Friday, 5 June 2015

Stardust – Ini dongeng untuk orang dewasa

“Kadang-kadang bintang jatuh. Tapi tidak kembali lagi ke atas.” - Yvaine


gambar diambil dari sini

Judul: Serbuk Bintang
Judul asli: Stardust
Pengarang: Neil Gaiman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: April, 2008 (cetakan ke-4)
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 978-979-22-2688-1

Dongeng adalah salah satu pelengkap masa kecilku. Sedari dulu aku sudah menjadi penikmat dongeng. Rasanya seru jika bisa sesekali mengunjungi negeri-negeri dongeng. Tempat para peri ataupun binatang yang bisa berbicara tinggal. Tempat beragam keajaiban dapat terlihat secara nyata tanpa proses pemahaman yang dalam. Yea, membaca dongeng serasa menghirup udara masa kecil dulu. :)

Sebagaimana dongeng yang dikonsumsi untuk anak kecil, rasanya hampir semua (jika ku tidak terputus di tengah jalan membacanya) memiliki akhir yang bahagia. Semua permasalahan terselesaikan. Yang jahat mendapat hukuman atau kalau tidak pengampunan. Yea, diakhir cerita tidak ada rasa negative yang muncul seusai aku membacanya semisal rasa kesepian, kemarahan, kemalangan, putus asa dan lain-lain. Happy ending dimana-mana.

Semenjak bertambah umur dan seusai membaca Reckless, pun sebelumnya membaca online berbagai celotehan menarik di internet, dongeng yang happy ending mulai terganti dengan dongeng jenis lainnya, haha. Setiap dongeng yang kubaca apalagi yang dengan rating (kali ini) dewasa, ada tersisip rasa-rasa lainnya itu. Walaupun demikian, keajaiban khas dongeng berikut makhluk penghuninya tidak banyak berubah.

Dua hari yang lalu, aku baru saja menamatkan sebuah buku dongeng yang di cover belakangnya telah mengklaim: Ini dongeng untuk orang dewasa. Ada yang bisa menebak? Oke, judulnya Stardust. Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Serbuk Bintang. Buku karangan Neil Gaiman ini terbitan Gramedia dan memiliki cover yang menarik. Aku suka covernya berikut komposisi warna di cover tersebut. Kertas dan ilustrasi di dalam novel ini juga membuat tampilannya semakin menarik.

Bukan klaim “Dongeng untuk orang Dewasa” yang membuatku tertarik membeli dan membaca buku ini. Jauh sebelum melihat buku ini, aku sudah akrab dengan judulnya. Dulu, aku pernah menonton sebuah film dengan judul yang sama di sekitar awal tahun 2000an. Ada beberapa adegan di film itu (yang samar-samar masih kuingat) sama persis dengan adegan yang kubaca di buku.

Malah awalnya kukira cerita ini hanya ada di film, tidak ada bukunya. Aku pun sedikit penasaran dan mulai mengecek tahun terbitnya. Ternyata tahun 1999. Well, setelah penasaran seperti ini, aku pun Googling. You know, do some research, haha. Oke, aku temukan di Wikipedia kalau film yang kutonton tersebut di rilis tahun 2007 dan memang diangkat atau berdasarkan novel ini.

Baiklah, buku ini bercerita tentang sebuah Desa bernama Desa Tembok. Dinamakan demikian karena ada sebuah tembok tinggi bewarna kelabu yang berdiri di sebelah timur desa. Tembok ini merupakan perbatasan antara Desa dengan wilayah dibalik tembok. Yea wilayah atau negeri yang sejatinya tempat para peri dan makhluk dongeng lainnya semisal penyihir tinggal. Negeri yang penuh keajaiban dan juga mengundang bahaya.

Tepat di timur desa Tembok terdapat tembok tinggi dari batu kelabu, yang menjadi asal mula nama desa ini. Tembok ini kuno, dibangun dari balok-balok granit kasar, merentang keluar dari hutan dan kembali memasuki hutan. (hal. 11)

Namun ada satu celah bukaan di tembok tersebut. Melalui celah tersebut seseorang atau sesuatu baik dari Negeri Peri ataupun manusia dapat melintas. Namun waga Desa Tembok tidak pernah mengijinkan hal semacam itu terjadi, kecuali dengan alasan tertentu. Oleh karenanya, mereka menempatkan secara bergantian setiap 8 jam, dua orang penjaga di kedua sisi tembok. Penjaga tersebut bertugas mengawasi dan mencegah, terutama anak-anak melewati tembok dan melintasi padang rumput di balik tembok tersebut.

Namun penjagaan tersebut dilonggarkan setiap 9 tahun sekali. Saat itu akan ada Pekan Raya di padang rumput di balik tembok. Beragam makhluk datang dan berjualan aneka macam dagangan di sana. Warga desa Tembok juga diperbolehkan untuk mengunjungi pekan raya tersebut. Dan di sanalah kisah ini bermula.

Dunstant Thorn memiliki seorang anak lelaki yang telinga dan matanya seperti Peri. Anaknya ini bernama Tristran Thorn. Saat anaknya berumur (kalau tidak salah) 17 tahun, Tristran memaksa untuk pergi ke negeri di balik tembok untuk mengambil bintang jatuh atas permintaan Victoria Forester. Gadis tercantik di Desa Tembok tersebut meminta bintang tersebut dibawa kepadanya dan jika Tristran berhasil, maka dia boleh meminta apapun dari Victoria. Tristran yang jatuh cinta pada kecantikan Victoria pun menyanggupi hal tersebut. Berkat bantuan ayahnya yang berhasil meyakinkan penjaga tembok, dia pun diizinkan untuk lewat.

Tristran berhasil menemukan si Bintang Jatuh yang ternyata bernama Yvaine atas bantuan katai berbulu (aku juga tidak mengerti ini makhluk apa, hehe). Namun dia harus melakukan perjalanan selama 6 bulan dari tempat si Bintang tersebut jatuh untuk sampai kembali ke desa Tembok. Nah petualangan pun dimulai karena ada makhluk lain yang mengejar si Bintang. Pun ada misteri lainnya kenapa si Bintang bisa jatuh, hohoho. :)

Tidak banyak yang bisa kuceritakan soal buku ini. Yang jelas ceritanya menarik dan menawarkan “eksotika” negeri Peri, haha. Banyak hal ajaib walaupun masih kurang puas dengan deskripsi tentang Katai Berbulu. Adapun kalimat yang digunakan di buku ini sedikit mengingatkanku dengan buku klasik. Yea, memang settingnya klasik banget, saat Charles Dickens masih muda, haha. Sehingganya ada beberapa kalimat yang membingungkan.

Oh yea perihal ending, mungkin tidak seekstrim Reckless, namun ending yang happy berubah saat aku membaca bagian epilog di beberapa halaman terakhir buku ini. Haduh, hingga kalimat terakhir yang kubaca, sedih dan sepi. Mengapa harus ada epilog dan ending-nya jadi sedih? Haha, okay, aku-nya yang terbawa kenangan masa kecil dengan dongeng-dongeng happy ending. Lupa kalau ini dongeng untuk orang dewasa dan yea, you can check some quotes of its here.

Haha, sekian review-nya. Enjoy your day, fellas!

No comments:

Post a Comment