Tuesday, 6 May 2014

Skripsi dan Move On

Bercerita tentang move on, aku jadi teringat satu kata. Ya, satu kata -skripsi-. Hmm, mungkin kalian sudah tahu, skripsi adalah salah satu kata angker di kalangan mahasiswa tingkat akhir.  Rintangan terakhir dari seorang mahasiswa jika ingin diwisuda dan mendapat gelar sarjana. Aku yakin, setiap orang mempunyai kisahnya masing-masing tentang skripsi, dan cerita skripsi-ku dilengkapi dengan kata -move on-.

gambar diambil dari sini

Aku menyelesaikan kuliahku dan di wisuda sekitar 6 bulan lalu, tepatnya Oktober 2013. Tentunya sebelum bisa wisuda, aku harus mengerjakan yang namanya skripsi. Dan ceritaku bareng si Skripsi ini penuh lika-liku banget. Sudah kayak roman picisan, penuh jatuh-bangun. Adakalanya menjadi skripsweet, dan lebih seringnya kusebut skripshit. Haha. Intinya, skripsiku prosesnya tidak mudah, namun ku gak nyerah dan setiap terjatuh, ku harus bangkit, ku harus move on hingga tanda titik terakhir berhasil aku ketik. *tarik napas*

Hmm, aku gak tahu kenapa, menulis skripsi menjadi hal yang tidak mudah untuk ku lalui. Padahal semasa kuliah, lancar-lancar saja. Aku gak pernah mengambil SP atau kuliah perpanjangan karena aku tidak punya nilai C kering alias C minus ke bawah. Apa aku yang kurang persiapan kali ya? Entahlah, yang jelas perjuanganku semasa kuliah sangat berat di bagian skripsi ini. Entahlah, mungkin aku memang tidak berjodoh dengan yang namanya skripsi.

Well, hal pertama yang harus kuperjuangkan adalah pengajuan judul. Yup, saat itu peraturan di kampusku, khususnya di program studi yang ku ambil, jika seorang mahasiswa ingin menulis skripsi, maka dia harus mengajukan judul disertai dengan Bab I yang isinya Latar Belakang pemilihan judul, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, dll. Nah, karena aku mengambil program studi Pendidikan Bahasa Inggris, so skripsi aku tersebut harus dibuat full English.

Oke, itu tantangan biasa dan ku merasa tidak ada yang salah dengan peraturan tersebut. Nah yang menjadikannya luar biasa adalah..tadaa..aku harus mengajukan judul sampai 7 kali. Huft. Kebayangkan, setiap kali judulku ditolak, aku harus mencari judul baru plus membuat rumusan Bab I yang baru lagi. Belum lagi ada birokrasi atau kelengkapan surat yang harus disertakan, semisal surat persetujuan dari PA (Pendamping Akademik). Jadi kira-kira aku harus menghabiskan satu semester a.k.a 6 bulan hanya untuk urusan judul. Apa rasanya hatiku saat itu? Frustasi. Namun syukurlah, aku berusaha untuk tidak tenggelam. Berulang kali aku harus move on dan move on. Alhamdulillah setelah mencoba tujuh kali, akhirnya judulku diterima.

Lalu apalagi? Ternyata jalanku saat itu masih sulit. Ketika aku mendapatkan PS (Pembimbing Skripsi), aku mendapat masalah lagi. Beliau belum bisa menandatangani surat persetujuan untuk menjadi PS-ku karena proposal yang aku ajukan masih kurang lengkap. Beliau ingin aku bisa menjelaskan penelitianku dengan lebih baik. Aku benar-benar sedih saat itu. Aku sudah menghabiskan satu semester untuk judul dan mengira aku bisa langsung memulai menulis setelah judul diterima agar cepat lulus, namun lagi-lagi, akh. Aku sempat mandek selama tiga bulan sebelum bisa bangkit lagi. Alhamdulillah aku masih bisa move on.

Dan begitulah waktu terus bergulir. Selain tantangan terakhir itu, ada lagi tantangan lainnya yang harus kuhadapi. Yup, aku anggap itu sebuah tantangan daripada menyebutnya sebagai masalah. Cukup banyak, hingga teman seperjuangan lainnya sempat geleng-geleng kepala heran.  Intinya benar-benar menguras tenaga, pikiran, hati serta air mata. Alhamdulillah, aku masih dikelilingi orang-orang yang menyayangiku dan siap membantuku saat itu. Hingga akhirnya aku bisa bertarung hingga ke meja sidang. Kemudian aku masih punya tenaga untuk mengurus persiapan wisuda yang saat itu telah mendekati deadline pendaftaran.

Huft, benar-benar butuh perjuangan. Bahkan aku butuh kira-kira dua tahun untuk berjuang menyelesaikan skripsi ini. Alhamdulillah aku berhasil melalui itu semua, suatu fase yang ku golongkan dalam -list hal yang tidak mudah untuk dilakukan yang terjadi di hidupku-

Well, sebelum aku menutup postingan ini, aku ingin memberikan beberapa tips untuk move on, terlepas kalian nanti akan move on dari tantangan apapun itu. Percaya lah teman, ketika kita ditimpa kesulitan, kalian gak sendirian. Di luar sana, ada banyak yang juga sedang mengalami kesulitan. Mungkin jenis dan tipe kesulitannya gak sama, tapi kadar kesulitannya bisa saja sama. Bahkan boleh jadi lebih berat dari yang kita rasakan. Oleh karena itu, jangan menyerah dan berusahalah untuk terus bangkit, terus move on dan coba lagi. Berikut sedikit tips move on dari ujian atau masalah yang bisa ku berikan:

#1 Menerima dan Ikhlas
Yup, berusahalah menerima segala macam ujian yang ada. Walaupun hal itu terasa tidak mudah, teruslah berusaha untuk menerimanya dan mencoba ikhlas. Percaya kalau Tuhan tidak mungkin memberikan ujian yang diluar kemampuan kita.  Terima jika ini adalah salah satu fase kehidupan yang harus kita lalui. Jika kita sudah mampu untuk menerimanya dan ikhlas, maka pikiran kita bisa melihat lebih jernih dan kadar galau kita perlahan akan menurun.

#2 Fokus Mencari Jalan Keluar
Menerima bukan berarti kita berlari dan menunda-nunda untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebaliknya segera coba untuk menyelesaikannya. Hilangkan pikiran manja dan mengeluh seperti: ahh andai aku begini pasti hasilnya tidak akan begini. Ya, sebaiknya berhenti mengeluh, just make it simple. Segera lihat apa penyebab keterpurukan ini, lalu segera pula focus mencari solusinya. Pikirkan dan lakukan hal terbaik, agar tantangan atau ujian ini bisa cepat selesai. Focus kepada jalan keluar.

#3 Bersabar dan Berdoa
Yup, tidak semua ujian atau masalah yang menimpa kita bisa terselesaikan secara instan. Oleh karena itu, ketika kita sudah menerima dan berusaha untuk menyelesaikan ujian tersebut, maka kita perlu bersabar dan teruslah berdoa. Semoga hal baik segera dating menggantikan ujian ini. Dan, hey, bukankah kalau mau naik kelas, kita harus ujian dulu. Insya Allah, kelas kehidupan kita akan naik levelnya lewati ujian tersebut. Dan pastinya jika kita berhasil melaluinya, jangan lupa untuk mengambil pelajaran dari masalah tersebut.

Begitulah kisah move on ku. Mudah-mudahan memberi manfaat. Apapun tantangannya, tetap semangat yaa. Jangan ragu untuk move on. Aku bisa, dia bisa, mereka bisa, so..kamu juga bisaa. Yaiyy…


gambar diambil dari sini


3 comments: