Friday, 18 July 2014

Tangan (Tidak) Dingin dan Pohon Pepaya

Bapak selalu begitu kalau menanam pohon. Orang bilang tangannya bukan tangan yang dingin. Pernah menanam pohon Duku, tapi itu pohon tidak pernah tumbuh lebih tinggi dari tinggiku. Boro-boro berharap akan berbuah, kan. Ya, tanaman atau pohon yang Bapak tanam jarang sekali sukses. Tidak seperti Pa’De dan Bu’Lek. Apa yang mereka tanam di atas tanah, tumbuh dengan subur dan menghasilkan.

Nah, Emak juga mengaku seperti itu. Jarang ada tanaman yang ditanamnya bisa tumbuh. Padahal hatinya senang jika tanaman itu bisa menghasilkan, buah misalnya. Hal ini bikin Emak kapok. Belum lagi Emak masih cukup enggan untuk riweh dengan pupuk dan tanah bakaran. Emak dan Bapak mungkin memiliki kesamaan dalam hal ini, bukan bertangan dingin.

Bapak? Ahh, tidak juga kapok seperti Emak. Sebulan atau mungkin dua bulan yang lalu, Bapak membawa pulang tiga bibit papaya di dalam polibek hitam. Saat Bapak sedang tidak ke Pabrik, Bapak mulai menanam bibit papaya tersebut. Diberinya juga pupuk kotoran kambing. Agar daun-daun kecil yang sudah tumbuh di bibit tersebut tidak diserang gerombolan ayam Mbah Das, Bapak memagarinya dengan karung pelastik. Nah, kalau soal bangun membangun, bapak memang jagonya.

Waktu berlalu. Dan, ya tangan bapak masih saja tidak dingin. Hanya satu bibit yang berhasil tumbuh dengan segar. Sementara yang dua laginya menjelang gagal. Daun-daunnya kecil bahkan ada yang kuning layu. Gerombolan ayam Mbah Das saja tidak berselera untuk menganggu.


Bibit pepaya yang tumbuh subur

Bapak pun berkonsultasi ke Rani, adikku yang kini sedang menyelesaikan skripsinya tentang penyuluhan pertanian. Ya, adikku kuliah di Fakultas Pertanian jurusan Agribisnis. Rani bilang, mungkin Bapak memagari bibit tersebut terlalu tinggi. Jadi bibit-bibit itu tidak dapat cukup udara. Rani juga bilang kalau Bapak itu tidak teratur menyiramnya. Bapak menyiramnya cuma di sore hari saja. Padahal seharusnya pagi-pagi juga. Dan Bapak pun menuruti saran Rani. Bapak membuka pagar bibit tersebut. Esok paginya Bapak pun menyirami ketiga bibit tersebut. Ya, pagi itu setelah menyiramnya, Bapak berangkat kerja. Tak lama hujan turun dengan deras. Hujan seharian! Bibit-bibit itu pun mendapat siraman ekstra.

Bibit pepaya (1) yang tidak tumbuh subur

Bibit pepaya (2) yang tidak tumbuh subur


Entah bagaimana harus menolong bibit itu lagi. Mungkin kalau mau menolongnya, Bapak seharusnya dari awal minta Pa’De yang menanamnya. Haha, tapi ku yakin Bapak tidak juga kapok. Lagipula ada satu bibit yang tumbuh subur. Ya, sejauh ini tumbuh subur, walaupun masih dipagari dan bibit itu berbagi tempat di dalam pagar dengan rumput-rumput liar. Harapan aku sih, semoga kalau itu bibit papaya tumbuh subur dan sehat, papaya itu dapat berbuah. Karena pernah juga dulu Bapak menanam papaya dan berhasil. Pohonnya tumbuh sehat dan menjulang. Namun nyatanya tidak dapat berbuah karena itu papaya jantan. Dan papaya jantan tidak berbuah. Ya, aku berharap pepaya yang lolos seleksi alam dan tangan (tidak) dingin Bapak itu pepaya betina. Itu saja harapanku.

No comments:

Post a Comment