Sunday, 17 March 2013

Petualangan Se-"orang" Hobbit dari Bag End

Alhamdulillah, senengnya, dapat rezeki lebih di bulan ini. Aku bisa kembali membeli novel. Ahh sudah lama sekali rasanya, tidak membaca buku lagi. Aku akhirnya ke Gramedia dan membeli sebuah buku karangan J.R.R Tolkien: The hobbit.


Tertarik membeli buku ini, karena tak sempat menonton filmnya, "The Hobbit:  An Unexpected Journey yang tayang sekitar akhir 2012 lalu. The Hobbit sendiri sebenarnya merupakan seri awal dari trilogy 'The Lord of The Ring'. Filmnya pasti keren banget, . Film ini telah melewati angka US$ 1 miliar. Angka ini didapat dari hasil pemutaran The Hobbit di seluruh dunia dan termasuk Cina yang memutar belakangan. Film tersebut sebenarnya hasil adaptasi dari novel ini. So, pasti novel ini pun tak kalah keren dengan filmnya, haha.

Well, kita akan fokus ke The Hobbit ya. Novel 348 halaman ini dimulai dengan sebuah gambar Peta Thror, peta harta karun dengan tulisan menggunakan huruf rune, yakni huruf-huruf lama yang biasanya diukirkan di kayu, batu, atau logam. Selanjutnya novel ini mengisahkan tentang kehidupan se-“orang” hobbit bernama Bilbo Baggins. Ia tipikal hobbit yang menyukai hidup di dalam comfort zone dan tinggal nyaman di liangnya yang hangat dan penuh makanan yang dinamakan Bag-Ends. Ia hidup di sana dengan nyaman hingga suatu kali Gandalf si Penyihir datang dan mengajaknya bertualang.

Inti dari petualangan ini adalah merebut kembali harta milik keluarga kurcaci Thorin yang dirampas oleh seekor naga jahat bernama Smaug. Gandalf bersama 13 orang kurcaci tersebut datang satu persatu ke liang Baggins, yang menjamu mereka dengan ramah walaupun mereka cukup merepotkannya. Nah di sini lah ku melihat keunikan dari cerita ini. Biar mereka kurcaci dan Hobbit, namun mereka memiliki tata krama yang baik sekali. Ini terlihat ketika para kurcaci satu per satu bertamu ke rumah Baggins. Si Kurcaci akan berkata: Dwalin (nama kurcaci tersebut) siap melayanimu [page.18]. Kemudian Baggins si Tuan Rumah akan membalas: Bilbo Baggins siap melayanimu [page.18].

Sebenarnya 13 kurcaci tersebut meremehkan Baggins karena Ia sama sekali tidak pernah melakukan petualangan apapun. Namun karena mereka termasuk hanya bertigabelas dan 13 itu angka sial bagi kurcaci, maka atas rekomendasi dari Gandalf mereka mengajaknya. Gandalf pun sering meyakinkan mereka bahwa Tuan Baggins mempunyai kemampuan lebih baik daripada yang mereka duga, bahkan lebih banyak lagi daripada yang dia sendiri menyadarinya [page.32].

Serunya buku ini karena menghadirkan kisah yang keren banget. Petualangan yang dipaparkan dengan gaya yang tidak berlebihan, pas sekali. Walaupun dengan uniknya tokoh-tokoh yang ada di buku ini bukan dari bangsa manusia, melainkan hobbit, kurcaci, troll, wah penuh imajinasi sekali. Wajarlah buku ini telah terjual jutaan copy sejak diterbitkan di tahun 1937.

Buku ini pun sarat pendidikan. Ibaratnya Tolkien tidak hanya menceritakan dongeng kosong tanpa amanat, tapi ada banyak yang bisa dipetik. Terutama isu tentang perdamaian di atas perbedaan, tata krama atau kesopanan, dan lain-lainnya.

Hampir semua bagian cerita aku suka. Hanya satu bagian saja yang agak kurang wow menurutku. Mungkin karena ekspetasi awal kalau yang mengalahkan Smaug nanti adalah Baggins dan itu melalui pertempuran sengit dan seru. Aku berekspetasi seperti itu karena inti cerita di awal tadi kan tentang merampas kembali harta dari naga jahat Smaug dan judul novel ini pun The Hobbit kan. Ehh ternyata yang mengalahkannya bukanlah Baggins. Dan itu pun dilakukan dengan mudah sekali. Sepertinya Tolkien tak ingin tokoh utamanya melakukan pembunuhan nih, hehe. Yah, anggap saja ini salah satu twist yang dihadirkan pengarang buat kita para pembaca karyanya. Lalu siapa yang mengalahkan Smaug? Silakan cari tahu langsung dinovelnya saja ya. Gak bakal rugi kok ngebelinya, haha,  promosi, :).

[17 Maret 2013]

No comments:

Post a Comment