Wednesday, 2 September 2015

Angin Merah

Mungkin pergi ke tempat cucian motor dan menunggu hingga motornya selesai dicuci adalah salah satu aktivitas yang membosankan. Memang ada tempat cucian yang menyediakan televisi dan majalah ataupun surat kabar untuk menemani pelanggannya menunggu motor selesai dicuci. Namun ada juga tempat cucian yang tidak menyediakan hiburan semacam itu. Seperti aku yang saat itu sendirian menunggu motor siap dicuci.
  
Pada saat itu aku memilih mencuci motor di daerah dekat rumahku. Bukan tempat cuci yang besar, hanya seperti kios. Ada satu bangku panjang untuk pelanggan dan letaknya di samping kios bagian luar. Antara bangku tersebut dan kios, dibatasi sebuah sekat triplek sehingga jika kita duduk di bangku tersebut, kita akan sulit melihat proses motor kita di cuci. Namun jika berdiri, kita bisa melihat ke bagian dalam kios. Dan di bangku itulah aku duduk sendirian sambil menikmati angin yang berhembus sesekali.

gambar diambil dari sini

Aku tipe manusia yang suka mengamati sekitarku. Aku suka melihat detail benda-benda atau strukturnya atau tataannya. Karena tidak ada sesuatu yang bisa kubaca dan untuk mengurangi kebosanan selama menunggu, aku mengedarkan pandangan mengamati beberapa ruko yang letaknya di bagian belakang kios ini. Ruko-ruko ini sepi alias kosong. Ada sekitar 3 pintu ruko yang bercat putih kombinasi biru. Beberapa rumput liar pun tampak tumbuh di sela-sela conblock yang terbuka.

Puas mengamati ruko, aku pindah memandang ke arah jalan. Kios ini di tepi jalan. Memang bukan jalan raya yang lebar. Jalan ini hanya muat dilalui dua mobil secara bersamaan. Kala itu hari Sabtu menjelang jam 11 siang. Selain angkot yang lewat sesekali, beberapa anak sekolah berseragam pramuka, baik itu mengendarai motornya sendiri ataupun dijemput, tampak beberapa kali melewati jalan tersebut. Sepertinya ini waktunya sekolah bubar.

Oh ya, aku belum bercerita tentang apa yang ada di seberang jalan. Tepat di seberang kios ini, ada sebuah gudang. Kata Emakku, gudang ini adalah gudang yang menyimpan ransum atau makanan hingga beras. Gudang ini memanjang ke samping, mungkin sekitar 50 meter. Di bagian teras gudang, terlihat ada banyak mobil truk yang parkir. Truk ini memiliki box di belakangnya. Tampak juga beberapa pegawai gudang yang berjalan di seputaran teras gudang.

Ah, ya, mengapa aku bisa melihat aktivitas di gudang tersebut. Ya, karena gudang ini tidak punya dinding yang tinggi. Hanya ada pagar dengan jeruji bercat biru sehingga pemandangan di teras gudang dapat dilihat dengan mudah dari seberang jalan tempat aku duduk. Tampak pula di depan pagar gudang tersebut seorang penjual gorengan dengan gerobaknya. Ada pula beberapa pembeli yang menghampiri.

Siang ini matahari cukup bersinar terang, namun udara tidaklah panas. Mungkin karena memang belum lewat dari jam 12 siang. Ditambah pula dengan angin yang berhembus. Aku cukup tersentak dengan angin yang seperti dengan serempak mengenai punggungku saat sedang bersender ke bangku kios. Angin tersebut menyapu punggungku dengan lembut sekali dan yea agak terasa aneh. Aku pun mencoba menoleh ke belakang dan hanya jejeran ruko kosong yang menyapu pandangan.

Kemudian, dari arah jalan kulihat ada satu motor lagi yang masuk ke kios cucian motor ini. Motor ini berwarna hitam dan dikendarai oleh seorang anak sekolah. Mungkin dia mau beranjak pulang namun mampir dulu untuk mencuci motornya. Anak tersebut memakai jaket hitam menutupi seragam pramukanya. Motornya di cuci di samping motorku yang tengah disabuni. Anak tersebut menunggu di bagian dalam kios. Tentu tidak masalah karena dia anak laki-laki, sama seperti pemilik kios ini.

Aku kembali menikmati kendaraan yang berlalu-lalang di hadapanku. Sesekali kupandangi percikan air dari selang yang digunakan abang pemilik kios ini untuk mencuci motor. Air itu memercik ke tanah di depanku. Dan di saat itu, tiba-tiba kudengar bunyi “brak” yang cukup keras. Ya, tidak hanya aku, namun beberapa pasang mata lainnya yang ketika itu melintasi jalan tersebut ikut mengarah ke tempat bunyi tersebut berasal.

Aku pun langsung berdiri dan beranjak ke tepi jalan. Di arah kanan, masih di depan pagar gudang, ada seorang anak sekolahan berkaos jersey bola yang jatuh beserta motornya yang berwarna biru. Begitu pula sempat kulihat dua anak lainnya yang berkaos hitam di belakang motor biru tersebut juga jatuh. Mereka tampak berusaha berdiri sambil menegakkan motor mereka. Tampak pula di samping motor biru tersebut, mobil angkot yang berwarna kuning.

Aku berpikir mungkin kedua motor ini jatuh karena diserempet sama mobil angkot ini. Posisi angkot yang, dari jarakku memandang, cukup dekat dengan kedua motor yang jatuh. Iya, aku pikir angkot tersebut tiba-tiba mengerem dan membuat kaget anak berkaos jersey yang mengendarai motor biru. Anak itu ikut mengerem mendadak dan begitu pula motor di belakangnya yang ikut jatuh karena mengerem mendadak. Beberapa orang di sekitar mulai berkerumun. Namun anehnya tidak ada yang meminta supir angkot untuk turun atau apalah. Angkot berhenti sebentar untuk menurunkan penumpang lalu beranjak pergi lagi.

Anak berkaos jersey, bermotor biru itu tidak sanggup menegakkan motornya sendiri. aku sempat melihat saat anak sekolah yang baru saja menaruh motornya di kios cucian motor ini beranjak menyebrangi jalan menuju tempat kejadian. Dialah yang membantu menegakkan motor tersebut, sementara si empunya motor beranjak ke tepi jalan. Dari jauh aku bersyukur bahwa tidak ada yang terluka parah. Kedua anak berkaos hitam juga sudah berhasil menegakkan dan menghidupkan motornya kembali. Namun tepat di saat itu, cairan merah dan kental jatuh membasahi aspal. Rupanya kepala si anak berkaos jersey itu terluka parah. darahnya terus mengucur, melewati mukanya, jatuh ke tangannya hingga ke pergelangan kakinya.

Anak berseregam pramuka lekas membonceng si anak berkaos jersey dengan motor birunya. Dia minta diantar ke rumahnya yang memang tidak jauh dari tempat kejadian. Rupanya mereka adalah teman satu sekolah. Sementara dua orang anak berkaos hitam itu melesat kabur karena kronologis kejadiannya tidak seperti yang kukira sebelumnya. Anak berkaos hitam itu yang telah menabrak dari belakang anak berkaos jersey bermotor biru. Anak tersebut jatuh ke depan dan entah menghantam apa kepalanya sehingga bisa luka dan mengeluarkan begitu banyak darah.

Ya, malangnya si anak itu tidak memakai helm. Nah, peristiwa ini menjadi himbauan bagi semua pengendara motor agar jangan lupa mengenakan helm, sekalipun tempat yang kita tuju itu dekat, tidak jauh-jauh dari rumah. Ini karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di jalanan. Meski kita sudah berhati-hati, belum tentu pengendara lain juga berhati-hati. Dan pastinya ikuti peraturan lalulintas yang berlaku dan jaga kecepatan laju kendaraan masing-masing agar tidak berlebihan. Ya, mudah-mudahan peristiwa seperti ini tidak lagi terulang. Untuk si pelaku, mudah-mudahan diberi kesadaran dan bertanggungjawab.

Angin masih berhembus sesekali. Keriuhan di jalanan tadi perlahan pecah dan terurai. Motorku masih dicuci, tentu aku masih harus menunggu beberapa saat lagi. Anak yang mengantar korban kecelakaan tadi sudah kembali ke kios untuk mengambil motornya yang juga masih dalam proses pencucian. Di bagian atas tasnya, tampak beberapa noda darah yang kuyakini jatuh dari kepala si anak berkaos jersey tersebut. Noda darah yang sama pun masih menjejak di aspal tempat kejadian perkara. Mungkin noda merah tersebut nantinya akan mengering sendiri bersamaan dengan helaan waktu dan hembusan angin.

No comments:

Post a Comment