Saturday, 1 February 2014

Review: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Butuh 3 kali gagal untuk bisa menonton film ini akhirnya. Sebuah film adaptasi dari novel sastra lama karangan Buya Hamka. Finally, aku dan Ez berhasil menonton ini sekitar sebulan yang lalu. Dan kami pulang dengan hati yang mengharu biru.

Yup, ini film Top banget. Aku awalnya agak pesimis karena susah untuk menemukan film Indonesia yang oke, maksudnya dalam kualitas ceritanya. Walaupun memang tak sempurna 100%, namun aku sangat merekomendasikan film ini.


Film ini intinya bercerita tentang kisah cinta anak manusia bernama Engku Zainuddin (Herjunot Ali). Dia pemuda keturunan Makasar-Padang. Semua bermula saat ia kembali ke Kampung halaman ayahnya di dusun Batipuh, Padang, Sumatera Barat. Di sana dia bertemu dengan Hayati (Pevita Pierce) kekasih hatinya atau yang disebutnya sebagai 'permataku'. Mereka pun saling jatuh cinta. Namun malang, cinta mereka tak direstui. Zainudin pun terusir dari Batipuh.

Sungguh menyayat hati ketika melihat adegan perpisahan antara Hayati dan Zainuddin. Berikut adegan saat Hayati mengunjungi Padang Panjang untuk bertemu Zainuddin. Oh, jangan disangka mereka bisa bertemu dan bercakap seperti seharusnya. Dan sangat menyayat hati pula ketika Hayati memutuskan cinta dan harapan Zainudin karena menikah dengan Azis (Reza Rahardian).

Zainuddin sangat terpukul, namun Muluk (Randy Nidji) membantunya untuk bangkit dan sukses menjadi seorang penulis terkenal. Dan namanya hidup, apa yang kita tanam adalah apa yang nanti akan kita tuai. Hayati mendapat karma atas pengkhianatannya. Dan Zainuddin pun belum mampu menguasai dirinya dari dendam dan amarah. Akhirnya cinta mereka dipisahkan oleh waktu untuk selamanya bersama dengan tenggelamnya kapal Van Der Wijck.

Mungkin awalnya ada yang berasumsi bahwa film ini serupa dengan Titanic. Namun tidak seperti itu. Film ini lebih keren dari Titanic. Setting cerita dan bahasa yang dipergunakan sangat kuat. Aku begitu merasakan kekuatan cerita sastra lama goresan Hamka. Begitu dibingkai dengan baik. Tidak hanya membawa rasa kebangsaan, namun memberikan banyak sekali pesan-pesan baik tentang kehidupan. Awesome.

Begitulah Readers. Aku berurai air mata menontonnya. Hampir semua pengunjung di ruangan tersebut berurai air mata. Mungkin jika ada yang tidak aku suka dari film ini adalah ketika adegan Ball, atau pesta di rumah Engku Zainudin. Musik yang terlalu berlebihan dan tarian-tarian yang err entahlah. Haha, yah hanya itu saja. Selebihnya aku sangat merekomendasikan film ini. Rasakan kebanggaan pada tanah leluhur kita ini Kawan, rasakan bangganya menjadi seorang Indonesia. :)

No comments:

Post a Comment