SEWAKTU MADRASAH DULU | BUKAN KEBETULAN #2
![]() |
| sumber google image |
Bukan mau pamer atau apa. Niat hati hanya mau berbagi. Ini tentang keampuhan sebuah doa. Pernah terjadi dulu saat belajar di madrasah. Saya dulu sekolah di SDN (Sekolah Dasar Negeri) di siang hari. Sementara sore harinya sekolah di madrasah, yang juga tak jauh dari rumah.
Layaknya belajar di madrasah, kami diajarkan lebih jauh tentang agama (islam) dan bahasa arab. Begitu pula tata cara memakai pakaian muslim dan berjilbab. Lalu menulis dan membaca bahasa arab. Ada juga kegiatan shalat Ashar berjamaah di mesjid, dan banyak hal lainnya. Alhamdulillah, saya mengerti menulis dan membaca angka hijaiyah karena belajar di madrasah ini.
Lalu doa apa, sih, yang dimaksud?
Sebelum belajar, seorang guru yang saya lupa namanya (maaf), mengajarkan kami untuk membaca doa ini:
“Robi shrohli shodri wa ya shirli amri wah lul uqdatam mil lissani yah khohu khouli “
Artinya : Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku, dan lancarkanlah lidahku serta mudahkanlah urusanku.
Saya pun membaca bismillah dan melafalkan doa tersebut. Kemudian pelajaran pun di mulai. Seingat saya, saat itu belajar menulis kata dalam huruf hijaiyah. Dan masya Allah, dipermudah sekali saya kala itu.
Waktu itu saya memang masih kecil. Masih kelas satu SD dengan kisaran usia 5 atau 6 tahun. Namun silakan percaya atau tidak, saya sudah bisa merasa takjub. Begitu mudah dan cepat saya menyalin tulisan hijaiyah di papan tulis ke buku tulis. Padahal, saya juga tergolong baru belajar menulis dengan huruf hijaiyah, dan bagi anak kecil boleh jadi tidak mudah.
Di madrasah itu, kalau tidak salah, kami diberi dua mata pelajaran sebelum shalat ashar. Lalu ada dua atau satu lagi, ya mata pelajaran sesudah shalat ashar berjamaah. Nah, kejadian pertama di atas itu adalah saat di mapel pertama.
Yang menarik di sini, Kiki kecil, esok harinya di mapel kedua sebelum shalat ashar, sedikit membandel. Maksudnya?
Jadi begini, kemarin kan saya sudah merasakan keampuhan doa tersebut. Nah, di hari ini ada lagi pelajaran yang mengharuskan menyalin tulisan arab atau hijaiyah dari papan tulis ke buku catatan.
Saat itu kami tidak belajar di kelas yang sama karena guru yang biasa mengajar kami tidak masuk. Jadi kami di gabung dengan kelas sebelah.
Kali itu, entah kenapa, padahal sudah tau tentang keajaiban doa tersebut, saya malah tidak membacanya ketika mulai belajar atau menyalin. Saya tahu tetapi tidak diamalkan. Dan bagaimana hasilnya?
Saya merasa malu. Saya jadi anak terakhir di kelas (satu-satunya) yang belum menyelesaikan catatan. Entah mengapa, tangan ini terasa lambat untuk digerakkan. Sementara siswi yang lain telah selesai menyalin, dan mereka segera keluar kelas untuk siap-siap sholat ashar.
Di kelas itu, tinggal saya, sahabat saya yang ikut menemani dan Ibu guru yang masih duduk menunggu di mejanya. Rasanya tidak enak sekali ditunggu seperti itu. Semakin saya percepat menulis, hasilnya tetap lama juga. Tidak nyaman sekaligus malu rasanya.
Kesimpulannya
Momen tersebut masih teringat jelas di benak saya saat ini. Kejadian selang sehari yang begitu kontras. Benar-benar suatu pelajaran berharga.
Mungkin ketika itu saya masih anak kecil, tapi apa yang saya ceritakan ini benar adanya. Saya tahu pasti bagaimana rasanya dipermudah tangan ini untuk menulis hingga saya sendiri takjub dan bingung. Dan saya juga tahu pasti bagaimana rasanya begitu lambat tangan ini untuk menyalin rangkaian hijaiyah itu hingga saya sendiri sedih dan bingung.
Masya Allah, memang, untuk mengawali pekerjaan yang baik adalah dengan berdoa sembari meluruskan niat. Dan robbi shrohli atau doa yang dibaca sebelum belajar itu adalah doa Nabi Musa ketika hendak menghadapi Firaun. Doa yang baik, insya Allah.
Begitu lah salah satu kisah sewaktu saya di madrasah dulu. Saya agak menyesal juga, karena hanya sebentar sekolah sore di sana. Saya tidak menamatkannya. Mudah-mudahan kisah ini memberi manfaat dan pelajaran, terutama buat diri saya pribadi. [18 Februari 2013]

Comments
Post a Comment