Tuesday, 6 May 2014

Sepotong Kisah tentang Ikhlas

Ada sebuah kisah tentang seorang perempuan yang telah ku kenal sepanjang hidupku. Sepotong kisah dari hidupnya yang telah merentang panjang. Sekelumit tentang bagaimana ia menyikapi keikhlasan. Ketika suatu pilihan datang, dan ia harus mengorbankan kesempatan itu. Namun hingga kini ia masih terus tersenyum. Ikhlas tidak berbatas.

gambar diambil dari sini

Ia seorang anak rantau yang berasal dari keluarga kaya. Pergi ke provinsi B dengan niat menuntut ilmu. Kedua orangtua mengizinkan dan sangat mendukung. Memang, kedua orangtuanya cukup visioner. Bagi mereka pendidikan anak adalah nomor satu. Tidak peduli akan biaya yang nanti harus dikeluarkan, toh alhamdulillah mereka juga berkecukupan. Mereka berharap anak-anaknya kelak dapat sukses, mandiri, dan berwawasan luas. Mereka berharap kepada semua anaknya termasuk ia.

Memutuskan untuk mengambil strata satu di bidang hukum. Ia pun mampu menyelesaikannya tepat waktu. Kedua orangtua berharap sehabis ini, ia bisa mendapat pekerjaan atau menikah dan bekerja. Sayang jka sarjana hanya berdiam di rumah, setidaknya cicipilah dunia kerja. Begitu pemikiran kedua orangtuanya saat itu. Dan aku rasa, ia pun ingin sekali merasainya. Pembawaanya pun riang dan supel. Siapa yang tidak ingin menjadi produktif, bisa mencari uang sendiri, dan terlebih sudah sarjana pula. Setidaknya sebagai tanda terimakasih kepada orangtua yang telah setiap hari berkeringat demi pendidikannya.

Hidup mempunyai alurnya sendiri. Lamaran dari seorang pria yang ia cintai ternyata datang lebih dulu dari lamaran pekerjaan yang ia nanti. Kehidupan baru di dalam suatu wadah berwujud rumah tangga telah membayang. Dan cinta terkadang memang menyatukan perbedaan. Walau mungkin perbedaan akan selalu saja ada, namun mungkin inilah jodoh dan jalan hidup untuknya.

Pria tersebut teman satu kampusnya. Tidak seperti ia yang anak rantau, pria tersebut asli dari provinsi B, asli lahir dan tumbuh di sana. Setelah menikah, pria ini memutuskan untuk tinggal di provinsi B. Ia pun harus menuruti suami, mengubur sedikit impian, karena sebenarnya ia telah lulus, telah diterima bekerja di sana, di kota kelahirannya, bukan kota kelahiran suaminya.

Ia berpikir jika rezeki bisa datang di mana saja. Sedikit ia berharap agar nanti bisa menjadi Ibu dan bekerja di provinsi B. Namun ternyata garis hidup tidak sejalan.

Di provinsi B, ia tinggal di rumah mertua, di rumah orangtua lelaki itu. Setahun menikah, anak pertama lahir. Ketika si anak berusia setahun, ia ingin melamar pekerjaan. Namun, belum bisa ia mengutarakan keinginannya, orangtua lelaki itu menggerutu, "siapa nanti yang akan mengurusi anakmu?" Begitu pula sang suami ikut berkata, "jika kau memang berkeras untuk bekerja di luar rumah, biarlah aku yang tinggal, mengurus anak." Perkataan yang menyudutkan. Bentuk egoisme yang tidak memberikan jalan keluar untuk harapannya.

Ya, memang, kebetulan orangtua laki-laki itu mempunyai usaha dagang makanan. Orangtua itu menginginkan agar ia membantu pekerjaannya di rumah. Pekerjaan yang menyita waktu sehari-harinya selain mengurusi dua orang anaknya yang masih kecil. Ia diminta membantu usaha tersebut dari pukul 3 dini hari, hingga pukul 5 sore. Keringat yang ia keluarkan hanya dihargai sebagai pengabdian. 9 tahun ia berkutat dengan hal itu sebelum akhirnya, keluarga kecil itu pindah ke rumah baru.

Hal yang lebih miris dari itu semua, ia malah di-cap sebagai perempuan manja yang tidak bisa bekerja, tidak bisa mencari uang sendiri, tidak bisa membantu suami. Padahal hal itu bukan kemauannya. Sadar jika saat itu, tidak ada pilihan yang mengenakan untuknya. Orangtua kandungnya pun menyesali mengapa ia tidak bekerja setelah lulus kuliah. Mengapa ijazah yang diperoleh dengan menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran bertahun itu tidak dimanfaatkan. Tidak mungkin ia membuka aib suami dan keluarga suaminya. Ia merasa sendirian.  Anak-anaknya masih kecil, belum bisa diajak bertukarpikiran ataupun sekedar berbagi cerita.

Ya, pilihan telah dibuat. Sejak saat itu, fokusnya adalah untuk anak-anak. Biarlah perkataan miring tentangnya datang silih berganti. Ia berusaha berhemat, agar anak-anaknya tidak kekurangan. Berusaha kuat, agar anak-anaknya mempunyai sandaran. Benar sekali, seorang wanita sebenarnya mempunyai kekuatan lebih. Dibalik kelembutannya, ia mempunyai kekuatan terutama untuk menanggung beban hidup yang begitu banyak dan menyesakkan.

Ia adalah salah satu contoh ikhlas yang pernah kutemui di hidup ini. Ikhlas mengubur mimpinya, ikhlas mengubur kesempatannya mencicipi gaji dari keringatnya sendiri, ikhlas mengalah demi kemajuan suami, ikhlas mengabdi bertahun-tahun kepada mertuanya, bahkan ikhlas jika setelah itu semua, ia malah di-cap dengan label buruk oleh orang sekitarnya di provinsi B ini. Boleh jadi ia ikhlas demi kebaikan anak-anaknya kelak. Ikhlas melepaskan sesuatu agar mendapatkan ketenangan. Ikhlas berkorban agar tidak timbul masalah lainnya yang berkepanjangan di keluarga kecilnya itu.


2 comments: