Memulai Tahun dengan Menelaah Harapan

Tahun lama berlalu. Tahun berikutnya datang. Momen awal tahun seperti ini mengingatkanku dengan sesuatu bernama “harapan”. Sebab rasanya awal tahun kerap dimeriahkan dengan luapan harapan dan dianggap sebagai momen yang tepat untuk memulai sesuatu yang baru. Tidak ada yang salah dengan itu dan manusiawi. 

di tanah kerinci | ilustrasi | dokumen pribadi 

Bicara tentang harapan, melalui postingan ini aku tergelitik untuk berbagi hal-hal yang terkait dengan harapan berdasarkan pengamatanku selama ini. Sebagai bentuk catatan terutama untuk diri sendiri. Sebab harapan dapat membentuk pola pikir yang ujungnya bisa mempengaruhi kehidupan. Katakanlah ini kesimpulan sementara yang boleh jadi bisa berubah di kemudian hari atau bisa dikembangkan lagi nanti. 

Batasan Harapan 

Salah satu keresahan yang muncul di benak adalah apakah harapan itu memiliki batas? Jika harapan itu terlalu tinggi, rasanya itu lebih mirip sebuah ilusi dan tidak realistis. Di sisi lain, rasanya bukan harapan namanya kalau tidak muncul dari suatu kemustahilan. Sebab harapan dapat memunculkan sugesti positif dan membuat kita berusaha agar harapan itu dapat terwujud. 

Bahkan rasa-rasanya harapan dapat menjadi jalan bagi keajaiban. Sedikit banyak, aku percaya dengan keajaiban, sih. Tuhan memiliki kuasa untuk mengubah hal yang tidak mungkin/mustahil menjadi mungkin/terwujud nyata. Hanya saja kita tentunya tidak tahu apa yang Tuhan kehendaki dan sering lupa kalau apa yang kita kehendaki itu belum tentu baik adanya. 

Menyikapi sebuah Harapan 

Mungkin jawaban dari keresahan tersebut bukan membatasi harapan yang kita buat melainkan bagaimana cara kita dalam menyikapi hasil dari sebuah harapan. Dan hanya ada dua kemungkinan hasil dari suatu harapan: terwujud atau tidak terwujud. 

Harapan yang terwujud 

Harapan yang terwujud itu membawa kesenangan. Sebuah nikmat, namun sayangnya hidup itu kompleks. Harapan yang terwujud juga membawa dampak/konsekuensinya sendiri ke kehidupan kita karena setelahnya hidup akan terus berjalan. Cobaan hidup tidak selamanya berbentuk kesengsaraan. Nikmat pun bisa termasuk cobaan. Rasa syukur yang tulus boleh jadi cara terbaik menyikapi harapan yang menjadi kenyataan. 

Harapan yang tidak terwujud 

Jika menelusuri Google dengan kata kunci “cara menyikapi harapan,” boleh dibilang seluruh rujukan di halaman pertama bercerita tentang tips menyikapi harapan yang tidak terwujud menjadi kenyataan. 

Aku tidak tahu cara mana yang terbaik. Barangkali setiap orang punya caranya masing-masing. Satu cara yang lumayan efektif untukku adalah mengingatkan diri kalau apa yang kusukai belum tentu baik dan sebaliknya, perkara yang tidak aku sukai boleh jadi itu sebenarnya sesuatu yang baik untukku. Pada praktiknya memang tidak mudah juga sih, hehe. 

Nasihat tentang Harapan 

Tere Liye—seorang penulis novel yang aktif menghasilkan karya memiliki kutipan menarik terkait dengan “harapan”. Aku mengetahui hal ini saat sedang berseluncur di Facebook. Demikian isi kutipannya:
Kenapa kita kecewa?
Karena kita berharap.
Tidak akan kecewa
kalau kita tidak berharap.
-Tere Liye 

Kutipan ini terkesan cukup keras, namun melekat di ingatan. Tanpa sadar aku ikut mengangguk setuju. Ditinjau dari satu sisi, kutipan tersebut cukup logis. Mungkin kutipan ini mengajak kita untuk berhati-hati saat membuat harapan. Juga ajakan untuk mengenal batasan diri sendiri. Boleh jadi lebih baik membuat rem dan mundur satu langkah yaitu dengan tidak mencetuskan harapan agar tidak teracuni dengan harapan yang dibuat sendiri baik saat harapan kita terwujud atau pun tidak. 

Nasihat kedua sekaligus penutup postingan ini adalah dari Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah khalifah keempat sekaligus sahabat dan menantu dari Nabi Muhammad SAW. Berikut kutipan beliau terkait harapan: 

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia” – Ali Bin Abi Thalib 

Rasanya nasihat ini sudah cukup jelas, hehe. Menaruh harapan kepada manusia sangat beresiko bahkan termasuk salah satu kepahitan di hidup ini. Menempatkan harapan kepada Tuhan adalah jalan keluarnya. Tidak ada lagi yang paling berkuasa dan memiliki kehendak mutlak selain Tuhan. Demikianlah telaahku tentang harapan. Semoga bermanfaat.

Submitted to:
One Day One Post 2021 - Indonesian Content Creator (591 kata)

Comments

  1. Selalu ikhtiar walau sering gagal hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat! Selamat berikhtiar. Semoga usahanya membuahkan hasil sesuai dgn yg dibayangkan ya atau lebih baik. :D

      Delete
  2. Wah, keren, Kak. Bener banget sih kalau harapan kepada manusia hanya jatuh pada kecewa. Berharap kepada Allah tak akan pernah kecewa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Berdasarkan pengalamanku juga gitu. :D

      Delete

Post a comment

Popular posts