Saturday, 7 June 2014

I Do Remember

gambar diambil dari sini

Kenop pintu ruangan itu terbuka. Rama melangkah masuk. Setelah menekan saklar, satu persatu lampu ruangan menyala. Dari tempatnya berdiri sekarang, tampak lima anak tangga yang akan membawanya turun dan masuk lebih jauh ke dalam ruangan itu. Tangan kanannya menggenggam sebuah buku yang masih bersegel dan setangkai mawar. Buku dan mawar untuk Nina.

Di anak tangga ketiga, Rama berhenti dan tertegun sejenak. Wangi buku masih menggelitik manis hidungnya. Ruangan itu memang penuh dengan buku. Rak-rak buku menjulang sepanjang dinding ruangan. Di dekat tempatnya berdiri, ada sebuah kursi dan meja kayu yang masih penuh dengan tumpukan buku. Ada pula kursi beludru hijau nyaman yang seperti termenung sendirian di ruangan itu. Ruang baca ini dibangunnya bersama Nina. Wujud dari kegilaan mereka akan buku. Ya, mereka pecandu buku kronis.

*****

“Ups! Sorry, Sayang, hehe.” Tumpukan buku baru yang dibawa Nina tidak sengaja menyenggol bahunya. Setelah menuruni anak tangga, Rama melihatnya meletakkan buku-buku tersebut ke atas meja kayu terdekat. Tujuh atau delapan buku baru. Saat mereka telah selesai membacanya, buku-buku tersebut akan mereka tempatkan di rak yang sesuai dengan genre-nya masing-masing.

“Sayang, kamu kenapa tidak memanggilku kalau paket buku itu telah datang?“ Rama menghampiri Nina dan mengusap wajah pucat kekasih hatinya itu. “Ohh ayolah. Tidak perlu dibesar-besarkan Sayang. Ini hanya hal kecil. Aku masih bisa mengerjakan hal kecil seperti ini,” Nina membantah sambil menyunggingkan senyum. “Sudahlah Sayang. Aku sudah meminum obatku dan hari ini aku merasa bersemangat. Sebaiknya kita segera mulai membaca buku-buku baru ini. Umm..bagaimana jika kita mulai dengan yang ini?” Tangan kurus Nina memegang sebuah buku bersampul putih. Rama hanya mengangguk dan mencoba tersenyum.  

Rama mengamit tangan Nina lalu membawanya ke kursi beludru hijau. Dia memangku Nina yang mulai membuka halaman pertama buku tersebut. Rama tidak benar-benar ingin membaca. Hatinya terasa begitu berat dan sedih. Nina kini makin kurus. Di balik penutup kepala itu, dia tahu tidak ada sehelai rambut lagi di kepalanya. Kanker otak telah merenggut tubuh kekasihnya.

"Sayang! Hidungku.." Nina tiba-tiba berseru. Ada darah yang menetes dari hidungnya. Tetes darah itu menimpa lembaran buku yang tengah dia baca. Tak lama, buku itu jatuh ke lantai. Nina terkulai, tak sadarkan diri di pangkuan Rama.

*****

Air mata jatuh menetesi lantai. Rama tersadar dari lamunannya. Dia kembali menuruni anak tangga yang tersisa. Masih ada buku-buku yang menumpuk di atas meja kayu. Dia berhenti sejenak di situ lalu menyeret sebuah kursi kayu.

Rama membawa kursi itu berhadapan dengan kursi beludru hijau. Dia lalu bergeser ke rak buku, di samping kiri tubuhnya. Diambilnya sebuah kotak kecil yang terbuat dari pualam putih. Ada pahatan wajah dan nama Nina di atasnya. Diletakkannya hati-hati kotak itu ke atas kursi kayu, di samping buku dan setangkai mawar yang tadi dibawanya.

Rama duduk di kursi beludru hijau memandangi kotak Nina. Dia merogoh kantong kemejanya dan tak lama sebuah lagu mengalun dari playlist smartphone-nya. “Selamat ulang tahun, Sayang,” Rama bergumam dan tersenyum parau. Nina mungkin telah menjadi abu. Namun kenangan tentangnya terus menari-menari di benak Rama.

I remember
The way you read your books
Yes I remember

P.S.: Song by Mocca - I Remember
Monday Flash Fiction. Prompt #52: Set the Setting. (496 kata)

Tulisan ini diikutsertakan dalam Regas Giveaway: Mantan Terindah


16 comments:

  1. Replies
    1. Iyya. Cerita kali ini tentang kesedihan karena telah kehilangan Bang..:)

      Delete
  2. Kursinya beludru hijau ya? Aku melihatnya biru. Hahahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha..waduhh. Ya..gitulah Mbak. Kadang ada yang lihat warna itu Hijau-Kebiruan. Ada juga yang Biru-Kehijauan. Haha..:D

      Delete
  3. kotak pualamnya itu apa sih? sy kok gak mudeng ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohh itu maksudnya kotak yang terbuat dari pualam tempat nyimpan abu hasil kremasi Mbak..:D

      Delete
  4. sedih, tapi endingnya so sweet dengan pilihan lagu yang pas :) ini yah Mas Rama- Adrian itu? :d hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Rama-nya masih setia sama Nina Mbak..:)

      Haha..iyya Mbak Eugine. Perkenalkan, ini Adrian yang sudah ganti nama jadi Rama..haha :D

      Delete
  5. Kehilangan orang yang disayangi itu....:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kehilangan orang yang disayangi itu....terasa perih, sedih, getir, lebih dari galau Mbak, hehe. Menguji keikhlasan. :)

      Delete
  6. Maaf, buatku cerita ini terlalu banyak narasi berupa kenangan Rama akan Nina. Andai dalam ingatan itu diselipkan lebih banyak interaksi atau cerita Rama - Nina, rasanya cerita ini akan jadi lebih menarik. :)

    Oh, ya satu lagi. Mau koreksi perihal frase "pecandu buku akut". Menurut KBBI, akut itu "timbul mendadak dan segera memburuk". Jika hendak menyampaikan pesan sebagai 'pecandu buku sejak lama' mungkin lebih tepat pakai kata 'kronis' yang artinya terus menerus atau berlangsung dalam waktu lama.

    Salam. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm..gituu. Berarti saya sering keasyikan bernarasi. Duhh..hehe. :)

      Wahh..baru ngeh saya beda antara akut dan kronis. Okesipp, nanti saya ganti dengan kronis Mas.

      Makasih buat kritik dan sarannya Mas Attar..:D

      Delete
  7. You're good in writing sad story..
    wish I had the same skill with you dear..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Am I? :D

      Okay, come on, let's learn it together! Haha. Thanks anyway, Dear, :)

      Delete
  8. mantan yang berakhir dengan kesedihan ya
    keren maba tulisannya ini sumpah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Regas. Mantan Terindah. Hehe..

      Terimakasih untuk apresiasinya. :)

      Delete