Monday, 21 April 2014

Diary sang Zombigaret: Penyesalan

April 2010
Aku teringat kejadian siang tadi. Tentang pandangan sinis untukku dari seorang perempuan tua di dalam angkot. Pasalnya sepele banget. Dia tidak suka dengan asap rokokku. Ya, aku tadi merokok di dalam angkot. Haha, dia pikir aku akan peduli dengan tatapan sinisnya itu. Persetan dengan kepedulian. Terserah mereka mau bilang aku cewek gak sopan, cewek gak bener. Tahu apa mereka tentangku. Tahu namaku pun tidak.

Menyebalkan, kedua orangtuaku masih saja bertengkar. Terlahir di keluarga broken home ini benar-benar membuatku stress nyaris gila. Untunglah di dunia ini ada yang namanya garet. Haha, garet selalu jadi pelarianku. Sudah 5 tahun aku bersahabat dengan garet. Awalnya coba-coba, akhirnya aku ketagihan.

Agustus 2010
Sial! Kenapa aku merasa seperti ini. Seperti ada beribu kupu-kupu menggelitik perutku ketika berinteraksi dengannya, dengan Rio, teman kampusku. Dia bukan penghisap garet sepertiku, namun dia menyenangkan. Beberapa hari belakangan, dia sering mendekatiku. Gak boleh, aku gak boleh merasa cinta kepadanya. Cinta cuma akan membawa kesedihan menahun yang susah untuk hilang. Cinta sama dengan membawa diri ke tepi jurang lalu terjun ke dalamnya. Kedua orangtuaku contohnya, huft. Aku benar-benar perlu menghisap garet sekarang.

November 2010
Aku menghisap garet lebih banyak dari biasanya. Sudah hampir 2 bungkus. Pikiranku kalut. Rio NEMBAK aku. Dan aku menerimanya. OMG. Aku sudah ngebiarin diri aku jatuh ke jurang itu. Tapi aku sayang Rio. Dan aku sekarang takut jika Rio tahu tentang kebiasaanku menghisap garet. Rio bukan perempuan tua yang memandangku sinis atau malah membenciku gara-gara menghisap garet di dekatnya. Aku peduli dengan pendapat Rio, aku peduli tentang bagaimana dia memandangku. Aku pasti sudah benar-benar gila sekarang. Aku takut, tapi aku gak mungkin ninggalin garet. Aku gak bisa.

November 2013
Sudah 3 tahun aku jadian dengan Rio. Dia bener-bener perfect buatku. Aku gak ngerti, rasanya aku seperti kebanjiran hadiah padahal aku gak pernah ikut undian apapun. Kali ini aku menunggu Rio menjemputku. Dunia kerja cukup menyibukkan kami. Rio bilang, dia akan sedikit terlambat. Kuberniat mengisi waktu bermain dengan smartphone-ku. Alih-alih menemukan smartphone di dalam tas, tanganku malah memegang garet. Aku tergoda untuk menghisapnya. Dari dulu, memang lebih enak menunggu sambil menghisap garet. Aku begitu sibuk menghisapnya hingga gak sadar, Rio telah berada di dekatku, memandangiku. Rio menyatakan kekecewaannya kepadaku. Airmataku menetes. Aku gak ngerti kenapa aku bisa secengeng ini. Aku meminta maaf dan merasa malu sekali. Rio memintaku berhenti menghisap garet. Aku menyetujuinya dan berjanji. Aku gak mau kehilangan Rio.

Desember 2013
Sudah sebulan ku mencoba berhenti menghisap garet. Benar-benar gak mudah ditambah lagi kondisi tubuhku yang entah kenapa semakin melemah. Namun aku bertekad untuk berhenti demi menepati janjiku ke Rio. Hingga suatu kali, aku batuk darah lalu kolaps di ruang kerjaku. Ketika terbangun, aku tengah terbaring di rumahsakit. Rio duduk di samping ranjangku. Matanya terlihat menahan pedih. Perlahan Rio memberitahuku kalau aku divonis dokter mengidap kanker paru stadium 4. Duniaku terasa runtuh.

April 2014
Aku hidup di dunia baru. Dunia zombi. Badanku kurus, pucat. Kanker stadium 4 bukan lagi tentang penyembuhan, hanya tentang perawatan mengurangi rasa sakit. Rio selalu menemani pengobatanku sambil terus memotivasiku untuk bertahan. Seperti saat ini, dia duduk disampingku, disamping tubuh zombiku yang terbaring di ranjang rumah sakit.

Mereka bilang aku zombigaret yang beruntung, namun bagiku keberuntungan adalah jika ku bisa bertahan hidup lebih lama agar bisa terus bersama dengannya. Keberuntungan itu adalah jika saja aku tidak pernah mencoba yang namanya garet. Aku menyesal membiarkan diriku bersahabat dengan garet dan merasai hidup menjadi zombi seperti ini. Percayalah padaku, penyesalan ini terasa begitu pahit. Air mataku jatuh. Aku malu dengan Rio. Pun aku sangat malu dengan diriku. Entah sampai kapan zombigaret yang satu ini mampu bertahan. Jauhi garet, dia bukan sahabat yang baik.

Tulisan 600 kata ini (selain judul dan catatan kaki), diikutsertakan dalam Lomba Menulis “Diary sang Zombigaret”


No comments:

Post a Comment