Saturday, 19 July 2014

Di Suatu Malam, Di Tepi Sebuah Danau

Sumber: http://arzuhan.deviantart.com/art/Darkness-100010629

Laurent menjejakan kakinya di tepian danau. Ada batuan yang sedikit menjorok ke danau itu dan ia menyusurinya. Laurent menurunkan tudung jaketnya, membiarkan dingin menyusup hingga ke sela-sela rambut. Matanya menatap jauh ke air danau yang hitam. Samar terdengar nyanyian merdu dari tengah danau.


Bulan malu-malu, bersembunyi di balik awan
Langit malam ini pekat, pepohonan pun telah tertidur
Namun angin masih ada, mengantarkanmu kembali
Dan di danau ini kita bertemu lagi

Manusia duyung! Siripnya yang menyala keemasan sesekali mengintip dari pekatnya air danau. Rambutnya panjang terurai dan juga berwarna keemasan. Manusia duyung berparas cantik!

Duyung itu berenang mendekati Laurent. Berputar beberapa kali seperti menari, lalu memangku tangan manusianya ke tepian batu. Separuh tubuhnya yang bersisik seperti ikan ada di dalam air danau. Dengan suaranya yang lembut dia bertanya, "jadi, apa yang malam-malam menyala di atas sana?"

Laurent tak lagi berdiri. Ia kini duduk di bebatuan itu, membiarkan celananya dirembesi air danau yang sedikit naik ditiupi angin malam. Kehadiran manusia duyung itu tidak mengagetkannya sebab ia sudah tahu dan memang berencana menemuinya.

"Itu disebut Lampu Kota. Jika malam begini, ada banyak Lampu di kota kecil itu yang dinyalakan sebagai pengganti cahaya matahari."

"Ahh, begitu rupanya. Lalu bagaimana Lampu Kota itu bisa menyala? Lebih-lebih cahayanya bisa terlihat dari tengah danau ini?"

"Dengan bantuan sesuatu yang bernama Listrik. Kau tahu Selena, Listrik itu menyebar kemana-mana. Kehidupan di atas sana sangat bergantung dengan Listrik. Bukan hanya untuk menyalakan Lampu, namun menyalakan yang lainnya juga. Sekalinya Listrik berhenti menyebar, maka semua akan serentak mengeluh."

"Wah, lalu darimana Listrik itu berasal? Mengapa dia bisa berhenti menyebar, apa dia lelah?" Duyung bernama Selena itu mengerjapkan matanya yang berwarna hijau cerah.

Laurent mengangkat kedua bahunya, "aku tidak tahu. Mungkin dari petir yang menyambar. Haha, kau memang selalu banyak tanya, Selena."

"Haha, aku sama ingin tahunya denganmu, Laurent." Duyung itu kembali mengerjapkan mata hijaunya. "Sepertinya kau menikmati tinggal di atas sana..."

Laurent menggeleng, "sepertinya tidak. Aku merasa asing. Dan nyala Lampu Kota itu tidak lebih baik dibanding selapis kepekatan di bawah danau ini."

"Setidaknya kau sudah menuntaskan rasa penasaranmu. Tiga hari itu cukup lama. Kalau begitu, kau siap kembali, bukan? Ini, makanlah!" Selena kembali berucap sembari menjentikkan jarinya.

Laurent mengambil sesuatu yang disodorkan oleh duyung itu dan memakannya.  Bentuknya bulat kecil seperti buah ceri berwarna merah pekat. Seketika tubuhnya diliputi cahaya.

Ia kembali ke wujud aslinya. Pakaian manusianya hilang. Kedua kakinya menyatu dan membentuk sirip warna keemasan sebatas pinggang. Telinganya berubah lancip. Ia pun meloncat pelan ke dalam danau, berenang menghampiri Selena.

Keduanya berenang beriringan hingga ke tengah danau. Laurent bersenandung sebelum sirip keemasannya hilang ditelan air danau yang gelap.

Kau hanya perlu bersabar
Lewati selapis hitam air danau
Abaikan kerlip Lampu Kota yang menggoda
Karena di balik hitam
Kau akan menemukan terang
Kehidupan di bawah sini lebih mampu menerangi

Monday Flash Fiction. Prompt #58: Darkness. (459 kata)

12 comments:

  1. wah... cerita duyung yang menjadi manusia dan kemudian kapok :D

    ReplyDelete
  2. ini cerita ke dua yang aku baca dan mengambil tema 'kembali ke asal'. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahh, iya juga ya, Bang. Aku baru nyadar.. :D

      Delete
  3. halus rasanya baca ini mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, Mbak. Tapi agak ragu juga dengan konfliknya. Ragu kalo kurang greget, hehe..:)

      Delete
  4. kurang menyakinkan, kenapa dia kapok pas jadi manusia.

    tp suka manusianya dan gaya bertuturnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha..iyya sih Mbak, masih kurang greget ini. Sebenarnya dia kapok karna dicuekin dan merasa asing sendiri di dunia manusia, hehe. Makasih sudah mampir Mbak Linda.. :)

      Delete