Thursday, 24 January 2013

Sebuah Amplop

Suatu hari, aku lagi beres-beres kamar. Dari kegiatan itu, aku nemuin banyak banget kertas-kertas serta barang-barang tempo dulu, terutama dari jaman aku SMA. Nah diantara salah satu barang tersebut, ada sebuah amplop surat yang didominasi warna putih, dan belang merah biru di pinggiranya. Hmm sekilas ku bisa menebak apa isi kertas yang ada di dalamnya. Haha, kenangan beberapa tahun lalu seketika menyeruak memenuhi ruangan kamar ini.


Lalu, apa sih isinya? Haha, kertas dan amplop tersebut adalah sebuah surat yang ingin aku kirimkan ke sebuah majalah islami. Kertas di dalam amplop tersebut berasal dari kertas pertengahan buku tulis yang aku sobek, terus aku tuliskan dengan pena sebuah cerita di dalamnya. Iya benar-benar tulis tangan karna ketika itu aku belum punya komputer sendiri. Akan tetapi, itu juga adalah surat yang tidak pernah aku kirimkan. Walaupun di bagian luar amplop telah ku tuliskan alamat yang dituju dengan lengkap. Well simply karena aku tak pernah ke kantor pos untuk mengirimkannya.

Yupz, surat itu aku maksudkan untuk mengisi salah satu rubrik di dalam majalah islami tersebut. Nama rubik nya adalah 'Pengalaman Sejati'. Singkatnya rubrik tersebut khusus untuk para pembaca yang ingin membagi kisahnya seputar kejadian atau pengalaman religiusnya yang sarat hikmah. Tentu saja tulisan ku itu bisa diterbitkan jika beruntung dan dinilai layak untuk diterbitkan. Nah kali ini akan aku tuliskan lagi isi surat tersebut. Semoga ceritanya dinilai bagus. Haha, maklum saja lah, aku masih anak sekolahan ketika itu.

Haha, agak malu pula aku jadinya. Selamat membaca aja deh, :)

Jambi, 20 Juni 2006
Balasan Karena Telah Membantu Orang Tua

Pengalaman ini saya alami ketika saya duduk di kelas 2 SMA, masih di tahun 2006 ini. Tanggal dan bulan berapa persisnya peristiwa ini terjadi saya sudah lupa, tetapi yang jelas hari itu adalah hari minggu.

Langsung saja. Pada hari minggu tentu saja Bapak ku tidak pergi kerja. Sekitar pukul 8 pagi, Bapak meminta saya untuk meinjaminya uang sebesar Rp.5000,-. Saat itu Bapak mau pergi ke pangkas rambut dan sedang tidak punya uang kecil. Bapak merasa rambutnya sudah panjang sehingga harus dipotong. Dengan segera saya pun meminjaminya uang. Tanpa terpikir apakah Bapak akan mengembalikan uang itu atau tidak nantinya.

Kebetulan pula hari itu salah seorang adik sepupuku, yang tinggal tak jauh dari rumahku, pada pukul 2 siang nanti akan mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke – 10. Tamu-tamu yang hadir tentu saja kebanyakan adalah teman-teman sekolahnya. Kebiasaan di daerah ku, sehabis pesta ulang tahun tersebut maka para tamu yang telah hadir tadi akan diberi bingkisan ala kadarnya yang berisikan snack (makanan ringan) sebagai tanda terimakasih dari tuan rumah.

Pada salah satu kemasan snack yang telah disiapkan untuk para tamu itu, saya lupa merk nya apa, dikatakan berhadiah langsung berupa uang tunai senilai mulai dari Rp.500,- hingga kelipatannya. Tetapi tentu saja kebanyakan di dalam snack tersebut berhadiah uang senilai 500 rupiah atau paling 1000 rupiah. Bila ada yang lebih dari itu, pastilah hanya beberapa saja.

Bingkisan yang disediakan untuk para tamu itu rupanya bersisa. Dan karena saya adalah salah seorang sepupunya, maka saya pun ikut kebagian alias ikut dapat bingkisan. Saya sama sekali tidak menyangka jika snack yang ada di dalam bingkisan yang saya dapat itu berisikan uang senilai Rp.5000,-. Alhamdulillah, :)

Sebelumnya pernah juga saya membeli snack seperti ini. Tetapi uang yang saya dapat hanyalah senilai Rp.500,- bahkan terkadang tidak dapat uang sama sekali. Para sepupu saya yang lainnya tidak ada yang mendapat uang sebesar itu dari dalam snack mereka. Tentunya saya merasa bahagia dan bersyukur sekali. Ditambah lagi pada malam harinya Bapak mengembalikan uang yang tadi dipinjamnya.

Saya pun berpikir, hal ihwal apakah yang membuat saya bias seberuntung ini. Kemudian saya pun tersadar. Hal ini semua terjadi atas kehendak Allah, SWT. Allah membalas bantuan yang saya berikan untuk Bapak tadi pagi. Karena Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui.

Pengalaman di atas tidak saya maksudkan untuk menyombongkan diri atas amal yang hanya secuil ini. Melainkan untuk menyatakan bahwa Allah benar akan membalas setiap perbuatan umatNya. Apalagi setiap perbuatan baik yang diiringi dengan rasa ikhlas, akan Allah balas dengan sesuatu yang jauh lebih baik lagi, insya Allah. Entah itu di dunia ini maupun di akhirat kelak. Semoga kita selalu terpacu untuk berbuat kebaikan di dunia ini. Aamiin.

Yah, begitulah isi surat di dalam amplop tadi. Percaya atau tidak, mau dinilai itu suatu kebetulan saja, atau cerita yang sederhana sekali, well yaa terserah. Tapi buat aku, itu suatu kejadian yang patut aq renungkan dan ambil hikmahnya. Haha, selalu saja ada yang menarik dari hidup ini.

[13 November 2012]

No comments:

Post a Comment