Sunday, 5 October 2014

Bapak Penjual Es Bujang



Hatiku terkesan ketika kudengar ucapan terima kasih yang mengalir dari seorang pedagang es campur di tepi jalan. Ucapan itu ditujukan kepadaku karena aku telah membeli dagangannya, meski hanya satu bungkus. Apa yang menjadikannya istemewa? Tak lain adalah ketakziman yang juga ikut mengalir bersama ucapan itu. Ya, ucapan itu diucapkan dengan takzim, tegas, dan hmm penuh dedikasi.

gambar diambil dari sini

Haha, mungkin kalian merasa ini terlalu berlebihan. Baiklah, aku akan menjelaskan cara pandangku terhadap ucapan terimakasih ini. Namun sebelum itu ada baiknya jika aku bercerita dulu perihal bagaimana dan siapa yang mengucapkan kata itu kepadaku.

Beberapa malam yang lalu, aku dan Rani (adikku) diminta Bapak untuk membelikannya es campur. Si Bapak saat itu memang sedang ingin sekali minum es campur. Seharusnya kami membeli es campur di daerah Selincah. Namun kami terlambat karena es campurnya sudah habis terjual. Alhasil kami beranjak ke daerah Simpang Kantor Camat Jambi Timur. Di sana ada seorang penjual es campur yang sudah puluhan tahun menjual dagangannya di daerah itu. Tidak ada nama ato merk dari warung es campur itu. Kami biasa menyebutnya dengan nama Es Bujang.

Sudah sedari kecil, Emak dan Bapak membawa aku dan Rani makan atau membeli es campur di sini. Selain menjual es, di sini juga dijual buah-buahan segar semisal nanas, nangka, papaya, bengkoang dan lain-lain. Buah-buahan ini dilengkapi dengan saus sambal khas buatan tangan si penjual.

Mengapa disebut warung Es Bujang? Aku sudah bertanya kepada Emak mengenai hal ini. Emak pun berkisah bahwa Bujang itu diambil dari nama anak lelaki empunya warung es ini. Si Bujang ini mempunyai seorang kakak perempuan yang menikah dengan seorang pria yang aku tidak tahu siapa namanya. Seiring berjalan waktu, kedua orangtua Bujang sudah tidak sanggup lagi untuk berjualan.

Bujang sendiri bukan penerus warung es legendaris ini. Kakak perempuannya lah beserta suami yang meneruskan dagangan ini. Mungkin ketika siang, kamu bisa melihat suami istri tersebut berjualan bersama. Namun ketika malam, hanya suaminya saja yang berjualan. Suaminya itulah yang kumaksud sebagai penjual es bujang yang mengucapkan terimakasih dengan cara yang penuh dedikasi seperti itu.

Haha, mengapa aku bilang penuh dedikasi? Begini kawan, berapa kali pedagang yang kalian beli dagangannya mengucapkan terimakasih? Mungkin ada banyak yang seperti itu. Sebagian besar mungkin mengucapkannya dengan nada yang tidak aneh, dengan intonasi yang biasa. Bahkan terkadang ada yang terburu-buru sehingga terkesan seperti hapalan dan latah. Namun bapak penjual es Bujang ini berbeda. Ketika mengucapkan terimakasih, dia mengucapkannya dengan serius, maksudku tidak ada kesan hapalan atau ala bisa karena biasa. Dia mengucapkannya dengan takzim sehingga yang terasa bukanlah basa basi saja.

Lalu perihal dedikasinya yang aku bicarakan di atas bisa terlihat dari penampilannya saat berjualan. Bapak ini tidak memakai kaos oblong lalu celana dasar santai. Bapak penjual es ini memakai kemeja yang dimasukkan ke dalam celana panjangnya. Kedua potong pakaian yang ia pakai itu masih terlihat baru, maksudku bukan pakaian lusuh. Belum lagi ada wangi parfum yang sepertinya memang ia semprotkn ke bajunya. Yup penampilannya sangat rapi, bersih dan wangi. Walaupun hanya berjualan es, namun ia memberikan effort khusus dan tidak serampangan. Ya, seolah penjual es professional, deh, haha.

Nah, itulah mengapa aku sangat terkesan dengan cara si Bapak penjual es ini. Betapa hal kecil yang kita dapat di hidup ini harus disyukuri. Kecintaan dan dedikasi si Bapak membuatku berusaha untuk lebih menghargai dan mencintai pekerjaan yang kini aku lakoni. Aku harus terus berusaha untuk professional dan memberikan effort yang maksimal. Lagipula waktu terus berputar. Boleh jadi rutinitas yang selama ini kita jalani akan segera usai dan berganti dengan rutinitas lainnya. Ya, bukankah semua ada masanya?

Yup, itulah salah satu kisah tentang si Bapak penjual Es Campur yang kutemui suatu hari. Ada banyak sekali sisi menarik di dalam hidu ini jika kita mau sejenak berhenti dan mengamati. Dan aku merasa sudah lama sekali tidak berhenti untuk melihat poin-poin menarik disekitarku. Ya, poin menarik yang membawa benak ini berpikir tentang esensi hidup. Haha, maaf, ya, bahasaku makin lebay saja. Baiklah aku akan menutup kisah ini di sini. Mudah-mudahan bermanfaat. :D

No comments:

Post a Comment