Thursday, 23 July 2015

Vivid Dream

Ada beberapa jalan yang biasa muncul dalam mimpiku. Jika jalan-jalan tersebut muncul, seringnya mimpiku akan menjadi mimpi yang begitu terasa nyata atau boleh juga disebut sebagai vivid dream. Aku masih bisa mengingat mimpi tersebut, sensasinya, beberapa warna di dalamnya, ketika sudah terjaga.

 
Salah satu jalan tersebut masih teringat hingga detik kutuliskan cerita ini. Ya, kali ini pagi dan aku baru terbangun dari tidur plus vivid dream-ku. Di dalam mimpi itu, aku hendak pulang ke rumah dari sebuah sekolah. Dan, ya, aku pulang dengan berjalan kaki. Aku tidak begitu ingat wajah teman-teman yang berjalan pulang denganku. Hanya saja ketika melewati jalan itu, aku sendirian.

Sedikit kilas balik, awal mula aku tahu jalan tersebut, aku bermimpi kalau aku sedang kesasar (tidak pulang sekolah seperti mimpi kali ini). Tetapi tujuannya sama: ingin pulang. Lalu ada seseorang berjubah hitam (seingatku sudah tua), menawariku jalan ini. Dia bilang memang harus melalui jalan ini jika ingin pulang. Namun dia juga mengingatkan kalau jalan ini berbahaya.

Jalan ini dilingkupi pepohonan besar di kedua sisinya. Pohon-pohon tersebut tumbuh dengan jarak yang sama. Jika ingin melalui jalan ini, tetapkan niat dan ingatlah niat tersebut, selalu. Hal ini dikarenakan, di pertengahan jalan ini ada satu pohon yang terbuka, ada satu sisi dimana pohon tidak tumbuh. Di sisi tersebut terbuka sebuah jalan baru. Jalan yang baru ini lebih jauh, lebih memutar, dan lebih berbahaya.

Oh ya, bicara soal "bahaya", jalan ini pun mengandung godaan. Itulah mengapa, orang berjubah itu mengingatkanku untuk memantapkan niat. Ada beberapa monster yang akan muncul dan (seolah) menyerang kita jika niat di hati tidak mantap. Orang tersebut juga mengingatkanku untuk tidak melihat ke kiri atau kanan. Lurus memandang ke depan dan lebih baik lagi jika dilewati dengan berlari, ya, harus berlari.

Kali pertama aku melewati jalan tersebut, aku mengabaikan perkataan orang berjubah tersebut. Aku berjalan menyusurinya dengan santai dan langkah pelan. Ketika aku sampai di ruas jalan dengan pohon yang terbuka, aku malah seolah tersedot ke dalamnya. Rasa ingin tahu terkadang menyesatkanku atau jika tidak, menghabiskan waktu secara tidak efisien. Aku begitu penasaran dan mulai berbelok melewati jalan yang terlarang. Sedikit rasa takut dan mencekam menyelimutiku, namun tidak kugubris dan aku terus saja berjalan.

Ya, entah siapa orang berjubah tersebut. Peringatannya benar. Jalan yang berbelok itu berubah menjadi jalan berbatu. Susah untuk dilewati. Jalan tersebut meliputiku dengan kecemasan, apakah aku bisa sampai ke tujuan. Jalannya panjang, berkelok, dan memutar. Ah, memusingkan dan melelahkan.

Namun entah kenapa, disaat aku merasa tersasar dan terlalu jauh untuk kembali, aku sampai lagi di persimpangan itu. Di depan jalan yang pohonnya terbuka dan mengandung bahaya tersebut. Dengan segera, aku mengabaikan jalan tersebut dan kembali menyusuri jalan yang semestinya. Masih terasa sensasinya, saat hatiku sedikit cemas dan ingin sekali segera sampai ke tujuan.

Dan lagi-lagi, rintangan kembali menghampiri. Seperti peringatan yang telah diucap oleh orang berjubah, tiba-tiba ada sosok hitam yang menyeruak dari celah pohon. Sosok bertudung serupa bayangan hitam, tanpa muka, dan dia merentangkan tangannya menghalangi langkahku. Aku tahu, inilah (salah satu) monster yang dimaksud oleh orang berjubah tadi. Aku tidak sampai ke tujuan. Mimpiku terhenti di situ.

Ya, itulah awal mula “jalan” tersebut muncul di mimpiku. Dan di pagi ini, mimpi melewati jalan yang sama kembali datang. Seperti yang sebelumnya kuceritakan, aku tengah pulang sekolah di suatu siang yang teduh. Aku harus melewati jalan itu untuk sampai ke rumah. Aku tidak mengerti bagaimana cara otakku bekerja, hanya saja aku sudah merasa lebih familiar dengan jalan tersebut.

Saat kakiku mulai melangkah memasuki jalan tersebut, tidak ada lagi orang berjubah yang memberiku peringatan perihal jalan ini. Walaupun sensasi cemasnya masih terasa, namun cemas kali ini karena aku sudah tahu dan bisa mengingat bagaimana kali terakhir aku melewati jalan ini. Aku tahu jika salah satu pohon di jalan ini akan terbuka dan membentuk jalan baru yang berbahaya. Aku mengerti akan monster yang bisa muncul tiba-tiba menkautiku. Terlebih aku tahu untuk memantapkan niat, menetapkan tujuan yang jelas dan bergegas melewatinya.

Aku pun mulai melangkah masuk, berjalan selangkah demi selangkah. Langkah-langkah tersebut mulai semakin cepat dan akhirnya aku hampir setengah berlari. Aku tidak lagi memandang ke atas ke arah pohon-pohon yang berjejer dan warna biru langit yang mengintip dari celah daun-daun pohon. Sebaliknya aku memandang ke arah bawah, ke tanah cokelat keras yang menjadi pijakanku. Saat itu aku tahu, aku tengah sendirian, hingga aku sampai di persimpangan jalan.

Jalan yang terbuka itu sempat mengalihkan perhatianku sejenak, namun aku ingat apa konsekuensi jika aku memilih jalan tersebut. Dan kali ini aku berhasil melewatinya. Namun baru beberapa langkah beranjak dari cabang jalan tersebut, aku berhenti. Pandanganku melirik ke arah jalan berbahaya yang tak seharusnya dilewati. Entah sejak kapan, ada seseorang (yang kusadari sebagai teman satu sekolah) yang memilih jalan tersebut. Aku mundur beberapa langkah kembali ke simpang.

Kupanggil dia dan kuingatkan agar jangan melewati jalan tersebut. Sambil setengah teriak, aku katakan jika jalan tersebut berbahaya. Aku mengajaknya untuk bersama-sama pulang melewati jalan yang seharusnya. Dia bisa mendengar suaraku, dia merasakan kekhawatiranku namun dia menolak ajakanku. Dia bilang jika memang jalan itulah yang akan membawanya pulang.

Aku mengingatkannya lagi namun dia terus menolak. Aku tahu, aku harus bergegas dan aku tidak bisa menjemputnya atau menariknya dari jalan tersebut sementara dia sendiri tidak mau. Aku seperti orang yang kehabisan waktu yang jika tidak bergegas, jalan ini dan jejeran pohonnya akan menelanku dan selamanya aku melewati jalan yang seolah tidak ada habisnya ini. Keputusan pun dibuat. Aku mendoakan agar dia baik-baik saja lalu aku kembali melalui jalan yang seharusnya. Aku kembali melangkah maju.

Aku melangkah dan terus melangkah. Aku pusatkan pikiran dan tujuan awal yaitu pulang ke rumah. Aku yakini diriku untuk mengabaikan apapun yang melintas, menghadang, seolah jalan ini hanya fatamorgana, hanya bayangan yang bisa ditembus dengan mudah. Dan mungkin karena keyakinan itu, aku tidak lagi bertemu monster yang kemarin sempat menghadangku. Jalanku lancar, lurus, dan mantap. Dan aku bisa menarik napas lega saat melangkah melewati jejeran pohon yang terakhir. Aku berhasil melewati jalan tersebut. Aku sampai di ujungnya dan aku semakin yakin aku akan segera sampai ke rumah. Dan mimpi pun berhenti sampai di situ. Aku terbangun kembali ke dunia nyata.

Aku pernah membaca jika segala hal, baik itu manusia, tempat, ataupun benda yang kita lihat di mimpi, sudah pernah kita lihat sebelumnya di dunia nyata. Baik itu kita lihat secara sadar ataupun tidak sadar. Mata kita menjadi kamera yang merekam setiap detail dan menyimpannya di suatu bagian di dalam otak. Mungkin bagian itulah yang disebut sebagai memori. Kapasitasnya tidak terbatas. Kita bisa mengaksesnya secara sadar ataupun tidak sadar, seperti melalui sebuah mimpi.

Aku memang tidak bisa mengingat dimana atau kapan aku pernah melihat jalan-jalan yang terkadang muncul di mimpiku itu. Termasuk sebuah jalan dengan jejeran pepohonan tersebut. Mungkin kalian bisa membaca post-ku sebelumnya yang berjudul “Nightmare”. Tempat kejadian di mimpi burukku yang satu itu juga sebuah jalan yang telah lebih dari sekali muncul di mimpiku.

Ya, walaupun aku tidak bisa mengingat bagaimana memori soal jalan itu masuk ke otakku, aku tetap bertahan dengan pendapat yang kubaca tersebut. Ya, aku yakin jika pernah melihat jalan itu sebelum jalan tersebut muncul di mimpiku. Entah itu melalui sebuah gambar atau video atau apa pun.

Sebenarnya ada lagi satu atau dua jalan lainnya. Mungkin jika aku memimpikannya lagi, aku bisa tuliskan di sini. Dan walaupun sedikit telat, selamat hari raya Idul Fitri 1436H. semoga kita semua meraih kemenangan. Aamiin. :):)

2 comments:

  1. vivid dream itu beda ya sama lucid dream ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya berbeda. Jika Lucid Dream (kalau tidak salah) kita bisa mengendalikan mimpi tersebut. Dalam artian, kita tahu kalau kita sedang bermimpi dan kita yang menentukan jalan cerita di mimpi kita itu.

      Delete