dari saat terakhir berkunjung dan menginap di rumah Mak Mbong ini. Kami pun mampir ke Bank Jambi cabang Tungkal. Di sana ada teman Bang Uun. Namanya..duh aku lupa. Nah, dari beliaulah aku bertanya di mana rumah Mak Mbong atau orang Tungkal sering menyebutnya Bidan Sebot. Berdasarkan petunjuk arah yang Abang itu berikan dan setelah bercakap-cakap sebentar, kami beranjak ke rumah Mak Mbong. Hampir saja kelewatan kalau aku tidak melihat atap rumah tersebut dari jauh. Syukurlah pula warna cat rumah Mak Mbong masih sama seperti dulu, haha. Kami pun sampai. Lantas yang jadi masalah selanjutnya adalah, apakah Mak Mbong masih mengenaliku? Hahaha..

Alhamdulillah. Akhirnya sampai di Tungkal walaupun ban sempat kempes di jalan. Akhirnya sampai juga di rumah Mak Mbong dan beliau masih mengenalku, hahaha. Abang Alek serta Kak Elin juga masih ingat aku. Kami pun dijamu sebentar di ruang depan. Disuguhi teh dan kue-kue. Rizky, anak pertama Bang Alek, mencoba ramah dan senang dengan kedatangan kami. Rizky sekarang usianya 6 tahun dan cerewet sekali, haha. Anak itu benar-benar mencoba menjadi tuan rumah yang baik. Dia mengantarkan kami untuk beristirahat di atas. Menyediakan bantal dan lain-lainnya. Cute kid, rite?. :D
Ez dan si Kecil Rizky

Jalan-jalan Seputaran Tungkal…
Setelah beristirahat sejenak dan tentunya makan siang di rumah Mak Mbong, kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke seputaran Kuala Tungkal ini. Kami pergi bermotor dan tour de Tungkal dimulai dengan berkeliling pasar atau parit-parit yang ada. Benar, warga Tungkal menyebut Parit sebagai ganti penamaan wilayah. Kami berkeliling ke pasar barang bekas atau dikenal dengan istilah BJ. Ada banyak yang dijual, mulai dari baju, tas, kursi, kasur, dan lain-lain.

Setelah puas bermotor di Pasar Parit 1 dan Parit 2, kami pergi ke Parit 3. Pasar di sini menjual beragam hasil laut dan dikenal pula dengan nama Pasar Nelayan. Sepanjang jalan dan jembatan, banyak orang-orang membentang terpal dan menjemur udang atau ikan tangkapan mereka. Mungkin maksudnya untuk membuat asinan. Di kanan kiri pun dapat dilihat juga ada banyak perahu-perahu nelayan atau lebih tepat sampat yang dikayuh menyusuri air laut yang keruh. Udara saat itu cukup panas. Bau ikan dan bau laut menyatu menjadi aroma amis yang kental. Tetapi tidak terlalu mengganggu hidung kok. :D
Jemuran udang di kanan-kiri jalan.

Mesjid di Parit 3.

Puas bermotor, kami pun singgah di tepi laut yang orang sana sebut dengan Ancol-nya Tungkal. Masuk ke ancol sini gratis. Dan mungkin karena itu jalan masuk dari gerbangnya berlubang dan becek plus lengket dengan tanah merah. Di Ancol ini ada beberapa pondok dan undakan untuk duduk-duduk. Namun ku lihat ada beberapa sampah yang berserak dan tempat yang belum diplester atau dilapisi semen. Ya, mungkin tempat ini masih dalam masa pemugaran.
Ancol ala Tungkal

Deretan pondok untuk pengunjung.

Sampah yang tidak pada tempatnya.

Di Ancol ini kami sempat bernarsis ria. Mengambil foto di sana dan di sini. Pun melihat ikan-ikan bersirip yang berjalan-jalan di atas lumpur. Benar, ikan ini unik sekali, seperti mempunyai kaki dan dapat berjalan di darat. Aku jadi ingat film Frankeinfish, deh, hehe. Ikan-ikan yang kulihat itu berjalan bersama para kepiting yang keluar masuk lubang lumpurnya. Aku sempat mengabadikan foto mereka dan juga foto langit kala itu. Indahnya gambar langit yang kala itu kutangkap.
Diatas lumpur ini, ada ikan yang berjalan.

Langit Tungkal kala itu.

Aku bareng Ez. Cheese...!

Dewi dan Bang Uun (Part 1)

Dewi dan Bang Uun (Part 2)

Apakah mereka tahu kalau mereka kena potret?

Cerita pun berlanjut. Bang Uun dan Dewi berencana pergi ke Pelabuhan Roro. Aku baru mendengar jika di Tungkal ada pelabuhan tersebut. Bang Uun terlihat beberapa kali menelpon temannya yang sepertinya tahu dimana lokasi pelabuhan tersebut. Setelah semua dirasa siap, kami bertolak dari Ancol Tungkal menuju Pelabuhan Roro.

Pelabuhan ini terletak di Parit Lima (kalau tidak salah). Dari Pasar Tungkal, kami harus berbelok beberapa kali. Jalanan yang semula aspal pun berganti dengan pasir dan kerikil. Beberapa ruas ada yang becek dan bertanah lempung. Ada beberapa kali kulihat jejeran pohon sawit di kanan kiri jalan. Kakiku sempat terciprat genangan air saat sebuah truk melintas. Lumayan. Lumayan kotornya. Air genangan itu bercampur tanah liat putih dan merembesi sebelah celanaku sebatas betis.

Kami pun tiba di Pelabuhan tersebut. Ada jalan mendaki yang tidak bisa dilalui motor. Akhirnya motor pun diparkir di depan. Seorang juru parkir liar melakukan pungli terhadap kami. Juru parkir itu meminta upah parkir sebesar Rp.2000,- plus kami harus menenteng helm kami sepanjang berjalan di pelabuhan.
Aku dan Ez di Pelabuhan Roro

Benar, ada Dewi di situ.

Ha! Kali ini ada Dewi dan Bang Uun di situ.

Angin bertiup cukup kencang. Pelabuhan ini cukup menjorok ke laut namun tidak sampai ke tengah laut. Pelabuhan ini memanjang dan sedikit berbelok dan menurun di ujungnya. Aku tidak melihat ada kapal yang berlabuh. Aku lebih suka menyebut ini dermaga. Ehh, dermaga dan pelabuhan itu sama atau tidak ya? Haha, nanti lah kulihat dulu di KBBI.

Aku pusing melihat air laut yang bergelombang di bawah pelabuhan ini. Belum apa-apa aku merasa mabuk laut pula, haha. Sore itu ramai orang yang berkunjung ke sana. Ada yang membawa pancingan ikan, ada yang bersepeda, ada yang hanya berjalan-jalan sore. Sejauh yang kulihat, pelabuhan ini cukup bersih, kecuali di bagian depan. Ada banyak genangan air dan dinding yang dicorat coret, vandalism. Ya, pelabuhan ini cukup bersih dari sampah plastic, namun ada beberapa kulihat bangkai ikan yang sedikit membusuk tergeletak di atas lantai pelabuhan tersebut.
Hmm, apa ini?

Baiklah, ini adalah kaki.

Kami tidak lama di pelabuhan ini karena hari terus semakin sore dan sepertinya mau turun hujan. Setelah puas berfoto seadanya, haha, kami pun melanjutkan perjalanan. Bang Uun pun sepertinya ditelepon oleh temannya. Ya, benar saja, kami mau ditraktir makan, yee. Dan ketika melewati jalanan kembali ke Pasar Tungkal, kakiku tidak lagi terciprat genangan air. Syukurlah.

Kami kembali ke Bank Jambi cabang Tungkal. Di sana, bos atau teman bang Uun telah menunggu. Ia mau mentraktir kami makan. Ia membawa kami ke kedai Es serut dan Mpek-mpek sepertinya. Di sana kami makan Es Teler sampai teler, haha. Es ini disajikan di atas sebuah gelas yang lebar. Aku berusaha menyeruput dan menghabiskan es yang kupunya secepatnya. Namun aku kalah cepat. Kulihat bos Bang Uun –yang kulupa namanya itu- cepat sekali menghabiskan es itu. Waduh itu lapar atau doyan, haha, piece Bos. Ez bilang, memang begitulah kalau cowok makan. Cowok normal makannya cepat. Oke deh..

Beranjak pulang dari kedai Es serut, Dewi bilang mau membeli oleh-oleh dulu. Dia juga bilang mau membeli kerupuk. Aku tidak ingat jelas, kerupuk udang atau kerupuk ikan. Namun sayangnya aku gak bisa bantu dia kasih tahu dimana tempat beli kerupuk yang enak atau recommended. Simple, karena aku sendiri gak tahu dimana tempatnya, haha. Biasanya belanja oleh-oleh ditangani sama Emak dan Mak Mbong. Alhasil Dewi dan Bang Uun membeli kerang di pasar. Aku sudah gak ingat lagi berapa harganya. Yang masih aku ingat jelas, kerang-kerang itu berlumpuran lumpur coklat hitam yang basah dan lengket. Haha, namanya juga kerang. Fresh from the sea or mud, oh ok sea-mud (?). :D

Kembali lagi kami ke rumah Mak Mbong, yang menahanku di tangga untuk mengobrol sejenak. Dia menasehatiku (melalui contoh) untuk menamatkan Al-Quran dalam satu bulan. Jadi caranya, bacalah Al-Quran itu paling sedikit dua lembar tiap habis sholat fardhu. Aku gak enak untuk memotong pembicaraannya. Jadinya Dewi, Bang Uun, dan Ez berinisiatif untuk naik ke atas dan membereskan barang bawaan kami. Tak lama mereka pun turun. Kami pun berpamitan. Oh ya, sebelumnya ada sesi timbang menimbang berat badan dulu di klinik Mak Mbong. Timbangannya model lama dan aku gak ngerti bagaimana membacanya. Mak Mbong yang membacakan untuk kami. Dan Bang Uun gak mau ikutan nimbang, haha. Mak Mbong, Bang Alek, Kak Elin serta tak ketinggalan Rizky, mengantar kepulangan kami dari depan pintu rumah. Bismillah, bye Tungkal, see ya again, someday. :D

Di Perjalanan Pulang…
Dewi dan Bang Uun sempat kehabisan bensin, namun tidak sampai mogok. Mereka berhenti dan membeli bensin di pinggir jalan. Setelah kepanasan saat berjalan-jalan di seputaran Tungkal, ternyata langit mulai gelap. Kami sama sekali tidak ada yang menyadari dan membaca keadaan langit hingga tetes hujan turun. Rasanya baru saja melewati gerbang perbatasan daerah Tungkal, hujan turun makin menggila. Syukurlah ada –katakanlah- gubuk kecil di pinggir jalan. Duh, jangan bayangkan gubuk-gubuk semacam di sinetron itu, ya. Di teras (?) gubuk itu ramai oleh traveller lainnya yang berteduh, *halah traveler, :D*.

Kami pun ikutan nyempil di bagian depan, namun terlindung. Bang Uun menyarankan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Oh God, hujannya parah, Bang! Dewi sendiri keukeuh untuk berteduh dulu. Ya, kami pun menunggu hingga hujan agak reda walaupun konsekuensinya kami kehilangan banyak waktu (mungkin ada setengah jam lebih) untuk melanjutkan perjalanan. But, ya, Alhamdulillah hujan mereda dan menyisakan gerimis. Aku dan Ez gak punya mantel, tapi Dewi dan Bang Uun punya. Setelah runding sana sini, Bang Uun meminjamkan jaketnya yang tebal ke Ez. Sementara dia sendiri memakai mantel yang mereka bawa. Terimakasih teman-teman, *hug*. Perjalanan dilanjutkan dan ketika sampai di ruas jalan ke berapa gitu (tidak terlalu jauh dari tempat berteduh, mungkin sekitar 15-30 menit perjalanan dengan kecepatan 60-80 Km/Jam), jalanan kering. Daerah situ ternyata gak dilanda hujan, OMG, hahaha.

Ya, tidak semua ruas jalan kering. Di ruas lainnya, dan ini lebih sering, kami diguyur hujan. Air merembes masuk. Kaos kaki dan sepatuku basah. Tas punggung yang kusandang sudah berpindah di depan. Ini saran dari Bang Uun. Biasanya jika hujan, tas ditaruh dekat pijakan kaki motor matic tidak akan terlalu kebasahan. Kulirik tangan Ez yang mulai pucat dan gemetar. Aku agak sedikit terlindung karena di belakang Ez. Untunglah jaket Bang Uun cukup tebal, namun tetap basah juga. Eyeliner Dewi pun juga luntur. Kami pulang dalam hujan dan malam. Ketika sampai di simpang tiga sebelum memasuki sengeti, kami menepi. Mengaso sebentar di warung kopi pinggir jalan. Bang Uun dan Ez memesan kopi gingseng, yang akhirnya malah aku yang menghabiskan kopi itu, haha. Intinya di situ kami meluruskan badan, beristirahat dan memamah semilan yang ada, haha. Kami mulai lapar.

Ketika memasuki Sengeti, hujan mulai reda. Lampu-lampu kota Sengeti membuat kami merasa agak tenang karena telah memasuki Kota dan Tungkal sepertinya sudah jauh di sana. Sekarang kami sudah lebih dekat dengan rumah. Dewi dan Bang Uun bertanya kami mau makan apa. Aku ingin yang hangat semacam bakso. Namun menimbang kami berhenti tepat di samping rumah makan yang menjual aneka macam soto, aku dan Ez sepakat untuk makan itu juga. Lagian pasti Ez dan Bang Uun sudah kelaparan. Mereka butuh nasi.

Warung soto Jakarta itu terang. Ada banyak varian soto yang ditawarkan. Soto ayam, soto daging, soto rabu, dan banyak macam lagi. Aku tertarik dengan soto daging. Namun aku ingat, biasanya hanya warung soto Medan yang menyajikan soto daging yang enak. Maka aku memutuskan makan soto ayam saja. Standar namun aman! Sementara yang memesan soto daging adalah Ez. Dewi memutuskan untuk memesan soto rabu dan setelah aku mencicipi soto yang Dewi pesan, aku memutuskan, sepertinya aku gak suka rasa rabu. Ez pun akhirnya mengeluh soto dagingnya payah. Dagingnya agak amis, jadi kurang enak. Haha, tuh kan, Alhamdulillah aku mesan soto ayam. Tapi kami tuntaskan makanan kami dengan lahap dan gak bersisa. Ketika akan melanjutkan perjalanan lagi, aku baru tahu kalau punggung jaketku kotor terkena cipratan air. Haha, aku merasa seperti $&#?%@ *disensor*. Basah dan kotor di sana-sini. :D

Alhamdulillah, perut kenyang sudah! Perjalanan pun kembali dilanjutkan. Dari Sengeti kami hanya perlu terus lurus, sambil menikmati suasana kotanya yang sudah mulai sepi. Maklum, sudah hamper jam sepuluh malam. Ditambah habis diguyur hujan pula. Dari Sengeti, kami akan sampai ke Jembatan Aurduri I. Di jembatan inilah kami berpisah. Aku dan Ez ambil arah kiri karena Ez harus mengantar aku ke rumah dulu. Sementara Dewi dan Bang Uun mengambil arah kanan, langsung menuju rumah Dewi.

Sesampainya di Rumah…
Yaiyy…! Petualangan ke Tungkal selesai sudah. Tinggal badan yang pegal-pegal. Haha..tapi seru banget. Nambah pengalaman terutama travelling pake motor. Yang pastinya kalau berjalan jauh pakai motor, pastikan kelengkapannya oke. Pakai pakaian yang melindungi seluruh badan. Gunakan sepatu plus kaos kaki daripada sandal.  Siapkan jaket dan mantel hujan yang kamu punya. Pastikan ketika diperjalanan, mata awas untuk melihat sekaligus mengingat dimana pom bensin dan tambal ban terdekat. Oh, ya satu hal penting lainnya, menepi dan istirahatlah sejenak jika badan terasa pegal dan perut mulai lapar dan haus. Oke deh, itu dia cerita jalan-jalan ke Tungkal-nya. Where ever you go, Have a nice trip, Folks!

No comments:

Post a Comment