Friday, 7 June 2013

Di Suatu Subuh

Pagi ini sehabis subuh, mataku tak mau kembali dipejamkan seperti biasa. Walaupun ku tahu, Nabi pernah menyarankan untuk tidak tidur sehabis subuh, namun saran itu acapkali ku langgar,:(. Ada saja alasan sebagai celah untuk tidur. Alasan yang dibuat dan diadakan oleh diri sendiri. Hey, hal tersulit bukan mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan diri sendiri. Setuju kan?



Tetapi tidak dengan pagi ini. Mata tak mau terpejam karena terpikirkan soal itu. Skripsi yang belum selesai sementara waktu terus berjalan. Tugas akhir ini memang memusingkanku. Ya ampun, pertahananku untuk tidak mengeluh dan membuat posting tentang kesulitan skripsi ini pun runtuh. Hmm..

Dan begitulah, mata ku tak mau terpejam. Otak pun sepertinya setuju untuk tidak tidur lagi. Merasa bersalah sudah terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk tidur dan bersantai-santai. Pikiran pun akhirnya bercabang-cabang tetapi tetap berpusar pada hal yang sama. Satu kata: skripsi.

Duh, galaunya aku sesubuh ini. Seolah ini adalah sebuah masalah. Yah masalah yang besar pula. Lebih besar dari masalah yang orang lain terima. Hey, begitukan rasanya ketika tertimpa masalah dan masalah itu semakin menuntut untuk segera kamu selesaikan. Seperti kamu lah yang jadi pusat dunia. Dan menganggap orang lain tidak ditimpa masalah seberat masalahmu. Alhamdulillah, walau galau sesubuh ini, namun ku lolos dari jerat pikiran dangkal itu.

Dan aku pun berdoa kepada Allah, Tuhanku. Agar Allah mengampuniku, memberikanku jalan keluar, serta mempermudah jalanku. Ini pun membuatku menyadari, jika masalah yang ada harus lah dihadapi dan segera lah bangkit, bukan dilupakan lalu malah berlari. Allah Maha Kuasa dan Allah Maha Berkehendak.

Lalu tahukah kawan apa yang terjadi selanjutnya. Tetiba corong toa di sebuah masjid dekat rumahku bersuara lantang. Innalillahi wa innailaihiraji’un. Seorang hamba telah berpulang subuh ini.

Aku tertegun. Sepertinya corong toa itu ikut menyakinkanku akan hal itu. Menyadari, masalah yang ku hadapi ini belum seberapa dibanding sakratul maut yang dihadapi orang tersebut. Mungkin waktu ku terasa menipis untuk skripsi ini, namun waktu untuk orang itu malah sudah habis, bukan lagi tipis. Astagfirullah, mungkin dalam waktu yang sama, aku larut bergalau karena skripsi, orang itu ditakdirkan bergulat dengan maut.

Ku pun segera mengucap innalillahi wa innailaihiraji’un. Allah lah Sang Pemilik waktu, Sang Pemilik segala sesuatu. Alhamdulillah, aku masih diberi waktu hingga detik ini. Lalu aku pun lanjut mengucap Lahaulawalaquwataillabillah. Karena otak ku kembali mengaitkannya dengan masalah skripsiku. Hamba memohon pertolongan Mu ya Robb. Tiada daya upaya selain pertolongan dari Mu. Setitik harapan, bahwa aku masih punya Allah. Kepada siapa lagi meminta, jika bukan kepadaNya. Karena memang hanya Allah lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Yah begitulah kawan. Sebaiknya kita (termasuk aku sendiri) tak cepat menyerah. Pupuklah harapan di dalam hati dan sirami dengan doa serta usaha. Mana tau suatu hari nanti akan indah pada waktunya. Insya Allah, tak ada masalah yang dibebankan kepada seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupanya. Kembalikan dan serahkan semua pada Allah. Dan selalu ingat untuk bersyukur padaNya. Karena hanya dengan mengingat Allah, saat susah atau lapang, hati menjadi tentram. Insya Allah, masih ada waktu, aamiin ya Allah.

Yups, begitulah kisah ku di subuh kali ini. Tulisan ini pun kujadikan pengingat untuk diriku sendiri. Semoga juga memberi manfaat buat yang membaca. Aamiin. :)

[31 Mei 2013]

No comments:

Post a Comment