Thursday, 1 May 2014

Review: Captain America: Winter Soldier (2014)

The price of freedom is high... and it's a price I'm willing to pay! You told me not trust anyone and this is how it ends: EVERYTHING goes!

gambar diambil dari sini

Rabu (23 April 2014) lalu, aku bareng Ez memutuskan untuk ke 21. Kami menonton Captain America: The Winter Soldier. Film ini mendapat review yang bagus dari blogger film andalanku, Cinetariz. Jadinya cukup membuat penasaran. Selain itu, film lainnya yang tayang di hari itu, selain The Raid 2: Berandal, tidak terlalu menarik perhatianku

Oke, here we go. Steve Rogers a.k.a Captain America (Chris Evans) kembali ke dunia -nyata- setelah dibekukan. Seharusnya saat ini dia berusia 95 tahun, namun karena dibekukan, dia terlihat masih berusia 30 tahunan dengan badan padat berisi serta kemampuan fisik dan ingatan yang masih sama kuatnya.

Di sini, sang Captain bernaung pada sebuah organisasi elit bernama SHIELD yang diketuai oleh Nick Fury (Samuel L Jackson). Misinya adalah melindungi dunia. Di era SHIELD ini, dunia terlihat begitu modern. Bahkan SHIELD sendiri tengah mengerjakan proyek besar bernama Insight yang bisa memprediksi kejahatan yang akan dilakukan oleh seseorang. Jika proyek Insight ini diaktifkan, maka ada 3 kapal induk raksasa yang dilengkapi dengan senjata api yang begitu banyak, yang bisa membunuh orang-orang yang mereka curigai dengan cara seperti seorang sniper melalui bantuan satelit. Dalam satu kali pengaktifan, mereka bisa membunuh ratusan orang dalam satu waktu. Proyek yang mengerikan.

Paruh awal film begitu lambat dan menuntut kita untuk fokus walau susah karena agak sedikit jenuh. Di sini digambarkan tentang bagaimana sang Captain harus beradaptasi dengan dunia baru yang begitu modern. Di film ini Captain mendapat bantuan dari Natasha Romanoff a.k.a Black Widow (Scarlett Johansson). Mereka pergi ke kapal induk milik SHIELD yang dibajak oleh blabla. Captain diperintahkan untuk menyelamatkan sandera, namun ternyata ada misi lainnya yang diam harus dikerjakan oleh Natasha.

Misi inilah yang akhirnya merupakan pintu yang mengungkap adanya kebocoran di organisasi yang menaungi mereka. Adanya penyusup di SHIELD yang ingin membangkitkan kembali organisasi kejahatan mereka yang bernama Hydra, organisasi yang telah ada sejak Perang Dunia II. Sebenarnya organisasi ini sudah dibereskan, hanya saja seperti halnya Hydra, satu kepala yang dipotong, akan tumbuh dua kepala baru. Oh ya, selain Black Widow, Captain juga dibantu oleh Sam Wilson a.k.a The Falcon (Anthony Mackie). Aku suka sekali dengan sayap yang dipakai oleh Falcon. :)

Well, selain harus beradaptasi dengan dunia barunya, Captain America juga harus melawan temannya sendiri yang juga -dihidupkan- dari masa lalu. Temannya inilah yang disebut sebagai Winter Soldier. Aku merasa film ini begitu pekat dengan nuansa politik kotor yang cukup mengingatkanku dengan film Bourne. Aku tidak mengharapkan apapun sebelumnya karena baru pertama kali ini aku menonton film Captain America, film yang memang full membahas tentangnya. Hmm..tidak terlalu mencuri hati seperti Spiderman atau Transformer, namun menurutku film ini lebih baik daripada Hulk, hehe. :)

Yup, mungkin gak banyak yang bisa aku ceritakan. Kalau kalian penasaran, buruan nonton langsung ya. Kata Cinetariz, di tengah dan di akhir credit title ada beberapa adegan yang memberi petunjuk untuk film The Avengers selanjutnya. Sayang aku melewatkan petunjuk itu, hiks. Anyway, met nonton aja deh bagi yang menonton. *Penutup yang aneh, haha*

No comments:

Post a Comment