Saturday, 13 June 2015

Senandung Hati Bidadari: Kisah si Cilik Aufa

“Tuhan itu Mahaadil. Semua manusia diberikan kelebihan dan kekurangan. Kita harus bersyukur.” – Ibu


gambar diambil dari sini

Judul: Senandung Hati Bidadari
Pengarang: Nunik Utami
Penerbit: Dar! Mizan
Tahun terbit: Juli, 2009
Tebal buku: 128 halaman
ISBN: 978-979-066-030-4

Silvi, salah satu anak yang kuajar private Bahasa Inggris, bercerita kalau dia suka membaca dan menulis. Dia baru berusia 11 tahun dan tahun ini akan tamat Sekolah Dasar. Dia termasuk yang suka membaca novel yang ditulis oleh anak-anak atau yang umum disebut KKPK (Kecil-kecil Punya Karya terbitan Dar! Mizan).

Aku pun mencoba mengingat kapan terakhir aku membaca buku anak. Hmm, cukup lama, sekitar beberapa tahun yang lalu. Oleh karenanya, sedikit iseng, kucoba meminjam buku koleksi Silvi. Dan di pertemuan berikutnya dia membawakan 3 buah buku dengan cover khas anak-anak. Warna warni dan yang kali ini so girly, haha. Aku pun meminta rekomendasi Silvi mengenai buku yang memiliki cerita yang aling menarik. Dia merekomendasikan dua buku.

Awalnya aku mengira kedua buku yang dia pinjamkan tersebut adalah KKPK. Namun malam ini, setelah kuperhatikan, satunya memang KKPK namun satunya lagi adalah Novel Anak yang ditulis oleh orang dewasa. Walaupun Silvi merekomendasikan dua buku tersebut, namun dia lebih menyukai yang KKPK karena memiliki cerita yang lebih menarik. Akan tetapi aku malah tertarik dengan novel anak yang satu ini. So, sementara ini aku akan menulis review tentang novel yang ini.

Jadi, judul buku ini adalah: Senandung Hati Bidadari. Buku ini berkisah tentang seorang anak SD yang bernama Aufa dan tinggal di Tanah Melayu (tidak dijelaskan secara lebih rinci di provinsi mana). Aufa dan kedua orangtuanya termasuk golongan kurang mampu. Ayahnya seorang nelayan dan Ibunya bekerja sebagai pencuci baju. Sementara Aufa sendiri, sehabis sekolah, dia bekerja memarut kelapa di toko milik Pak Sulaiman.

Masalah atau konflik di novel ini adalah tentang Ayah Aufa yang sakit dan membutuhkan uang untuk berobat. Ibunya dan terutama Aufa cukup bingung dan sedih memikirkan darimana memperoleh uang untuk berobat. Sementara Ayahnya sendiri sudah berhenti menjadi nelayan karena sakit tersebut.

Memang jika dilihat dari ide cerita, novel ini terlihat menarik dan cukup kompleks. Namun sayang, aku menilai si Penulis masih kurang pas dalam mengeksekusi ide cerita tersebut. Aku menemukan beberapa plot yang bolong. Yea, memang ini buku untuk anak-anak, namun kurasa anak sekarang sudah cukup kritis untuk memahami plot ini. Hmm, iya, aku memang belum menanyakan secara rinci kepada Silvi kesan dia membaca novel ini. Mungkin ini mengapa dia tidak terlalu mempromosikan buku ini kepadaku.

Ada beberapa contoh yang membuatku menjadi gagal paham. Pertama ada kisah saat Aufa ingin memiliki buku kumpulan lirik lagu modern. Buku tersebut dapat membantunya mencapai cita-citanya yaitu menjadi penyanyi/seniman terkenal. Suatu kali, ketika berjalan di depan sebuah SD yang bagus, ia melihat dua orang satpam ingin membakar beberapa buku, salah satunya buku yang ia mau.

“Di halaman belakang SD Harapan Bangsa, ada dua orang petugas penjaga sekolah. Mereka mengeluarkan sesuatu dari dalam karung. … Jumlahnya banyak sekali. Aufa berhasil membaca salah satu judul buku itu. Kumpulan Lagu-Lagu Modern. … Salah seorang petugas yang kumisnya tebal, bersiap-siap menuangkan sebotol minyak tanah ke buku-buku itu. Oh! Tidak!!! Semua buku itu akan dibakar!” (hal. 21)

Aufa telah meminta kepada satpam namun mereka malah marah dan tidak mengizinkan Aufa memiliki buku tersebut. Aufa pun berusaha mengambil buku tersebut lalu lari dari kejaran satpam. Ketika satpam berhasil menangkapnya, ia menggigit kedua tangan satpam tersebut dan berhasil kabur kembali. Satpam tersebut masih mengejar hingga Aufa sampai di sebuah danau. Ia pun menceburkan diri ke danau tersebut untuk bersembunyi.

“Setelah lari berkilo-kilo meter, Aufa sampai di tepi danau. Dari kejauhan, Aufa melihat petugas-petugas itu masih mengejar. … Aufa terjun ke danau. Dia terus berenang sambil sesekali menyelam agar petugas itu tidak melihatnya.” (hal. 24-25)

Apa yang bolong di sini? Kedua satpam itu ingin membakar buku. Apakah memang begitu cara sekolah yang “bagus” membakar buku-buku yang tidak terpakai namun masih layak baca? Logika kedua, Aufa sampai menceburkan diri ke danau karena satpam tetap mengejarnya. Jika buku itu memang mau dibakar, mengapa satpam sampai begitu pusing mengejar Aufa bahkan hingga “berkilo-kilo meter” dan meninggalkan tugasnya menjaga sekolah. Terlebih adegan menyebur ke dalam danau yang … itu kan berbahaya!

Okelah, mungkin Aufa anak melayu yang pandai berenang. Aku berpikir ke arah itu sebelumnya hingga ada cerita yang mematahkan hal tersebut. Ringkasnya begini, setelah melanjutkan membaca, ada cerita dimana Aufa membantu Ibunya mencuci baju di sungai. Kebetulan baju yang dicuci Ibunya hari itu adalah milik orang kaya di desa mereka yang cerewet, ketus dan sombong. Oke, mungkin ada yang bisa menebak kelanjutan kisah ini? Yea, Aufa tergelincir dan jatuh ke sungai. Ia terbawa arus karena tidak bisa berenang. What? “Tidak bisa berenang!” Lalu mengapa tempo hari ia sampai terjun ke danau? Mengapa tidak diberikan cara lain agar si Aufa selamat dari kejaran Satpam yang “tidak ada kerjaan” itu.

“Aufa terjatuh ke sungai. Baju yang ada di tangannya terlepas dan hanyut. … Aufa tidak bisa berenang. Ia terseret arus yang deras.” (hal. 72)

Maaf, aku mungkin agak keras mereview buku ini. Hanya saja, apa mungkin anak sekarang tidak menyadari logika yang patah ini. Jikalau memang anak-anak tidak akan peduli dengan logika yang gagal paham ini, bukankah lebih baik jika kita melatih critical thinking mereka dengan cerita-cerita yang runtut dan masuk akal.

Dan yea, masih ada contoh lainnya seperti Aufa yang tidak pulang selama dua hari. Bayangkan anak SD, masih kecil, kelaparan, namun berani tidak pulang. Lalu ada juga tiba-tiba dia memasak di dapur pagi buta karena mau berjualan gorengan membantu mencari uang untuk pengobatan ayahnya. Pertanyaannya darimana ia dapat uang untuk modal jika makan sehari-hari saja susah.

“Pagi ini, Aufa mengayuh sepedanya perlahan. Perutnya terasa sakit karena menahan lapar. Ibunya tidak memiliki makanan untuk sarapan.” (hal. 28)

“Ohh … padahal, sudah dua hari ini anak itu tidak pulang.” (hal. 39)

“Kamu kemana saja, Nak? Kenapa dua hari ini tidak pulang?” Tanya Ibu cemas.
“Aku … aku sedang menyiapkan pertunjukan hebat,” sahut Aufa bangga.
(hal. 45)

“Aku sedang membuat gorengan, Bu,” katanya berseri-seri.
“Gorengan?” Ibu terheran-heran.
“Iya. Ada pisang goring, ketan, juga tape goring,” sahut Aufa.
(hal. 80)

Hmm, yea, aku memang tidak terlalu banyak membaca novel anak. Aku juga belum pernah membuat cerita anak. Apakah memang boleh, plot tersebut dibiarkan bolong dan mengundang pertanyaan? Jika seandainya ini adalah KKPK dan yang menulis adalah anak kecil, aku bisa maklum. Namun ini berbeda. Hmm, yea mungkin aku yang terlalu membawa logika ketika membaca buku ini. Pun tidak terlalu banyak referensi novel anak yang kupunya. Maaf jika review ini terdengar terlalu mengkritisi.

Baiklah, di luar dari hal tersebut, novel ini memang mengandung pesan positif. Salah satunya yang begitu kentara adalah tentang perjuangan dan tidak gampang menyerah dalam meraih sesuatu. Yea, ini meraih sesuatu yang positif, ya. Oh ya, selain itu, pesan lainnya adalah tentang rasa syukur. Kedua pesan inilah yang mungkin penulis ingin sampaikan kepada para pembaca cilik. :)

Penulis pun memilih kata-kata yang sederhana dan mudah dicerna oleh anak-anak. Pemilihan huruf dan ukuran font beserta spasinya pun turut membantu membuat buku ini nyaman untuk dibaca. Beberapa ilustrasi di dalamnya cukup menarik dan biasanya anak-anak akan suka.

Yea, walaupun aku agak menyayangkan plotnya yang cukup membuatku gagal paham (apalagi ini penulisnya bukan anak-anak), buku ini oke untuk dibaca buah hati anda. Namun lebih baik dampingi anak-anak saat membaca agar ketika mereka bingung, mereka bisa langsung bertanya kepada orangtuanya.

Baiklah, sekian review aku kali ini. Thanks Silvi, nanti kakak kembalikan bukunya. :D

No comments:

Post a Comment