Thursday, 26 June 2014

Pohon Sukun Meranggas


Gambar di atas adalah sebuah foto pohon sukun di belakang rumahku. Jadi dulu, sekitar mungkin 10 tahun yang lalu, Bapak membawa bibit pohon sukun untuk ditanam di belakang rumah. Aku tidak ingat persis kapan waktunya, pohon sukun tersebut tumbuh dengan mudah dan mulai berbuah.

Ketika cukup matang, buahnya akan jatuh. Itulah kali pertama aku makan buah sukun. Rasanya? Seperti ubi, namun teksturnya lebih lunak dari ubi kayu. Aku lebih suka buah ini digoreng atau dibuat kripik. Tentu saja harus ditambahkan garam karena daging buah sukun itu tawar.

Buah sukun tersebut akan jatuh dengan sendirinya saat telah matang. Bahkan ada juga yang jatuh karena sudah membusuk. Ada sebagian yang suka memakan buah sukun yang sudah matang. Namun aku lebih memilih buah sukun yang tidak terlalu matang namun tidak juga mengkal. Buah sukun yang matang itu baunya tidak karuan, langu di hidungku. Dulu, sering buah sukun matang jatuh dan mengenai jemuran baju di bawahnya. Atau sukun tersebut pecah menghantam tanah dan cipratan daging buahnya yang lunak itu mengenai baju yang dijemur. Beh, bawaan bete jadinya.

Foto di atas bukanlah pohon sukun yang Bapak tanam dulu. Pohon di atas adalah hasil dari akar pohon sukun yang menjalar hingga ke halaman belakang rumah si Mbah. Akar pohon tersebut bertunas dan tumbuh kembali menjadi pohon baru. Sedikit informasi, sukun tidak berkembang biak dengan biji. Tanaman ini berkembang biak melalui tunas akar.

Lalu di mana pohon sukun yang ditanam Bapak? Pohon itu sudah lama ditebang. Bapak bilang akar-akarnya menyebar cepat dan takut merusak pondasi rumah kami. Alhasil, pohon itu ditebang. Dan begitu pula pohon sukun di rumah Mbah, di foto itu. Pohon tersebut juga akan segera ditebang. Alasannya sama, tidak ingin akar sukun itu menghancurkan pondasi pagar belakang rumah.

Pohon itu tidak serta merta ditebang. Di bagian bawah pohon, dekat akar, dibakar dulu. Itulah mengapa tidak ada daun-daun yang tumbuh di pohon itu. Mungkin nutrisi dari akar tidak dapat naik ke jaringan atas pohon. Sedih melihatnya. Dulu pohon-pohon itu rindang dan berbuah hampir setiap waktu. Aku juga heran bagaimana ranting pohonnya bisa menahan buah sukun yang beratnya rata-rata satu kilogram. Kini pohon itu telah gundul dan (sepertinya) menunggu mati.

gambar diambil dari sini

Jika berbicara tentang buah sukun, aku teringat dengan sebuah dongeng dari Negeri Sakura, Jepang. Aku lupa di situs mana pertama kali aku membaca dongeng ini. Intinya dongeng ini bercerita tentang seorang yang ketakutan ketika melewati sebatang pohon. Ini karena pohon tersebut berhantu. Sering terdengar suara orang berbicara dan tertawa atau terkikik di sekitar pohon tersebut. Seorang lainnya pernah ketika melewati pohon tersebut, salah satu buah di pohon itu jatuh dan menggelinding hingga ke dekat kaki orang itu. Buah itu bulat menyerupai kepala. Dan ketika orang itu melihat lebih dekat, buah itu memang menyerupai kepala manusia, mempunyai mulut dan sebagainya. Orang tersebut pun akhirnya lari tunggang langgang.

Usut punya usut, ada yang berasumsi jika pohon kepala yang dimaksud adalah pohon sukun. Kenapa tidak? Buah sukun mempunyai bentuk bulat dan seukuran kepala manusia. Kalau buahnya masih belum masak maka seukuran kepala bayi. Jika sudah masak, akan berukuran kepala manusia dewasa. Tentu saja kepala-kepala buah sukun ini botak, tidak berambut, dan berwarna hijau. Ya, sepertinya dari pohon inilah dongeng tersebut berasal.

Sejauh ini, aku belum melihat pemanfaatan buah sukun untuk keperluan industri, baik kecil, menengah, maupun besar. Padahal pohon sukun berbuah sepanjang waktu dan penyebarannya juga mudah. Ya, mungkin di luar sana ada yang bisa memberdayakan tanaman ini dengan baik. Bukan hanya agar industri kreatif makin berkembang, namun juga agar keajaiban ranting-ranting pohon sukun yang dapat menahan beban hingga satuan kilogram itu turut menyebar. Dan tentunya menambah daftar keajaiban dari alam untuk bahan perenungan kita semua agar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aamiin.

No comments:

Post a Comment