Wednesday, 14 May 2014

Telur Separuh

Aku suka makan telur ayam, terlepas dari kandungan gizi baik yang ada di dalamnya. Aku suka telur itu diolah jadi apa saja. Apakah diolah menjadi telur mata sapi, telur dadar, telur orak arik, bahkan telur rebus, aku oke saja. Seperti yang pernah aku posting sebelumnya, aku paling suka telur dadar. Hanya bermodal nasi hangat, telur dadar hangat, plus kecap, selesai aku makan dengan lahap. But, yeah, kali ini aku bukan ingin cerita tentang telur dadar, aku mau cerita tentang telur rebus.

Ada satu kebiasaanku yang kadang membuat orang disekitarku mengerenyitkan dahi karena bingung. Ini tentang kebiasaanku memakan telur rebus. Dulu jika Emak masak telur rebus, entah itu disambal, disemur ataupun digulai, aku akan ambil satu butir untuk lauk makan satu porsi nasi. Namun sejak kejadian itu, aku menjadi trauma. Alhasil, aku yang sekarang makan telur rebusnya gak mau ambil satu butir utuh. Aku akan membelah telur itu menjadi dua bagian. Aku yang sekarang, makan separuh telur rebus untuk satu porsi nasi.

gambar diambil dari sini

Terus mamangnya kejadian apa sih? Hmm, sudah lama sekali kejadiannya. Umm..kira-kira sebelas tahun lalu saat aku masih duduk di bangku SMP. Ceritanya aku baru pulang sekolah dan perut terasa lapar sekali. Aku buka tudung saji dan melihat lauk pecel dengan saus kacang berikut beberapa butir telur rebus yang besar-besar dan belum dikupas. Sehabis cuci kaki dan tangan, aku segera mengambil makan siang. Aku ambil nasi ditambah sayur pecel kuah kacangnya plus satu butir telur rebus yang sudah ku kupas. Kemudian, mulai deh aku makan.

Nah saat sedang asik mengunyah dan makan telurmya, aku melihat sesuatu yang aneh di telur itu. Aku belah dan aku pisahkan antara kuning telur dengan putih telur itu. Nah kan..hmm..di bagian putih telur yang tertutupi oleh kuning telur, ada garis merah yang cukup lebar serta melengkung yang terlihat seperti darah. Sontak aku menjadi mual. Kenapa telur itu ada motif berwarna merah di bagian yang seharusnya berwarna putih? Aku tidak bisa melanjutkan memakan telur tersebut. Nasi di piringku yang tinggal sedikit, ikut-ikutan tidak bisa aku habisi. Aku merasa tidak lagi berselera.

Yup, sejak kejadian itulah, aku kalau makan telur rebus itu hanya separuh untuk satu porsi nasi. Dulu, malah bukan hanya telur itu ku bagi dua lalu kumakan, aku sampai mencungkil-cungkil kuning telurnya. Saking merasa parno kalau-kalau ketemu yang begitu lagi. Bukan hanya itu, aku juga trauma memakan telur rebus dengan ukuran gede atau besar-besar. Aku lebih suka telur yang agak kecil ukurannya. Aku bahkan sampai memaksa Emak agar jangan membeli telur yang berukuran besar atau sedang lagi. Hyuh..

But yah, time goes on. Karena kadang Emak mengocehiku agar makan telur satu butir, jangan dibelah-belah. Berikut karena aku kadang gak enak sama Emak yang telah susah memasak, ehh tidak aku habiskan, so aku mencari jalan agar bisa menghabiskan satu butir telur setiap satu kali makan. Tadaa..berikut ini caranya. Aku pilih telur berdasarkan feeling (haha) kemudian aku belah seperti biasa. Lalu aku ambil kedua belahan telur itu dan ku letakkan di piring makanku. Aku seolah-olah tetap makan telur separuh. Walaupun pada kenyataannya, aku jatuhnya menghabiskan satu butir telur juga sih. Haha..biarlah harus repot-repot begitu. Daripada makan langsung satu butir telur yang aku belah di atas piring makan. But aku tetap say no untuk telur ukuran besar, haha. Duhh, begitulah aku ini. Dan begitulah cerita ini berakhir. Haha..:)

No comments:

Post a Comment