Friday, 7 June 2013

A Drama

Ada sebuah drama kehidupan tentang sebuah kesalahpahaman atau mungkin ketidakpahaman. Ini terjadi di daerah sekitar rumahku. Nama tokoh-tokoh ini aku samarkan, haha. Ayo kita simak sama-sama,:)

Ada 3 orang anak yang bersahabat sejak kecil. Mereka bernama Reza, Roby, dan Putra. Rumah mereka berdekatan, satu wilayah RT. Mereka tumbuh bersama dan sekarang duduk di kelas delapan di SMP yang berbeda-beda.



Nah seperti anak-anak ababil (ABG labil), katakan lah begitu, mereka mulai mencoba-coba membawa sepeda motor. Maka suatu kali, di siang itu mereka beriringan melewati sebuah gang yang cukup padat penduduk dengan mengendarai sepeda motor masing-masing. Putra melaju paling depan. Sedang Reza dan Roby mengikuti di belakangnya. Dan masuk lah kita ke awal mula perkara.

Entah kenapa, ketika masih melalui gang tersebut, Reza terjatuh dari motornya. Ia terlihat kepayahan karena motor yang berat itu ikut rebah pula. Roby yang melihat hal itu, menjadi bingung dan panik, maklum ababil. Sedang Putra tak tahu menahu karena dia suda melaju jauh di depan. Roby pun akhirnya memutuskan untuk mengejar Putra untuk memberi tahu kalau Reza jatuh serta mengajak Putra untuk menolongnya.

Nah, sementara Roby memanggil dan mengejar Putra, rupanya si Reza telah ditolong duluan oleh bapak-bapak di dekat daerah situ. Reza ditolong dan diantarkan pulang.

Well, di lain pihak, Roby telah berhasil mengejar Putra. Lalu mereka bersama-sama kembali ke tempat itu untuk membantu Reza. Tetapi mereka menjadi bingung sendiri. Reza dan motornya sudah tak ada di tempat lagi.

Itulah awal mulanya. Sehabis kejadian itu  mereka tetap berteman seperti biasa. Hingga kira-kira satu atau dua bulan kemudian..

Ciitttt. Brakkk!!
Suara keras motor yang di rem mendadak yang disusul oleh suara keras akibat benturan dua benda. Seorang anak dan motor matic-nya menabrak truk yang tiba-tiba berhenti di depannya. Kala itu sore hari yang mendung diiringi sesekali bunyi petir. Si anak memang memacu kencang motor matic-nya agar cepat sampai ke rumah, karena dia takut dengan suara petir. Sudah semacam phobia yang dihidapnya dari kecil dulu. Ternyata tiba-tiba truk yang di depannya mengerem. Dia pun mau tak mau mendadak mengerem juga. Dan tabrakan itu tak terelakkan lagi.

Anak itu adalah Roby, dan tabrakan itu terjadi tepat di depan rumah Reza yang memang rumahnya berada dipinggir jalan. Roby terjatuh dan terhempas ke jalan. Tubuhnya luka dan kakinya berdarah. Bahkan kuku jempol kakinya, entah yang sebelah mana, tercabut dan mengeluarkan banyak darah. Orang-orang sekitar segera menghampiri untuk memberikan pertolongan dan memanggil orangtua Roby. Mereka berkerumun, kecuali, ya kecuali, kedua orangtua Reza.

Masih ingatkan cerita aku di atas tadi. Roby kecelakaan tepat di depan rumah Reza. Dan pada saat itu kedua orangtua Reza sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Kurasa mereka melihat jelas kecelakaan itu, namun entah mengapa mereka tak tergerak untuk menolong. Padahal mereka tahu pasti, jika anak itu adalah Roby teman dekat anak mereka si Reza. Sesuatu di hati Roby berdetak, ia pun berpikir penyebabnya.

"Kenapa sih orangtua Reza tak nolong kamu nak? Padahal biasanya cepat sekali menghampiri jika ada kecelakaan di dekat situ", tanya orangtua Roby. Hmm, apa jawab ABG labil itu, "Hmm, mungkin karena dulu Roby tidak menolong Reza waktu dia jatuh kemaren, Buk. Padahal saat itu Roby memanggil Putra dan ketika kami kembali, Reza sudah tidak ada lagi di situ, sudah dibawa pulang ke rumahnya." Yah, bahkan anak sekecil Roby sudah mampu berpikir seperti itu.

Nah, nah, minna, begitulah ceritanya. Bagaimana menurut kalian? Apa pesan moral dari kejadian nyata yang barusan ku ceritakan tadi? Ironis kan? Ini tentang kesalahpahaman dan ketidakpahaman, dan hal-hal lainnya. Semoga kita terhindar dari sifat-sifat yang sudah kita ketahui itu tidak baik. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih bijak dan dewasa. Semoga kisah ini memberikan manfaat dan pembelajaran bagi kita semua. Sekian, terimakasih, :).

[6 Juni 2013]

picture source: google image

No comments:

Post a Comment