LATIHAN MENULIS PROMPT MINGGUAN | KIKIOGRAPH #1


Beberapa minggu terakhir, saya memperbaharui konten Instagram @kikiograph termasuk mencari model template yang cocok. Beberapa kali sudah dirombak namun belum juga klik di hati.

Untuk template-nya sudah lumayan lah ya, haha. Nuansa filter yang digunakan mulai seragam. Sementara untuk kontennya, kali ini saya lebih banyak membahas hal personal.

Tema yang dekat dengan diri saya itu antara lain buku, makanan, perjalanan dan kerajinan tangan (craft). Bahasannya sendiri masih dalam lingkup apa yang saya pikirkan dan alami.

Personal banget, ya? Kurang lebih iya. Tujuan utama mengisi akun ini untuk berlatih menulis (meski saat ini postingan feed Instagram agak lesu dibandingkan reel dan stories).

Di sisi lain, saya juga memanfaatkan akun @kikiograph ini untuk belajar cara promosi/iklan. Terutama hasil craft atau kerajinan tangan yang tengah ditekuni (@kikiocraft.project). 

Mulai Rutin Menulis Prompt Mingguan

Nah, balik lagi ke tujuan utama yaitu latihan tipis-tipis menulis bertema, saya memutuskan untuk mengumpulkan banyak prompt dari berbagai sumber di Pinterest. Prompt atau ide tulisan tersebut berkisar tentang kepribadian, pengembangan diri dan kehidupan secara umum. Bentuknya sendiri sebagian besar berupa pertanyaan.

Prompt ini berlaku sekali dalam seminggu. Saya sudah menjalaninya selama lima minggu berturut-turut. Jadi total hingga saat ini sudah terkumpul lima prompt yang berhasil diselesaikan.

Di postingan blog kali ini, saya mau berbagi tentang prompt tersebut. Kalau bisa rutin, saya akan buat rekapnya di blog ini per lima minggu. Dan inilah lima prompt pertama yang telah diselesaikan.

Prompt 1: What was the title of the last book you read?


Buku terakhir yang selesai dibaca berjudul Murder in the Mews (Pembunuhan di Lorong) karya Agatha Christie. Buku ini merupakan kumpulan cerita Poirot dalam memecahkan kasus kriminal (terutama pembunuhan).

Ada empat cerita pendek dalam buku setebal 352 halaman ini antara lain sebagai berikut:
  • Pembunuhan di Lorong: Bagaimana mungkin seorang wanita dengan pistol di tangan kanan bisa menembak pelipis kirinya sendiri?
  • Pencurian yang Aneh: Adakah kaitan antara hantu dan hilangnya sebuah dokumen penting berisi rencana rahasia pemerintah?
  • Cermin Mayat: Bagaimana sebutir peluru yang menewaskan seorang lelaki bisa memecahkan cermin di bagian lain ruangan?
  • Segitiga Rhodes: Siapakah yang membuyarkan cinta segi tiga yang melibatkan seorang wanita cantik yang dikenal suka kawin-cerai?
Semua cerita di atas memiliki plot twist yang tak terduga. Di antara keempatnya, saya lumayan suka dengan cerita kedua dan terakhir.

Pada cerita Pencurian yang Aneh, tidak ada yang terbunuh atau dengan kata lain bukan kasus pembunuhan yang Poirot pecahkan. Terasa fresh sebab jarang-jarang Poirot memecahkan misteri seperti ini (sejauh yang pernah dibaca).

Lalu pada cerita Segitiga Rhodes, meski berbau pembunuhan, pembaca terlebih dulu diajak terlibat pada momen-momen sebelum peristiwa tersebut terjadi. Poirot yang telah meramalkan hal tersebut tidak berhasil untuk menghentikannya. Cerita yang menarik dan plot twist-nya juga menarik.

Prompt 2: Are you afraid of the dark? Why and why not?


Takut gak ya? Saya rasa tergantung kondisinya. Kalau sekiranya bisa ditangani maka tidak takut. Kalau di luar kontrol dan mengancam, jadinya takut.

Contoh tidak takut itu misalnya lagi berkumpul bersama keluarga di rumah terus tiba-tiba mati lampu atau mati listrik. Terkejut awalnya tapi kemudian biasa saja sebab tahu kalau ada orang lain di sekitar dan mereka tidak berbahaya.

Kalau pun saat itu tidak sedang memegang handphone ataupun sumber cahaya lain, dan belum bisa bergerak sebab mata belum beradaptasi sama kegelapan, tidak merasa terlalu khawatir. Kemungkinan besar akan ada orang yang berusaha mencari dan membuat sumber cahaya dadakan.

Nah sebaliknya kalau gelap membuat takut itu seperti ini misalnya.

Sebelum menikah dulu, otomatis kan tidur sendirian di kamar. Pernah suatu kali hujan badai. Apalagi jika sebelumnya menonton sesuatu atau mendengar cerita seram (baik tentang makhluk gaib ataupun tentang manusia jahat seperti maling yang berkeliaran). Ditambah kondisi iman sedang menurun sebab tidak solat karena sedang haid misalnya. Otomatis saya saat tidur malam di kamar dengan kondisi seperti itu tidak akan mematikan lampu.

Rasanya saat itu lebih aman jika tidur dengan lampu menyala (kondisi terang). Meskipun tidur di kamar dan rumah sendiri. Meskipun di kamar sebelah ada keluarga dan bisa jerit minta tolong. Setidaknya jika hal buruk terjadi (amit-amit), kondisi terang membuat mata sigap menangkap visual yang ada dan otak bisa segera memproses jalan keluarnya.

Apesnya sih memang kalau ketika itu tiba-tiba mati listrik dadakan. Ugh, dilema banget. Separuh badan kaku, separuh nyuruh gerak cari lilin, hape, ataupun lampu apa gitu. Sumber cahaya biar ketidaktahuan dan kondisi tidak pasti bisa segera ditangani.

Jadi kesimpulannya, menurut saya gelap bisa jadi menakutkan namun bisa juga tidak. Semua tergantung dimana dan bagaimana kondisi sekitar. Jika biasanya terang lalu mendadak gelap, awalnya pasti bakal bingung hingga panik. Namun kalau sudah bisa adaptasi dan ketemu jalan keluar bakal merasa lebih tenang.

Prompt 3: What were your best and worst subjects in school or college?


Sepertinya ini satu pertanyaan tapi butuh dua jawaban ya.

Sebelumnya saya mau membuat patokan atau batasan dulu mana yang terbaik dan mana yang terburuk agar jawabannya tidak ngalor ngidul.

Batasannya ada dua. Pertama berdasarkan skor atau nilai yang didapat dan kedua berdasarkan rasa suka (enjoy atau tidaknya) saat mengikuti mapel tersebut.

Nah, boleh jadi mapel yang menurut saya terbaik adalah bahasa Inggris. Selama sekolah saya lumayan enjoy dengan mapel ini. Sebab pertama, gurunya menyenangkan dan kedua karena nyambung aja di otak. Haha, kadang gitu kan. Kalau bisa, jadinya suka. Alhasil skor yang didapat selama mengikuti mapel ini memuaskan.

Sementara mapel yang sulit itu olahraga. Mungkin emang kaum rebahan kali ya, jadi diajak olahraga itu agak susah, haha. Skor yang kudapat seringnya pas-pasan. Di ambang batas lah, jadi tidak perlu remidial.

Mungkin karena olahraga ini termasuk skill kali ya. Jadi butuh kecakapan tersendiri. Bisa dipelajari tentunya asal ada niat.

Kadang saya merasa enjoy sebab aktivitasnya di luar kelas. Variasi olahraga yang dipelajari juga banyak. Jadi tidak bikin bosan. Namun seringnya merasa biasa aja dan mager apalagi kalau penilaiannya dengan cara pertandingan gitu.

Menjawab prompt kali ini berasa seperti nostalgia ya. Wisuda saja sudah mau 10 tahun lalu. Apalagi masa sekolah dulu.

Kalau dihitung, faktanya memang sudah lama banget. Kalau dirasa, pakai perasaan, seperti baru kemaren saja.

Prompt 4: Where is a great place to get breakfast?


Prompt ini bikin teringat dengan adegan film-film ala western gitu (atau telenovela ya, haha). Suami atau pasangan, si pemeran utama bakal bangun lebih awal terus ke dapur dan buatin sarapan. Biasanya pancake dan kopi yang kemudian dibawa ke kamar pakai nampan kayu.

Lalu istrinya bakal bangun sambil tersenyum bahagia dan makan lah sarapan itu di tempat tidur. Romantis adalah kesan yang ditangkap dari adegan tersebut.

Apakah tempat tidur bisa jadi tempat paling oke buat sarapan?

Saya pribadi lebih suka sarapan di meja makan, di ruang dapur, hehe. Lokasi meja makan berdekatan dengan tungku masak memudahkan untuk menikmati sarapan.

Bangun tidur biasanya bakal ke kamar mandi. Buang air kecil lalu cuci tangan gitu. Kalau mood sekalian cuci muka. Habis dari situ bisa langsung deh ke meja dapur.

Setelah minum segelas air putih, melihat apa yang tersedia di meja adalah adegan lanjutannya, haha. Sarapan di meja dapur memudahkan banget untuk ambil atau ngebuat apa saja yang diperlukan. Baik itu makanan dan minuman.

Di situ juga tidak perlu makan sambil takut tumpah. Kalaupun berantakan bisa dengan mudah dibereskan. Sat set sat set, tidak bikin repot harus ganti dan cuci sprei misalnya.

Jadi sejauh ini, tempat sarapan favorit ya di meja dapur, hehe. Tapi saya appreciate dengan banyak tempat yang dijadikan lokasi sarapan. Terasa unik saja gitu.

Selain di tempat tidur, ide sarapan (lebih cocok brunch kali ya) di private pool ketika menginap di hotel atau resort, boleh juga dicoba. Atau sarapan di roof top sambil lihat balon udara di Cappadocia, pastinya sesuatu yang memorable banget.

Ya, tampaknya sarapan di lokasi selain meja dapur itu tujuannya bukan untuk mengisi perut semata. Melainkan lebih kepada menambah pengalaman (experience) sebab manusia biasanya cenderung suka suatu hal yang bervariasi dan unik.

Prompt 5: Write about a recent adventure or travels


Perjalanan jauh terakhir (yang entah jika bisa disebut petualangan) terjadi sekitar tujuh bulan lalu, tepatnya November 2021. Saat itu masih pandemi Covid 19 dalam artian kalau mau berpergian ke kota lain harus mengikuti protokol kesehatan.

Jadi ceritanya, saya dan Ez kembali ke Batam. Misi utama adalah mengosongkan kontrakan sekaligus menghentikan sewa yang sudah delapan bulan lebih hanya dibayar saja tanpa kami tinggali.

Perjalanan dimulai dari Jambi dengan mobil travel ke Pekanbaru. Mengapa ke sana? Karena pesawat Jambi-Batam tidak ada. Harus transit dan menginap dulu di Jakarta. Alhasil kami coba pilih naik dari kota terdekat.

Drama keberangkatan ini lumayan banyak. Mulai dari tiket PCR yang hangus, mobil terhalang banjir hingga lima titik sehingga mau tidak mau reschedule pesawat, menambah biaya PCR dan menginap di Pekanbaru, dll.

Proses mengosongkan kontrakan sendiri tidak semudah yang terlihat. Setelah bersih-bersih, mulai mendaftar mana yang akan dibawa pulang dan mana yang sebaiknya dijual saja. Benar-benar makan waktu hampir sebulan lebih. Itu belum tuntas semua sebab ada beberapa barang yang akhirnya kami tinggal saja di kontrakan.

Singkat cerita, sebulan kemudian atau tepatnya awal Desember kami pulang kembali ke Jambi. Pesawat masih tidak ada. Mau singgah di Jakarta juga tidak nyaman dengan pandemi. Akhirnya kami terbang ke kota Padang dan dari sana naik bus.

Terjadi drama lagi donks. Pesawat Batam-Padang delay. Untung tidak lama, sekitar dua jam. Namun akibatnya kami harus berpacu mengejar bus sebab jam keberangkatan bus Padang-Jambi sudah mepet banget.

Kalau ke Pekanbaru kami terhalang banjir, nah bus ini mengalami pecah klahar. Mau tidak mau roda depan bus dibongkar. Seharusnya masuk Jambi paling tidak pukul 7 pagi jadi molor hingga 5 sore.

Ugh! Ya sih banyak drama sana sini. Tinggal ambil hikmahnya saja sekalian introspeksi diri.

Jadi Kesimpulannya...

Bagaimana? Menarik tidak? Mudah-mudahan latihan menulis prompt ini bisa berkelanjutan. Bisa menjadi sesuatu yang tekun saya buat. Menjadi konsisten itu seringnya lebih sulit daripada memulai.

Tentunya saya juga ingin prompt tersebut membuat @kikiograph jadi lebih bagus dari sebelumnya, haha. Teman-teman pembaca kalau mau ikutan, silahkan. Mana tau ada yang lagi stuck ide buat bahan blog, bisa jadikan prompt ini sebagai inspirasi menulis.

Comments

  1. Menarik nih, memacu diri sendiri untuk menuli secara rutin. Aku melakukan hal yang mirip, tapi tidak sama persis. Lebih kepada set goal untuk menulis minimal 4 buah tulisan dalam 1 bulan. Jadi anggapannya 1 minggu 1 tulisan meski tidak tiap minggu juga nulisnya. Kadang seminggu 3 tulisan kemudian libur sampai minggu terakhir bulan tersebut :)

    Ada keseruannya tersendiri dan sampai sekarang masih enjoy dengan hal tersebut..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kepengen juga bisa seperti itu. Rutin menulis minimal 4 tulisan sebulan. Terus upload di blog seminggu sekali. Cuma untuk konsisten memang susah.

      Oh ya, jika tertarik dan belum pernah dengar, ada komunitas blogger. Namanya 1Minggu 1Cerita. Konsepnya mirip2 sama kegiatan menulis yang mas lakukan.

      Delete
  2. Kadang tanpa sadar berlatih menulis juga bisa membuat pikiran dan hati kita senang.
    Semangat terus untuk para blogger di luar sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul. Apalagi jika memang menyukai kegiatan menulis. Semangaatt..

      Delete
  3. Jadi kangen baca buku2 Agatha C 😄. Bbrp bulan lalu beli setumpuk buku yg tokohnya poirot , tapi blm sempet dibaca aja. Dibanding detektif lainnya, aku lebih suka baca yg kasus2nya poirot memang. LBH mudah dipahami 😁.

    Kalo ttg a great place to get breakfast, buatku tetep sarapan di meja makan juga mba. Ntah kenapa yaaa paling ga nyaman kalo makan di tempat tidur. Krn buatku kasur ya utk tidur. Ga suka aja kalo sampe ada remah2 makanan yg hrs tumpah dan mengotori . Pernah aku coba sarapan secara floating breakfast di pool private hotel, dan rasanya B aja. Malah ribet Krn keranjangnya jadi kebawa air sampe ke ujung kolam wkkwkwkwkw. Jadi tetep aku lebih suka makan di meja makan😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kak. Aku juga cocok sama cerita Poirot. Keren madam Agatha, di tahun seperti itu bisa buat buku yang best seller sampai sekarang. Dan bukan cuma satu atau dua buku aja yang terus2an dicetak ulang.

      Haha iya kan kak. Anti ribet kalau di meja makan. Emang sudah tempatnya di situ wkwk.

      Kalau makan atau sarapan di tempat lain kae di pool gitu, buat pengalaman aja. Aku belum pernah nyoba, cuma kebayang sih keranjangnya kebawa air wkwk. Seru pengalamannya kak.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Movie Review - Original Sin (2001) - Film di “Scrap Book” Jadulku

Pohon Sukun Meranggas

Apa yang bisa dilakukan di Hago Farm