Saturday, 1 February 2014

Gadis Jeruk: Dongeng tentang Cinta yang Penuh Teka Teki

Judul: Gadis Jeruk

Judul asli: The Orange Girl
Pengarang: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: Cetakan Ke-1, Juli 2011
Tebal buku: 252 halaman

Bukankah dunia ini hanya sebuah dongeng panjang?
(Dan) bagiku dunia ini selalu penuh keajaiban

Aku suka sekali wangi buku yang baru buka segel. Bedegub-degub rasanya. Dan kali ini aku sedang menghirup wangi sebuah novel karangan Jostein Gaarder. Ini buku dibelikan oleh Ez saat kami berkunjung ke PesBuk (Pesta Buku) di Gramedia. Buku setebal 252 halaman ini merupakan Mizan Gold Edition (edisi special dari karya-karya terbaik penulis dunia).

Kisah novel ini bermula saat Georg, seorang anak lelaki berusia 15 tahun mendapatkan surat dari Ayah kandungnya yang bernama Jan Olav. Yang menjadikannya special adalah surat ini datang dari ayahnya yang telah meninggal sebelas tahun lalu. Melalui surat ini sang Ayah ingin berkisah tentang pertemuannya dengan si Gadis Jeruk. Nah, si Ayah ini menceritakannya dalam bentuk dongeng misteri gitu. Jadi penuh teka teki yang diam-diam menggelitik kita, para pembaca, untuk terus membacanya hingga tuntas.


Pertemuan si Ayah dengan Gadis Jeruk pertama kali di atas sebuah Trem. Kemudian ia penasaran akan sosok wanita yang membawa sekeranjang penuh jeruk di dalam sebuah trem yang padat penumpang. Karena kecerobohannya, dia tak sengaja mendorong si Gadis Jeruk hingga jeruk-jeruk tersebut berhamburan di dalam trem. Kemudian ketika trem berhenti dan si Gadis Jeruk turun, dia mengejarnya untuk meminta maaf. Adegan ini mengingatkan ku dengan adegan pembuka film Perfume. Ini dimana pemeran utama mengejar perempuan yang sedang membawa keranjang jeruk (hal. 44)

Nah selanjutnya, pertemuan tersebut membawa si Ayah atau Jan Olav penasaran dan ingin mengenal si Gadis Jeruk lebih jauh. Namun sulit sekali untuk menemukannya. Rasa pensaran dari pandangan pertama dengan si Gadis Jeruk membawanya menerka-nerka, kira-kira siapa Gadis Jeruk ini? Apakah dia seorang penyihir? Untuk apa dia membawa sekeranjang penuh jeruk? Dan ada apa dengan mantel anorak tua?

Pada awalnya aku masih membaca buku ini dengan konsep realitas. Maksudku mungkin hanya bahasa pengarang saja yang melebih-lebihkan identitas si Gadis Jeruk. Namun lambat laun aku tertarik juga ke pusaran itu. Pusaran dongeng. Ini memang dongeng, setidaknya pencarian tersebut digambarkan seperti dongeng. Dan sisi magis si Gadis Jeruk ala dongeng ini mulai menyentuh ku dari hal. 57-58:
Aku meletakkan lengan kiriku di atas meja, dan seketika dia meletakkan tangannya di atas tanganku…kemudian dia melepaskannya, bangkit dengan anggun dari meja bersama kantong besar jeruk ditangannya dan menyelinap ke luar. Ketika dia pergi, ku lihat ada bening air di matanya.

Dan uniknya, seperti Jan Olav yang tetiba bertanya kepada Georg tentang teleskop ruang angkasa Hubble (di sini ada cerita tentang Teleskop Hubble dan filosofi tentangnya), aku merasa si Pengarang, Gaarder, juga bisa membaca pikiranku. Aku berasumsi bahwa mungkin saja si Gadis Jeruk adalah cenayang pembaca pikiran dan masa depan. Nah asumsi ini pun kemudian dipaparkan kembali oleh Gaarder di paragraph selanjutnya. Haha, cerdas. Dan ketika baru saja aku akan terbuai dalam dongeng, di hal. 61, Gaarder langsung mengganti setting wktu dan tempatnya di masa kini, saat Georg membaca surat si Ayah. Pembaca diajak beralih melihat pemikiran dari Georg tentang Gadis Jeruk ayahnya. Kali ini sudut pandang kembali bertukar. Kita diajak kembali melihat sudut pandang Georg.

Hal yang paling menggelitik dan membuatku tersenyum-senyum sendiri selagi membaca buku ini adalah aku baru sadar, begini rupanya gambaran seorang pria yang kasmaran. Bagaimana cowok yang jatuh cinta pun sibuk mereka-reka, membuat asumsi, dan memainkan logika. Dan semuanya terdorong dengan sifat maskulin khas cowok bercampur ego yang seolah langsung merasa 'Oh cewek itu kepunyaan aku'. Walaupun nyatanya mereka baru berkenalan dan sebagainya:
Dia tampak seperti seorang gadis yang demi mengenalnya lebih baik, aku bersedia menyerahkan apa saja. (hal. 88).

Yah tentunya setiap cowok punya sifat dan karakterisitik sendiri-sendiri yang boleh jadi berbeda satu sama lain. Namun sedikit banyak tergambarkan dengan detail yang menarik tentang seorang cowok yang sedang 'berbunga-bunga' haha. Jarang kutemukan novel seperti ini (mungkin karena referensi ku juga yang masih sedikit). Umumnya novel yang ku temukan memakai sudut pandang cewek sebagai tokoh yang kasmaran. Cowok seolah-olah sosok yang cool dan gengsi, ehh tapi di hati ketar ketir juga berhadapan dengan cewek yang dia sayang, auww. Mungkin ku bisa mencontek ungkapan Jan Olav:
Aku sebeku es, aku terbakar api (hal. 84).

Dan bicara mengenai kisah cinta, menurut buku ini, jodoh di tangan Tuhan karena Tuhan yang menggerakkan hati. Ketika manusia memutuskan untuk meneruskan gerakan hati tersebut ke sesuatu yang lebih konkret yang kita sebut sebagai tindakan, maka jodoh tersebut boleh jadi akan dipersatukan. Nah yang jadi masalah, boleh jadi kita gagal membedakan mana yg merupakan gerakan hati dari Tuhan dan manakah yg hanya bisikan halus dari setan, yang banyak terjadi dalam kasus perselingkuhan dan lain-lain.

Namun terlepas dari semua aku percaya bahwa Tuhan penyayang dan mengurusi makhluk-Nya. Ketika kita berharap jodoh yang baik, maka kita lah yang harus terus berusaha memperbaiki diri. Dan selebihnya kita bisa berdoa meminta bantuan dari Tuhan. Berikut akan aku kutipkan ungkapan menarik tentang jodoh versi Gaarder:
Tidak selalu mudah untuk menemukan orang di dalam sebuah kota besar, setidaknya kalau kita berniat untuk bertemu mereka seolah-olah secara kebetulan…Tapi, jika dua orang yang nyaris tidak melakukan hal lain kecuali saling mencari, tidak mengherankan jika mereka akan saling berjumpa secara kebetulan. (hal. 156)

Dan cerita pun terus bergulir. Tentang pertemuan mereka kembali lalu tentang kisah cinta mereka. Diakhir buku akan terungkap siapa Gadis Jeruk tersebut dan jawaban dari semua teka teki lainnya. Aku sempat nangis membaca akhir kisah novel Gadis Jeruk ini. Mungkin karena pengarangnya adalah seorang guru filsafat, maka novel ini pun penuh dengan ungkapan dan pemahaman yang menarik tentang kehidupan.

Overall, ini adalah novel yang sangat menarik. Novel ini menyajikan kisah cinta yang dibalut dalam bentuk dongeng dan realitas. Selain itu kualitas terjemahannya juga bagus. Mungkin yang agak menyulitkan ku adalah menghafal nama tokoh dan nama tempat di dalam novel ini. Karena ini pertama kalinya aku membaca nama-nama dalam bahasa Norwegia atau Swedia. Yup, Gaarder, si Pengarang berasal dari sana. Intinya buku ini menarik dan menggelitik. Aku jadi penasaran ingin membaca buku Gaarder lainnya, yaitu: Dunia Sophie dan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Ayoo kita baca sama-sama yuk.. :)

No comments:

Post a Comment