Thursday, 12 June 2014

Tak Kasat Mata

Theo dengan sweater abu-abunya menggandeng tangan Naya. Sebelah tangannya lagi memegang ice cream yang baru saja dibelinya. Malam ini mereka berjalan-jalan menikmati keriuhan Pekan Raya Festival.
 
gambar diambil dari sini

"Naya, kamu kenapa sih bawa boneka beruang itu terus?" Theo bertanya sambil menyeruput es krimnya.
"Namanya Anne. Diingat dong, Theo!" Naya menyorongkan Anne kehadapan Theo. "Kamu sendiri, mengapa masih saja memakai topi jelek itu?" Naya balik bertanya sambil merapihkan pita biru yang melingkar di leher Anne.
"Topi ini keren, Nay. Lihat! Aku jadi lebih kerenkan dengan topi ini? Haha.."
"Apanya yang keren? Kamu saja yang tidak mau tahu," Naya menggerutu pelan.
"Duduk situ yuk, Nay! Ribet nih makan es krim sambil jalan." Theo menunjuk bangku di sisi jalan. Beberapa tetes es krim meleleh jatuh melewati tangannya. Namun tetes es krim itu tidak pernah mencapai tanah.

"Theo, sebaiknya kamu buang topi itu. Kamu sering mendadak pusingkan semenjak memakai topi itu? Topi itu terkutuk!"
"Haha..Naya..Naya,” tawa Theo berderai. “Tidak ada benda terkutuk. Apalagi cuma topi seperti ini. Sudah ku bilang, aku tidak percaya dengan yang seperti itu, Nay."
Huft! Naya hanya bisa menggembungkan pipi mendengar perkataan Theo barusan. "Seandainya Theo bisa melihatnya seperti aku melihatnya," batin Naya.

Naya menatap makhluk itu. Anak kecil berwajah pucat dengan kepala yang terkoyak. Telinganya mengeluarkan darah. Bibirnya yang pucat kebiruan sedari tadi menjilati es krim Theo yang menetes. Tiba-tiba anak itu balas menatap Naya. Memplototi tepatnya. Naya bergidik dan memalingkan muka.

Pikirannya melayang. Naya ingat saat pertama kali dia bertatapan dengan makhluk tak kasat mata yang kini terus menempeli Theo. Sebuah kilas balik terpampang di matanya. Rasanya sama seperti menonton film di layar tivi.

Anak kecil yang jahil, suka memukuli kepala teman-temannya. Suatu kali dia menyebrang jalan. Malang, sebuah minibus hitam yang sedang melaju kencang menyambar tubuhnya. Topinya terbang ke sisi jalan. Dan topi terkutuk itulah yang kini hinggap di kepala Theo.

"Bagaimana ini Ann? Theo masih saja tidak mau mendengarkanku." Naya mendengus kesal.

"Nay..Naya, kamu kok malah bicara sama boneka?" Theo tersenyum sejenak menatap Naya. Dia lalu mengamit tangan gadis bekuncir satu itu, "es krimku sudah habis nih. Kita pulang yuk, Nay," lanjutnya.

Naya mengangguk. Mereka beranjak dari bangku itu dan anak kecil yang kakinya tak menapak tanah itu ikut beranjak pula.

*****

Naya berbaring berhadapan dengan Anne di kasurnya. "Theo masih saja tidak mempercayainya. Apa ku curi lalu ku bakar saja ya topi itu, Ann?"
"Nanti saja kita pikirkan lagi, Nay. Tidurlah."
Naya menurut dan menarik selimutnya. Boneka beruang berpita biru itu masih menatap Naya yang telah terpejam. Ya, tentu saja. Dia tidak akan pernah bisa tertidur seperti Naya.

Monday Flash Fiction. Prompt #53:Ice Cream and Teddy Bear. (421 kata)

14 comments:

  1. teddy bear nya kerasukan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha..iya. Naya punya teman yang gak biasa di dalam tubuh TeddyBear-nya. Gak ngerti deh, ini sudah Creepy atau belum. Atau malah agak berantakan ini cerita. Duhh..:D Makasi sudah mampir Bang..:)

      Delete
  2. Idenya baguuuuus!!! Aku suka, Mbak. Buat aku ini udah creepy, mengerikan ya kalo ternyata ada makhluk yang ikutan nempel sama kita. *jadi parno abis baca ini
    Eh, ternyata Anne-nya Naya nggak kalah juga dong.
    Terus menulis, Mbak Rizky :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe..makasih Mbak Eugene. ;)
      Iya Mbak..keep writing dan jangan bosen mampir kemari ya Mbak. :D

      Delete
  3. Huaa, jadi serem sendiri bacanya padahal siang2. Jadi nengok kanan kiri, takut ditempelin juga, hiiy :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe..ternyata cerita ini cukup creepy untuk beberapa pembaca. Terimakasih Mbak Isti sudah mampir. :D

      Delete
  4. Jadi mikir dua kali buat punya boneka.
    anyway, mau kasih masukan, pelotot kalau diberi imbuhan me, jadi luruh. So ,memelototi, instead memplototi. CMIIW :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe..iyya Mbak, bener. :)

      Ohh begitu. Iya aku pas ngetik-nya juga agak ragu-ragu. Terimakasih masukannya Mbak. :D

      Delete
  5. Replies
    1. Benaran Bang Riga? Sebenernya bagian akhir, saat Naya bicara dengan Anne (bonekanya), itu aku maksudkan untuk jadi twist-nya Bang. Gak berasa twist ya? Haha..duhh..berarti kurang greget ya twist yang ku maksudkan itu..:D

      Delete
  6. Serem, ini. Twist-nya sih ada. Mungkin kamu mau nunjukin twist-nya itu adalah si teddy bear yang ternyata bia bicara, ya. Tapi kayaknya buat sebagian pembaca kurang mengejutkan, karena cerita sebelumnya itu lebih mengerikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm..iya nih kayaknya Mom Isti, hehe :D

      Delete