ANGIN MERAH DI WAKTU MENJELANG SIANG

gambar unsplash

Mungkin pergi ke tempat cucian motor dan menunggu hingga motor selesai dicuci adalah salah satu aktivitas yang membosankan. Memang ada tempat cucian yang menyediakan televisi dan majalah ataupun surat kabar untuk menemani pelanggannya. Namun ada juga tempat cucian yang tidak menyediakan hiburan semacam itu. Seperti di tempat ini dimana saya saat itu sendirian menunggu motor siap dicuci.

Tempat Cucian Motor

Pada saat itu saya memilih mencuci motor di area dekat rumah. Bukan tempat cuci yang besar, hanya seperti kios. Ada satu bangku panjang untuk pelanggan dan letaknya di samping kios bagian luar. Antara bangku tersebut dan kios, dibatasi sebuah sekat triplek sehingga jika kita duduk di bangku tersebut, kita akan sulit melihat proses motor kita di cuci. Namun jika berdiri, kita bisa melihat ke bagian dalam kios. Dan di bangku itulah saya duduk sendirian sambil menikmati angin yang berhembus sesekali.

Kebetulan saya tipe manusia yang suka mengamati sekitar. Saya suka melihat detail benda-benda atau strukturnya atau tataannya. Karena tidak ada sesuatu yang bisa dibaca dan untuk mengurangi kebosanan selama menunggu, saya mengedarkan pandangan mengamati beberapa ruko (rumah toko) yang letaknya di bagian belakang kios. Ketiga ruko ini sepi alias kosong dengan pintu yang bercat putih kombinasi biru. Beberapa rumput liar pun tampak tumbuh di sela-sela conblock yang terbuka.

Puas mengamati ruko, saya pindah memandang ke arah jalan. Kios ini di tepi jalan. Memang bukan jalan raya yang lebar. Jalan ini hanya muat dilalui dua mobil secara bersamaan. Kala itu hari Sabtu menjelang pukul 11 siang. Selain angkot yang lewat sesekali, beberapa anak sekolah berseragam pramuka, baik itu mengendarai motornya sendiri ataupun dijemput, tampak beberapa kali melewati jalan. Sepertinya ini waktunya sekolah bubar.

Di Seberang Jalan

Oh ya saya belum cerita tentang apa yang ada di seberang jalan. Tepat di seberang kios ini, ada sebuah gudang. Kata Emak, gudang ini tempat menyimpan ransum atau makanan hingga beras. Gudang memanjang ke samping, mungkin sekitar 50 meter. Di bagian teras, terlihat ada banyak mobil truk yang parkir. Truk ini memiliki box di belakangnya. Tampak juga beberapa pegawai gudang yang berjalan di seputaran teras.

Ah, ya, mengapa saya bisa melihat aktivitas di gudang tersebut? Ya, karena gudang ini tidak punya dinding yang tinggi. Hanya ada pagar dengan jeruji bercat biru sehingga pemandangan di teras gudang dapat dilihat dengan mudah dari seberang jalan tempat saya duduk. Tampak pula di depan pagar gudang tersebut seorang penjual gorengan dengan gerobaknya. Ada pula beberapa pembeli yang menghampiri.

Angin yang Berhembus

Siang ini matahari cukup bersinar terang, namun udara tidaklah panas. Mungkin karena memang belum lewat dari jam 12 siang. Ditambah pula dengan angin yang berhembus.

Saya cukup tersentak dengan angin yang seperti dengan serempak menepuk punggung saat sedang bersender ke bangku kios. Angin tersebut mengusap lembut dan agak terasa aneh. Saya pun mencoba menoleh ke belakang dan hanya jejeran ruko kosong yang menyapu pandangan.

Kemudian, dari arah jalan kulihat ada satu motor lagi yang masuk ke kios cucian motor ini. Motor berwarna hitam dan dikendarai oleh seorang anak sekolah. Mungkin dia mau beranjak pulang namun mampir dulu untuk mencuci motornya. Anak tersebut memakai jaket hitam menutupi seragam pramukanya.

Motornya di cuci di samping motorku yang tengah disabuni. Anak tersebut menunggu di bagian dalam kios. Tentu tidak masalah karena dia anak laki-laki, sama seperti pemilik kios ini.

Tiba-tiba di seberang jalan muncul keramaian

Saya kembali menikmati kendaraan yang berlalu-lalang. Sesekali memandang percikan air dari selang yang digunakan abang pemilik kios ini untuk mencuci motor. Air itu memercik ke tanah di depan kaki saya. Dan di saat itu, tiba-tiba terdengar bunyi “brak” yang cukup keras.

Ya, tidak hanya saya, namun beberapa pasang mata lainnya yang ketika itu melintasi jalan tersebut ikut mengarah ke tempat bunyi tersebut berasal.

Saya sontak berdiri dan beranjak ke tepi jalan. Di arah kanan, masih di depan pagar gudang, ada seorang anak sekolahan berkaos jersey bola yang jatuh beserta motornya yang berwarna biru. Begitu pula sempat kulihat dua anak lainnya yang berkaos hitam di belakang motor biru tersebut juga jatuh. Mereka tampak berusaha berdiri sambil menegakkan motor mereka. Tampak pula di samping motor biru tersebut, mobil angkot yang berwarna kuning.

Siapa Pelakunya?

Saya pikir mungkin kedua motor ini jatuh karena diserempet sama mobil angkot tadi. Posisi angkot (dari jarak dan perspektif saya memandang), cukup dekat dengan kedua motor yang jatuh. Iya, saya pikir mungkin angkot tersebut tiba-tiba mengerem dan membuat kaget anak berkaos jersey yang mengendarai motor biru.

Anak itu ikut mengerem mendadak dan begitu pula motor di belakangnya yang ikut jatuh karena mengerem mendadak. Beberapa orang di sekitar mulai berkerumun. Namun anehnya tidak ada yang meminta supir angkot untuk turun atau apalah. Angkot berhenti sebentar untuk menurunkan penumpang lalu beranjak pergi lagi.

Siapa Korbannya?

Anak berkaos jersey bermotor biru tidak sanggup menegakkan motornya sendiri. Saya sempat melihat anak sekolah yang baru saja menaruh motornya di kios cucian motor ini beranjak menyebrangi jalan menuju tempat kejadian. Dialah yang membantu menegakkan motor tersebut, sementara si empunya motor beranjak ke tepi jalan.

Dari jauh saya bersyukur bahwa tidak ada yang terluka parah. Kedua anak berkaos hitam juga sudah berhasil menegakkan dan menghidupkan motornya kembali. Namun tepat di saat itu, cairan merah dan kental jatuh membasahi aspal. Rupanya kepala si anak berkaos jersey itu terluka parah. darahnya terus mengucur, melewati mukanya, jatuh ke tangannya hingga ke pergelangan kakinya.

Anak berseregam pramuka lekas membonceng si anak berkaos jersey dengan motor birunya. Dia minta diantar ke rumahnya yang memang tidak jauh dari tempat kejadian. Rupanya mereka adalah teman satu sekolah. Sementara dua orang anak berkaos hitam itu melesat kabur karena kronologis kejadiannya tidak seperti yang saya kira sebelumnya.

Anak berkaos hitam itu yang telah menabrak dari belakang anak berkaos jersey bermotor biru. Anak tersebut jatuh ke depan dan entah menghantam apa kepalanya sehingga bisa luka dan mengeluarkan begitu banyak darah.

Angin pun Berlalu

Ya, malangnya si anak itu tidak memakai helm. Nah, peristiwa ini menjadi himbauan bagi semua pengendara motor agar jangan lupa mengenakan helm meski motoran ke tempat yang tidak jauh dari rumah. Sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di jalanan.

Meski kita sudah berhati-hati, belum tentu pengendara lain juga berhati-hati. Pastinya ikuti peraturan lalu lintas yang berlaku serta jaga kecepatan laju kendaraan masing-masing agar tidak berlebihan. Ya, mudah-mudahan peristiwa seperti ini tidak lagi terulang. Untuk si Pelaku, mudah-mudahan diberi kesadaran dan bertanggungjawab.

Angin masih berhembus sesekali. Keriuhan di jalanan tadi perlahan pecah dan terurai. Motor saya masih proses dicuci. Tentu saya masih harus menunggu beberapa saat lagi.

Anak yang mengantar korban kecelakaan tadi sudah kembali ke kios untuk mengambil motornya yang juga masih dalam proses pencucian. Di bagian atas tasnya, tampak beberapa noda darah yang saya yakini jatuh dari kepala si anak berkaos jersey tersebut.

Noda darah yang sama pun masih menjejak di aspal tempat kejadian perkara. Mungkin noda merah tersebut nantinya akan mengering sendiri bersamaan dengan helaan waktu dan hembusan angin serta derai hujan.

Comments

Popular posts from this blog

TIDAAKK!!

APA YANG BISA DILAKUKAN DI GAME HAGO FARM

POHON SUKUN MERANGGAS