Wednesday, 15 April 2015

Malaikat Kematian

Entah apakah aku sudah pernah menulis tentang hal ini sebelumnya. Jika memang sudah, silakan dimaklumi, ya. Haha, terkadang ada beberapa tulisanku (terutama di blog ini) yang kusendiri terkadang lupa telah menuliskannya. Begitu pula, ketika melihat judulnya, aku lupa itu tulisan bercerita tentang apa. Namun jika kusudah membaca ulang, aku baru mulai ingat. Ya, hal- hal semacam itu.

Entah karena apa pula aku bisa begitu. Boleh jadi karena aku suka menulis dengan spontan. Seringnya tanpa melalui pengendapan. Mungkin juga karena terlalu ajaib judul yang kupakai, haha. Hmm, terkadang aku merasa takjub sendiri. Ternyata diriku di waktu lampau mampu menulis hal seperti itu. Walupun ada yang belum matang. Haha, kedengarannya semacam tulisanku bagus saja, ya. Namun memang iya… iya menakjubkan, haha. Ketika membaca ulang tulisan yang pernah kita tulis, terutama jika tulisan tersebut kita buat dengan sepenuh hati dan jiwa, tulisan itu suatu hari bisa jadi mood booster. Paling tidak, tulisan-tulisan tersebut dapat membuatku tersenyum.

Oh oke, balik lagi ke paragraf pertama tadi. Aku ingin menuliskan sesuatu. Dan ini salah satu pertanyaan yang singgah di kepala. Sudah lama aku memendam pertanyaan ini #halah. Hmm, baiklah aku akan mulai dari sebuah cerita yang terjadi di sore ini.

Aku (lagi-lagi) melihat seekor reno/lena yang sedang merayap di dinding. Entah kenapa si Reno suka banget merayap di dinding kamar. Ini sudah ketiga kalinya dalam satu minggu yang sama. Suwer, kamar aku bersih, lho! Jika terkait dengan cuaca, memang cuaca akhir-akhir ini rada panas. Yea, mungkin karena itu si Reno pada muncul (yang entah dari mana) lalu merayap naik ke atas kamar.

Seperti biasa, aku tidak bisa membunuh atau membuang reno itu dengan tisu. Aku juga sudah malas mengambil raket badminton di dapur lalu membunuhnya dengan raket itu. Andalanku akhir-akhir ini, spray anti-serangga merk Soffel. Aku semprotkan soffel yang biasa untuk nyamuk itu ke badan si Reno. Dia menggeliat dan seringnya melawan dengan mengeluarkan cairan hijau bersinar yang entah apa namanya itu. Aku pikir si Reno ini bernapas melalui kulit sehingga cukup ampuh ketika cairan soffel itu mengenai tubuhnya. Yup, aku sering banget sukses menghabisi hewan reno/lena itu dengan Soffel.

Yang tersisa dari aksiku hanya tiga hal. Pertama dinding yang basah karena spray tersebut. Reno/lena yang mati lalu jatuh ke lantai. Kemudian yang terakhir bau khas Soffel yang semerbak menyebar ke sepenjuru ruangan kamar (malah kalau kubuka pintu, baunya menyebar hingga ke luar kamar).

Iya, itulah yang biasa tersisa dan la la la, aku kembali melanjutkan aktivitas. Namun sore ini ada sesuatu yang lain. Tiba-tiba pertanyaan tersebut kembali melintas. 

gambar diambil dari sini



Hmm, jika manusia meninggal karena nyawanya dicabut malaikat maut, lalu bagaimana dengan hewan? Apakah malaikat maut juga yang mencabut nyawanya? Apakah malaikat yang mencabut nyawa manusia sama dengan malaikat yang mencabut nyawa hewan?


Jika memang benar ada malaikat yang ditugasi untuk itu, hmm berarti ketika aku membunuh si Reno/Lena tadi, ada malaikat maut dong di dekatku? Jangankan Reno, bagaimana dengan nyamuk yang memang sering kita teplok dan basmi? Hmm, merinding rasanya jika memikirkan hal itu. Adakah teman-teman berpikir dan merasa hal yang sama?

Mungkin pikiran ini absurd. Namun apa daya, pengetahuanku tentang ini masih sedikit. Jika pembaca di luar sana ada yang tahu, boleh lah berbagi. Haha, mungkin itu saja ceritaku kali ini. Enjoy your time, guys! :):)

No comments:

Post a Comment