Thursday, 26 June 2014

Nomor 666666

gambar diambil dari sini

Cahaya matahari telah surut. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Jalan Cemara masih ramai oleh manusia. Entah itu melintas dengan mobil-mobil mereka atau dengan langkah kakinya. Hewan-hewan liar tak bertuan juga ikut melintasi jalan ini.


Aku mematung di sisi jalan. Memperhatikan mereka dari balik tudung hitamku. Lebih tepatnya memperhatikan angka-angka berwarna merah yang menyala di atas ubun-ubun mereka. Angka yang menunjukkan berapa lama lagi waktu yang tersisa bagi mereka untuk menarik napas.

Cahaya bulan memantul dari ujung sabitku. Baru 100 tahun menjadi Penjagal, namun rasa bosan mulai menghinggapi. Apalagi jika sedang tidak ada roh yang harus kupisahkan dari tubuh makhluk yang membutuhkan udara untuk bernapas, seperti mereka itu.

Ah, entahlah dengan Penjagal lainnya. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apakah mereka juga merasa bosan dengan kehidupan yang nyaris abadi, seperti yang kurasakan ini.

"Edo, apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh? Tiba-tiba udara menjadi dingin saat kita melintasi kotak surat di tepi jalan itu," Ran berkata sembari memegangi tengkuknya.

"Iya, Ran! Sepertinya, hawanya agak berbeda. Sudahlah, tidak usah terlalu kita pikirkan."

Aku menyeringai memandangi mereka, sepasang manusia yang baru saja berjalan melintasiku. Memang ada beberapa diantara mereka yang bisa merasai aura dingin yang menguar dari tubuhku. Namun tidak ada yang mampu melihat sosokku dengan jelas, kecuali waktu mereka telah habis dan aku yang ditugasi menjemput roh mereka.

"Sayang sekali waktu mereka masih banyak. Padahal aku tidak sabar untuk menghitung dan mengeluarkan nomor baru!" Aku bergumam sendiri berusaha memecah kebosanan ini.

Siingg!!
Tiba-tiba ada nyala cahaya biru yang bersinar tepat di depan wajahku. Cahaya itu kemudian memecah dan membentuk sebuah tulisan.

"Aha! Akhirnya perintah tugasku datang. Hmm, jadilah. Saatnya untuk memberi nomor baru!"

Kau tahu, sebenarnya kali ini aku berucap sambil tersenyum senang. Namun hasilnya selalu sama seperti jika aku menyeringai.

Itu dia! Makhluk yang disebutkan di dalam perintah tugas tadi. Dia ingin menyebrang jalan rupanya. Angka merah yang menyala di atas ubun-ubunnya terus berubah mengecil. Kedua bola matanya liar mengawasi mobil-mobil yang melintas.

Makhluk itu kini telah menyebrangi separuh jalan. Aku bersiap menyambutnya. Dan seperti yang lainnya, dia terlonjak kaget ketika melihat sosokku. Bola matanya membulat. Aku menyeringai dan dia ingin berbalik arah. Namun terlambat dan tentunya tidak ada yang bisa mencurangiku. Tepat ketika itu sebuah mobil menyambarnya. Penumpang mobil tersebut tidak mau tahu dan pergi begitu saja.

"Malangnya kamu, hai, makhluk manis!"

Aku berucap sembari mendekati tubuh makhluk itu. Kepala dan perutnya terkoyak. Sebagian organnya tercecer. Darahnya menggenangi jalan. Makhluk itu sekarat dan matanya mengiba kepadaku.

"Baiklah. Saatnya kembali ke Tuhanmu!" Aku melingkarkan lengkung sabitku di lehernya dan menarik rohnya keluar. Tak lama roh makhluk itu telah berada di sampingku. Kuabaikan tubuh duniawinya yang telah berantakan. Urusanku jelas, cuma dengan rohnya saja.

Kupandangi roh itu langsung ke dalam matanya. "Kau, kuberi nomor 666666. Ayo, akan kuantarkan kau ke ruang tunggu!"

Roh tersebut balas menatapku. Bola matanya riang, tak lagi ketakutan. Ekornya mengibas ke kiri dan kanan.

Ya, kali ini bukan manusia yang kudapat. Namun kucing betina berbulu hitam legam ini, tidak terlalu buruk. Lumayan. Rasa bosan ini cukup terobati.

Monday Flash Fiction. Prompt #55: Sang Penjagal. (498 kata)

P.S.: Cerita ini murni imajinasi dan bersifat fiksi.

18 comments:

  1. tak ada rotan, akarpun jadi

    ReplyDelete
  2. tertipuu sama akhirannyaa.. kirain manusia mbaak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe..makasih sudah mampir Jeng Isti..:D

      Delete
  3. Replies
    1. Haha..semua equal di mata Penjagal. Dia menjemput siapa aja yg punya nyawa :D

      Delete
  4. Wew, kucing ternyata hihihhi

    ReplyDelete
  5. aku suka cerita ini, Rizki. ada kejutan di akhir kisah, pun narasi yang dibangun sejak awal berhasil menggiring benak pembaca (baca : aku) untuk membayangkan 'sisi humanis' sosok penjagal : bisa merasa bosan. :D

    oh ya, ide 'angka merah yang makin mengecil' sebagai tanda 'jatah hidup' hampir habis juga sebuah ide bagus.

    Keren! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Auww..pertama kali FF aku disukai Bang Riga Admin >_<

      Makasih Bang..gak ada kripik kali ini. :D

      Beloem tahu deh gimana nasib FF aku di Prompt selanjutnya..haha

      Delete
  6. Reminds me of Death Note :)
    I guess you want to describe the character of Ryuk in another version...
    the one that we know as Grim Reaper, isn't it?
    anyway..
    you have a talent in it...you're great Darl :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha..I wonder who's gonna relate this story to DN and talk that to me. Ya, Otaku knows this..:D

      However I didnt propose this as the alternate version of Ryuk. Yes, I miss Ryuk. You can see that from some points in here. Haha.. *throw an apple to the air*.

      I would like to blend Ryuk and Grim Reaper and also my boredom. Haha..

      Thanks anyway for coming and giving comment Darl. ;)

      Delete