Saturday, 2 February 2013

Cicak

Pertama kali melihat cicak ini saat aku sedang menyikat gigi di malam hari sebelum tidur. Saat itu ini cicak masih kecil, masih anak-an dan merayap, mungkin mencari makan di dinding bak mandi.. Pertama kali melihatnya, aku langsung merasa suka yang dicampur selidik karena penasaran. Si cicak masih diam mematung menyadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya.


Kenapa aku tertarik dengan cicak yang ini ya? Padahal seringnya bila melihat cicak, aku tak ambil pusing, langsung ku abaikan saja. Tapi cicak yang ini lain. Mataku sulit lepas dari memandangi ekornya. Iya, ekor yang pendek dan mungil itu. Ekor cicak yang ini unik, warnanya. Tidak seperti ekor cicak lainnya yang berwarna coklat atau hitam, ekor cicak ini berwarna merah. Iya merah, karena itu aku namakan ia 'cicak ekor merah'.

Niat hati ingin segera googling untuk mencari tahu, apakah memang ada spesies cicak berekor merah. Tetapi entah kenapa, atau kmalah karena satu dua hal, aku belum sempat-sempat juga untuk googling, ketika itu.

Waktu pun berlalu. Aku tidak ingat kapan pastinya, mungkin sekitar 3-4 bulan kemudian, hey aku bertemu lagi dengan cicak ini. Masih dengan posisinya yang mematung di dinding bak mandi, mungkin menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya. Aku yakin ini cicak yang sama karena ekornya masih berwarna merah. Dan hey, ada berapa banyak sih kamu ketemu cicak berekor merah. Jujur aku baru sekali ini.

Kalau dulu aku tertarik dengan ekornya, tapi kali ini mata aku lebih tertarik lagi mengamati tubuhnya. Hmm mungkin karena ini cicak telah mengalami pertumbuhan dan badannya telah menjadi lebih besar dari waktu itu sehingga aku bisa melihatnya dengan selidik yang lebih dalam lagi.

Subhanallah. Makin unik yang aku temukan. Ini cicak kulitnya berwarna putih, saking putihnya, sampai kita bisa melihat bayangan organ dalamnya. Iya, aku melihat dengan jelas sekali dimana letak rangka badannya, lalu siluet hitam organ dalamnya. Itu seperti kamu melihat bayangan organ-organ tersebut dari luar. Dan karena putihnya kulit si cicak itu, bola matanya terlihat begitu hitam. Baru aku sadar dan tahu kalau bola mata cicak itu hitam semua warnanya.

Dan aku beralih lagi ke ekornya. Masih berwarna merah cerah. Akhirnya aku tahu, kalau yang berwarna merah itu adalah aliran darah yang mengisi ruang ekornya. Disana hanya kulihat warna merah tanpa siluet hitam. Ini mungkin artinya ekor cicak hanya berupa daging tanpa tulang. Dan karena penasaran aku mencari faktanya di internet. Biasa, aku meminta bantuan si Mbah Google. Tapi kali ini bukan 'cicak ekor merah' lagi yang menjadi kata kuncinya, melainkan 'cicak albino'. Berikut hasil copy paste dari sebuah sumber di Google (maaf aku lupa mencatat link nya):

Albinisme tidak hanya terjadi pada manusia, melainkan dapat mempengaruhi hewan dan burung. Anda mungkin pernah melihat atau mendengar tentang tupai, burung merak, dan ular albino. Bahkan terdapat pula lumba-lumba, hiu, dan kura-kura albino. Jenis kelainan bawaan ini menyebabkan absennya pigmentasi pada kulit, mata, dan rambut, baik sebagian atau keseluruhan.

Albinisme terjadi karena kekurangan pigmen melanin yang bertanggung jawab untuk warna kulit, mata, dan rambut. Dalam kasus albino, enzim yang terlibat dalam produksi melanin tidak ada atau rusak. Kondisi ini sebagian besar diturunkan oleh kedua orang tua, namun dalam beberapa kasus dapat diwariskan dari orang tua tunggal. Selain itu, orang tua non albino tetap punya peluang menurunkan anak albino. Hal ini terjadi karena orang tua adalah pembawa gen yang menyebabkan kondisi ini.

Tidak semua hewan yang berwarna putih atau pucat mengalami albinisme. Kita dapat mengidentifikasi hewan albino dengan melihat warna matanya. Mata hewan albino akan berwarna merah muda atau merah. Kurangnya melanin membuat pembuluh darah mata menjadi terlihat sehingga mata Nampak berwarna merah. Hewan albino juga akan memiliki sisik yang berwarna kemerahan.

Albinisme juga sering tertukar dengan leucisme. Pada leucisme, hewan memiliki warna yang sangat pucat atau putih, namun memiliki mata gelap. Hewan leucisme tidak kekurangan melanin dan dapat diidentifikasi dengan warna mata mereka yang tetap gelap atau normal.

Karena melanin merupakan pigmen yang berfungsi melindungi kulit dari sinar ultraviolet, maka hewan albino sangat rentan dengan sengatan matahari dan kanker kulit. Hewan albin tidak mampu melakukan penyamaran dibandingkan rekan mereka yang normal sehingga lebih rentan terhadap predator. Albinisme juga menyebabkan masalah penglihatan. Hewan albino umumnya akan kesulitan mencari pasangan karena tidak memiliki warna normal.

Haha, begitulah hasil googling ku. Seperti cerita aku di atas tadi, rupanya cicak yang ku lihat itu bukanlah cicak albino. Ini karena matanya berwarna hitam gelap, sedang berdasarkan artikel di atas, hewan albino memiliki mata yang berwarna merah muda atau merah.

Hmm atau jangan-jangan cicak yang ku lihat itu menderita Leucisme kali ya. Seperti yang disebutkan oleh artikel di atas, hewan leucisme memiliki warna kulit yang sangat pucat atau putih dan mata yang gelap atau hitam. Haha, wallahualam, ^_^.
[31 January 2013]

No comments:

Post a Comment