Sunday, 5 October 2014

Review: Malam Minggu Miko Movie (2014)


gambar diambil dari sini

Malam minggu ini Miko (Raditya Dika) kembali mengunjungi kita. Kali ini dia menceritakan perjuangannya melepas kutukan (katakanlah) “Selalu gagal jika mulai serius dengan seorang cewek". Jika Miko berhasil, maka doi bisa lancar menjalin hubungan bersama Anna (Mentari De Marelle).



Gagasan mengenai kutukan ini diajukan oleh Ryan (Ryan Adriandhy) yang muncul dengan cara super duper aneh. Haha, Ryan yang baru pulang dari perantauannya di lautan, tiba-tiba mendatangi Miko untuk membantunya melepaskan kutukan tersebut. Nah, asal mula kutukan itu sendiri adalah baju lab Miko jaman SMP dulu yang di belakangnya ada tulisan tinta merah. Siapakah yang telah menjatuhkan kutukan ini?



Di lain pihak, teman satu kontrakan Miko, Dovi (Andovi da Lopez), tengah berhadapan dengan tugas akhirnya di kampus. Dovi selalu tidak lulus di mata kuliah salah seorang dosennya. Mahasiswa yang telah merantau ke sepenjuru dunia dan sok maco padahal ahli banget nge-facial wajah, harus menerima tantangan dari dosen gaje-nya itu. Dia harus menemani tiga tamu (yang juga) gaje dari Jepang, bernama Haruki yang punya hubungan aneh dengan vas bunganya, dari –lupa dari mana-, bernama Mamadi yang hidupnya penuh kata kematian), dan seorang lagi dari Polandia yang bernama Alexandra yang cantik, hobi pegang kamera dan rada jutek dengan Dovi).



Okay, sementara Anca (Hadian Saputra), berkutat dengan Ujian Pembantu dari Kitab Pembantuwardana. Jika Anca bisa lulus dari ujian tersebut, maka doi diizinkan untuk menikah sekaligus mewarisi pusaka keluarga. Haha, ini pusaka warisan turun temurun secara keluarga Anca (baca: Bapak dan Ibunya) adalah pembantu berdarah biru. Haha, ngakak, deh sewaktu dikasih lihat beberapa bukti keberadaan keluarga Anca yang telah mengabdi dengan banyak orang besar di Indonesia.



Pertama kali tertarik dan memutuskan untuk menonton ini film karena tergoda dengan thriller-nya. Lagipula aku merasa sudah lama sekali gak nonton komedi berkualitas. Walaupun masih ada banyak hal yang harus dibenahi dari film ini (semacam acting yang kurang luwes dan scoring music yang kadang kurang mampu membangun suasana) namun so far, film ini asyik dan ringan banget buat ditonton. Pun di bagian akhir film, ada beberapa pesan tentang kehidupan ala Radit yang menarik buat disimak. Sementara aku, paling ingat adegan saat Miko dan Ryan kecil yang mabuk larutan kimia di labor sekolah.

Haha, okelah, mungkin sedikit review ini bisa bermanfaat bagi kalian yang sudah menyempatkan membaca. Dan thanks buat Ez yang telah mau menonton film ini di bioskop, haha.

No comments:

Post a Comment