Thursday, 31 October 2013

Ayam Merah

Biasanya jika hari minggu tiba, Emak masak ayam gulai. Ayam yang dimasak tersebut adalah ayam merah. Di sini, setidaknya di daerah tempat tinggalku, ayam merah adalah sebutan untuk ayam betina petelur yang sudah apkir alias sudah tidak produktif menghasilkan telur lagi. Ayam jenis ini ciri khasnya mempunyai badan yang gemuk, bulu yang sepertinya cukup tebal bewarna merah.

Suatu ketika di hari minggu, Emak dan Bapak baru saja membeli ayam merah dari pasar. Ayam tersebut belum dipotong dan dibiarkan berjalan-jalan di halaman belakang rumahku. Sementara Bapak mengasah pisau, Emak menyiapkan bumbu gulai.



Disaat itu, ku bantu Emak di dapur. Tak lama duduk di dapur, sekonyong-konyong masuk si Ayam merah yang dibeli tadi pagi. Kucluk, kucluk, si ayam enjoy aja masuk ke dalam dapur. Tanpa merasa takut dengan aku serta Emak yang sedang bekerja di dapur itu.

Maka ku amati ayam itu. Ku dekati dan asli itu ayam makin enjoy aja. Tidak seperti ayam lain yang langsung kabur atau chiken out alias ketakutan. Ia mematuk-matuk sisa makanan yang jatuh di lantai dapur. Tampangnya itu lho, weew, polos sekali. Beneran innoncent, santai, tanpa beban serta tekanan. Ya iyalah, dia memang gak tahu kalau tag lama lagi akan dimasak dijadikan lauk kami hari itu. Oleh karenanya lah, aku jadi tertarik mengamatinya. Sempat ku potret beberapa kali. Duh, ayam ini gak seperti ayam kebanyakan. Jadi sedih jika ingat dia harus dipotong.

Hehe, mungkin ceritaku ini terkesan alay lebay banget. Yah, mau bagaimana lagi. Ini ayam unik, gak biasa. Aku jadi terkesan melihatnya. :)

(Minggu, 27 Oktober 2013)

No comments:

Post a Comment