Wednesday, 16 April 2014

Pemilu April 2014

Tanggal 9 April 2014 yang lalu, Indonesia baru saja menyelenggarakan pesta demokrasi lima tahunan. Katakanlah seluruh penduduk ikut serta memberikan -suaranya- untuk memilih para wakil rakyat. Karena sudah cukup umur, aku juga ikut serta. Katanya, lima menit di dalam TPS, menentukan nasib bangsa ini untuk lima tahun kedepannya.


Emak ikut jadi panitia dan dari pagi hingga malam beliau bertugas di sana, di TPS. Kata Emak, karena pemilu kali ini ada empat kertas kira-kira seukuran A3 yang harus dicoblos dan harus dihitung nilai suaranya dari setiap pemilih yang ada di RT kami. Kemudian tidak berhenti sampai perhitungan saja. Emak dan panitia yang lain harus pula membuat laporan yang harus diserahkan malam itu juga ke Kelurahan.

Dan kawan, aduhai, biaya pemilu April 2014 ini tidaklah sedikit. Anggaran yang dikeluarkan negara untuk tahapan pemilu 2014 mencapai 7,3 triliu rupiah. Sementara itu anggaran untuk pengadaan dan distribusi logistik Pemilu 2014 sebesar 1,2 triliun rupiah.



Dari banyak anggaran dan perlengkapan yang harus disiapkan lalu dikeluarkan, aku paling gusar melihat kertas-kertas suara itu. Ada banyak kertas yang digunakan. Aku menjadi mual membayangkan berapa pohon yang dikorbankan untuk itu. Yah, terdengar hiperbola mungkin. Namun jika pemilu ini ada ‘hasilnya’ dan hasil itu bukan ‘kesia-siaan’, mungkin aku tidak akan merasa semual ini. Adakah di sini yang mempunyai pertanyaan yang sama denganku? Pertanyaan tentang kemana nanti perginya bepuluhribu kertas suara dari sepenjuru Sabang hingga Merauke itu?

Mungkin salah satu cara agar rasa mual itu tidak lagi terlalu nyesek adalah dengan penggunaan E-Voting atau Electronic Voting. Pemungutan suara secara e-voting ini mengacu pada penggunaan sistem tekhnologi informasi pada saat pelaksanaan pemungutan suara. Penggunaan tekhnologi dalam implementasi e-voting cukup bervariasi. Diantaranya ada penggunaan kartu pintar untuk otentifikasi pemilih yang digabung dalam e-KTP, penggunaan internet sebagai sistem pemungutan atau pengiriman suara, penggunaan layar sentuh sebagai pengganti kartu suara, dan lainnya. Ada beberapa negara yang sudah menggunakan e-voting ini dalam Pemilu seperti Estonia, beberapa negara bagian AS, Irlandia dan India.



Penggunaan e-voting sendiri di Indonesia telah dilakukan dalam skala terbatas, baru dalam lingkup organisasi, perusahaan maupun pemerintahan di skala paling kecil yaitu dusun atau desa. Salah satu kabupaten yang telah menerapkan sistem ini adalah Kabupaten Jembrana, Bali. Sejak pertengahan 2009, kabupaten ini telah melakukan puluhan kali pemilihan kepala dusun di desa-desa yang ada di kabupaten tersebut. Penggunaan e-voting di kabupaten Jembrana telah menghemat anggaran lebih dari 60 persen, seperti anggaran untuk kertas suara.

Lebih jauh, E-voting ini juga diawali dengan penggunaan KTP (Kartu Tanda Penduduk) berbasis chip atau kemudian disebut juga e-KTP. Penggunaan e-KTP tersebut membuat pemilih tidak mungkin melakukan pemilihan lebih dari sekali. TPS (tempat pemungutan suara) juga bisa menampung hingga 1000 pemilih, sementara dengan sistem manual sekitar 500-700 pemilih saja per TPS yang layak.

Aku sangat berharap jika segera suatu saat nanti, segala macam bentuk Pemilu di Indonesia menggunakan sistem ini. Aku yakin tenaga IT Indonesia dan perangkat lainnya bisa disinergikan sehingga dengan penghematan kertas secara langsung ikut menghemat anggaran Pemilu Negara.

Memang pemilu sudah seminggu berlalu. Namun efeknya masih bisa kita rasakan sekarang. Melalui media, aku melihat banyak efek negatif dari pemilu ini. Entah kenapa selalu berita negatif itu yang banyak disebar. Entahlah. Satu hal efek tentang pemilu, kita bisa melihatnya melalui berita tentang kisruh kecurangan pemilu di beberapa daerah, tentang caleg yang meminta kembali uang 'serangan fajar'nya, tentang surat suara yang tertukar, tentang caleg gagal yang kini mulai mendiami RSJ, tentang tim sukses muda yang bunuh diri karena yang dijagokannya tidak menang, dan sebagai-sebagainya lah.
 

Memang, aku masih merasa skeptis mengenai pesta demokrasi ini. Bukan hanya karena banyak calon yang tidak ku kenal, ada juga karena lunturnya sudah harapan kepada calon-calon wakil rakyat tersebut. Aku sedikit muak melihat negara telah menghabiskan triliunan rupiah untuk yang katanya Pesta Demokrasi ini. Untuk yang katanya penentu nasib bangsa, nasib rakyat Indonesia. Pesta ini hanya terasa bagai formalitas. Di belakangnya prasangka ku merebak negatf curiga ada banyak tipu-tipu. Entah lah. "Pesta" yang seakan tanpa hasil ini, berasa terlalu mewah untukku.

Sumber:
http://www.jurnalparlemen.com/view/2356/indonesia-belum-disarankan-pakai-e-voting-untuk-pemilu.html

No comments:

Post a Comment