Tuesday, 19 August 2014

Resepsi Eka di Suak Kandis

Seperti yang kusebutkan di post sebelumnya, di bulan ini ada tiga orang teman yang mengadakan acara walimahan. Kalau di post sebelumnya kucerita tentang resepsinya kak Lola, kali ini tentang resepsinya Eka Suryani.

Eka mengadakan resepsi di hari Minggu, tanggal 10 Agustus 2014. Resepsi digelar di rumahnya di daerah Suak Kandis, Kumpeh. Nah, yang bikin seru, jarak antara Suak Kandis (rumah Eka) dengan Kota Jambi itu sekitar 73 km. Haha, lumayan jauh, kan? Apalagi jika bolak balik, total sekitar 146 km, jadinya.

Ana pun segera mengumpulkan massa. Hingga hari H, ada delapan orang yang fix akan pergi ke resepsi Eka. Mereka adalah aku dan Ez, Ana dan Satria, Dadang dan Bella, serta Kaspun dan Novi, pacarnya. Disepakati untuk kumpul di rumahku karena disitu jarak paling dekat untuk menuju Kumpeh.

Rencananya kami akan mulai beranjak pukul 10 pagi. Oleh karena itu diharapkan semua personel telah berkumpul di rumahku sebelum pukul 10. Ana dan Satria telah datang, seperti biasa on time, yang kemudian disusul Ez. Namun, ujung-ujungnya kami baru berangkat pukul 11 karena Dadang dan Bella terlambat, haha. Sementara Kaspun dan Novi menunggu di simpang Jembatan Kumpeh.

Jalan untuk ke Suak Kandis lumayan bagus. Memang ada beberapa ruas yang hancur, ada ruas yang masih diperbaiki dan ada ruas dengan jembatan yang menanjak dan patah, namun bisa dikatakan lumayan bagus. Kami bermotor dengan kecepatan 80-90 km/jam. Awalnya aku agak cemas dengan Dadang dan Bella. Haha, Dadang jarang bawa motor dengan kencang. Belum lagi ada banyak lobang di ruas jalan tertentu plus hewan-hewan yang tiba-tiba menyebrang. Haha, namun nyatanya Dadang mampu mengimbangi kami.

Cuaca awalnya terlihat mendukung. Namun kami harus dua kali berhenti ketika berangkat menuju Suak Kandis karena dihadang hujan. Berhenti yang pertama, hujannya tidak terlalu deras dan ada emperan toko yang bisa disinggahi untuk berteduh. Namun ketika kembali melaju, Ez dan aku serta Dadang dan Bella tertinggal di belakang. Kami semakin tertinggal karena aku dan Ez harus mengisi bensin. Dan tiba-tiba, di daerah yang sepi hunian penduduk, hujan turun dengan sangat lebat. Pandanganku mengabur tertutup air hujan. Ez terus melaju karena memang tidak ada tempat atau rumah penduduk yang bisa disinggahi. Syukurlah beberapa meter kemudian, ada sebuah pondok kayu.

Kami memarkir motor dan buru-buru berteduh sambil berhati-hati melewati jembatan menuju teras rumah tersebut. Yup itu memang rumah panggung. Hujan membuat kayu jembatan penghubung antara teras rumah dan pinggir jalan agak licin. Aku memakai wedges dan tak mau jatuh ke bawah. Huft, belum lagi ditambah kepanikan diguyur hujan. Hahaha, alhasil baju basah. Jaketku basah hingga tembus ke dalam. Celanaku juga basah hingga bisa diperas. Makeup di muka juga sudah luntur. Belum lagi tasku sayang kehujanan dan nyaris kuyup, hiks. Haha, seru banget deh kondangan kali ini.

Ya, sudah telat untuk putar arah. Dengan seadanya kami kembali melanjutkan perjalanan yang kira-kira tinggal 15-20 menit lagi itu. Pakaian yang basah tadi sudah kering lagi di badan. Dan tada.. setelah sekitar 2 jam perjalanan, Alhamdulillah sampai juga di KM 73 Desa Suak Kandis. Resepsi Eka berada di pinggir jalan. Kami mengambil tempat parkir yang berdekatan lalu sibuk mengurus penampilan masing-masing, haha.

Pesta resepsi Eka ramai dihadiri para tamu. Hiburannya berupa organ tunggal dengan daftar antrian penyanyi yang cukup panjang. Hidangannya enak-enak. Ya, walaupun agak basah, namun ya sudah dibawa enjoy, aja. Kami pun berpencar ketika makan, mencari dan mengisi tempat duduk yang kosong. Aku, Ez dan Dadang duduk terpisah dari yang lainnya. Ez dan Dadang makan hingga keringat mengucur. Aku pun sibuk mengeluarkan tissue untuk mereka. Aku pun juga tandas memakan hidangan yang sudah aku ambil. Mungkin karena sudah lapar dan kecapekan kali, ya, haha. Dadang pun berkata yang sama, rasanya dia gak mau pulang karena memikirkan jauhnya jalan pulang yang harus ditempuh nanti, haha.

Mungkin ada setengah jam lebih kami kondangan. Ana memberi kode untuk berdiri dan pamitan. Kami bersama-sama beranjak ke panggung si Pengantin. Setelah bersalaman dengan Pengantin dan para orangtua, kami berfoto sebagai kenang-kenangan. Cheers!



Di parkiran motor ketika siap untuk pulang, Bella sibuk berkata mau singgah ke candi sebentar. Haha, rupanya cuma Bella yang melihat kalau ada candi atau lebih tepatnya pemugaran candi di salah satu ruas jalan. Aku tidak tahu candi apa yang dimaksudnya, kalau pemakaman, ya, ada aku lihat. Namun Bella keukeuh untuk singgah di candi tersebut.

Saat itu sudah pukul dua lewat. Ana mengajak untuk singgah dan sholat di rumah Novi, pacarnya Kaspun. Ternyata Novi orang daerah sini. Kami pun singgah dan Bella meminta Dadang untuk membeli manggis sebentar. Haha, dasar Bella! Aku tidak tahu pasti ada di KM berapa rumah Novi, namun rumahnya di pinggir jalan. Halamannya cukup luas untuk memarkir 2-3 mobil, walaupun untuk turun ke rumahnya harus melalui jembatan kecil dari beton yang terlihat curam ketika kamu memakai wedges atau heel, hehe.

Di rumahnya kami dijamu dengan baik. Ibunya Novi ramah dan meminjamkan kami sajadah, mukena, serta peci yang bagus dan wangi untuk kami sholat. Air di kamar mandinya juga dingin dan segar. Ahh, lumayan, bisa sedikit meluruskan badan sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Haha, mungkin lebih baik jika sebelumnya kami mampir dulu di sini. Iya, sebelum sampai di rumah Eka. Rumah Novi jauh lebih nyaman dari pada di tepi jalan untuk kembali berdandan.

Oke, saatnya memulai perjalanan pulang. Sudah jam tiga lewat. Dan memang Bella meminta berhenti untuk berfoto di candi yang dia maksud. Namanya candi Sogo. Masih dalam kondisi pemugaran. Bentuknya masih berupa batu bata yang berserak di tanah. Novi bilang candi ini boleh jadi dulunya sebuah dapur tempat memasak. Awalnya di area itu akan dibangun sebuah ruko. Namun ketika para pekerja menggali untuk membuat pondasi, di temukan batu-batu di bawah tanah. Candi Sogo ini masih tertimbun tanah dan memrlukan pemugaran yang baik dan jika bisa dilakukan sesegera mungkin. Dan karena sudah sangat lelahnya, tidak ada yang berminat untuk berfoto selain Bella, haha. Ya, mungkin nanti kalau candi ini selesai dipugar, Bella bisa datang lagi lalu berfoto ulang. Terus bisa dibandingkan kondisi sebelum dan sesudah pemugarannya, hehe.

Well, perjalanan pulang kali ini cukup panjang. Hujan deras berkali-kali menghadang kami. Angin dingin menusuk hingga tulang. Ana dan Satria terlihat begitu kedinginan. Seharusnya aku meminjamkan Ana jaket ketika kumpul di rumahku tadi. Namun aku dan Ez juga gak kalah parahnya. Hujan memang tidak merembesi jaket kami karena kami bolak balik berteduh. Namun hujan merembesi celana dan sepatu. Tangan dan kaki mulai pucat dan kisut. Lain kali aku akan ingat untuk membawa mantel atau meletakkan satu mantel di bagasi motor.

Di perjalanan pulang ini kami terpencar. Kaspun dan Novi yang entah dimana, entah di depan kami atau di belakang kami. Sementara aku dan Ez terus berusaha beriringan dengan Satria dan Ana. Lain halnya lagi dengan Dadang dan Bella yang saat itu jauh di belakang kami. Ya, Dadang memang berencana begitu. Dia tidak mau memacu kendaraannya sekencang kami. Namun ketika kami berteduh untuk yang ketiga kalinya, Dadang dan Bella lewat dengan santainya. Kami biarkan mereka duluan. Mudah-mudahan dia tidak marah kami tinggal di belakang, dan sepertinya memang tidak, haha.

Kami (aku, Ana, Ez, dan Satria) sempat singgah di sebuah mesjid. Lokasi saat itu sudah hampir dekat dengan jembatan Kumpeh. Di mesjid tersebut aku sempat mencuci kaki sementara yang lainnya berwudhu untuk sholat Ashar. Aku bukan tidak mau sholat, hanya saja air hujan dari jaket yang kupakai turun ke pinggang hingga merembesi celanaku bagian belakang. Kuyup banget rasanya. Dan kamu tahu, air di mesjid tersebut terasa hangat di kulit kami yang pucat dan kisut termakan udara dingin. Hujannya memang dahsyat dan kuyakin pula hujan kali ini merata. Wow, dingiin! :D

Aku dan Ez berpisah dengan Ana di simpang jembatan Batanghari II. Ana dan Satria mengisi bensin di SPBU terdekat (Satria anti banget membeli bensin ketengan, haha). Aku dan Ez kembali melanjutkan perjalanan ke rumah. Hmm, perutku terasa lapar sekali dan sepertinya makan mie instant rebus pakai telur enak banget, deh. Aku pun mengajak Ez mampir ke warung terdekat untuk membeli mie instant. Si penjualnya sampai kebingungan melihat kami yang basah kuyup. Aku juga gak berani masuk ke warungnya karena gak mau mengotori lantai warung, haha.

Alhamdulillah, sampai juga aku di rumah. Di teras rumahku tampak Bapak dan Emak yang sedang mengobrol santai. Mereka bilang kalau Dadang dan Bella sudah sampai duluan tadi. Bella sudah mengambil motornya dan mereka sudah beranjak pulang ke rumah masing-masing. Sudah hampir pukul enam sore, sudah hampir magrib. Aku lekas memasak mie instant yang tadi sudah di beli. Kubuatkan satu juga buat Ez, dan ahh enak banget rasanya. Ez sholat magrib di rumahku baru setelah magrib, dia bergegas pulang.

Haha, such a long, cold and tiring day. But I enjoyed it. Mengunjungi tempat baru sekaligus menghadiri undangan bareng teman-teman. Ini perjalanan ketigaku setelah perjalanan ke Bulian dan ke Tungkal yang ditempuh dengan motor kesayangan. Perjalanan jauh dengan jarak total lebih dari 100 KM dan dilakukan seharian. Weew! Oke, apalagi yang bisa dilakukan jika sudah kembali ke rumah selain istirahat. Dan tentunya aku harus cari waktu buat service motor kesayangan itu. Alhamdulillah for everything. Oke, begitulah cerita jalan-jalanku kali ini. See ya on the other posts! :D

No comments:

Post a Comment