Sunday, 14 September 2014

Dalam Dekapan Jarak

“Gak mungkin! Rian gak mungkin seperti itu. Jangan bawa Rian! Riaannn…”

Niya terbangun dengan napas terengah. Butiran peluh mengalir di dahinya. Mimpi tentang Rian telah membuatnya kembali terjaga. Ternyata ia tertidur saat mengerjakan tugas Pak Hendra, dosen Bahasa Inggrisnya.

Niya meringis sejenak menghalau pusing yang sempat hinggap di kepala. Ia ingin beringsut ke tempat tidur namun kelip lampu kecil di tepi laptopnya membuatnya mengurungkan niat. Mimpi yang membuatnya terjaga tadi kembali melintas. Niya mengulurkan tangannya, layar laptop pun kembali menyala.

Sketsa oleh Carolina Ratri. Diambil dari sini

Niya termanggu. Airmatanya mulai menetes. Matanya memandang penuh rindu. Ya, rindu yang dengan susah payah ia bendung. Rian masih tersenyum lewat fotonya yang terpajang sebagai wallpaper di layar laptop Niya. Andai Rian benar ada di dekatnya, pastilah ia sudah menghapus airmata yang saat ini menderas di pipinya.

“Happy Birthday, Sayang!” Rian merangkul tubuh mungil Niya dengan lembut.

“Makasih, ya!” ucap Niya tanpa bisa menahan senyumnya.

“Kalau begitu, sekarang kamu harus tutup mata dulu!”

“Eh, kenapa aku harus tutup mata?” ujar Niya

“Sshhh, pokoknya tutup mata dulu!”

Hmm, Niya menghela napas. “Okay!”

Rian lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru hitam dari kantongnya. Ia lalu membuka kotak itu dihadapan Niya. Sebuah cincin putih bertengger manis di dalamnya.

“Sekarang kamu boleh buka mata!”

“Sayang, ini…” sebelum Niya mampu menyelesaikan kata-katanya, Rian dengan lembut memasangkan cincin itu di jari manis Niya.

“Kamu suka, kan?”

“Iya. Tapi ini pasti mahal.”

“Hmm, nggaklah. Kemarin bisnisku lagi bagus-bagusnya. Jadi aku punya sedikit uang untuk membeli ini.”

Adegan itu kembali terulang di benak Niya. Selama ini yang ia tahu, Rian bekerja meneruskan bisnis Ayahnya. Rian begitu lembut dimatanya. Namun dua minggu kemudian Rian tertangkap tangan dan tidak bisa mengelak.

Dua puluh tahun jarak yang kini terbentang diantara mereka. Dua puluh tahun sesuai vonis yang Hakim jatuhkan. Rian terbukti sebagai pengedar barang haram. Dan kini ia mendekam di Pulau Buangan. Meski begitu, Rian tetap hidup dan istimewa di hati Niya.

Niya mengusap cincin Rian di jari manisnya. “Cinta ini meluruhkan logikaku. Wahai jarak yang terkutuk, enyah kau oleh rinduku!”

Monday Flash Fiction. Prompt #61: Jarak yang Terkutuk. (330 kata)

No comments:

Post a Comment