Thursday, 24 January 2013

Mangga dan Air Zam Zam

Akhir-akhir itu Bapak suka sekali beli mangga. Bawa pulang sekilo, dimakan sehari duahari, terus habis, beli lagi. Suka sekali sepertinya Bapak sama mangga. Pernah beliau cerita, waktu kecil dulu, mau makan mangga langsung panjat aja pohonnya. Lalu langsung dikupas pakai gigi, tanpa pisau. Biasanya dulu Bapak makan mangga bareng temen-temen masa kecilnya. Tetapi sekarang, beda sudah caranya. Bapak lebih rapih.
Beliau kupas mangga pakai pisau, lalu dibasuh dengan air matang. Kemudian dipotong-potong dadu, ditempatkan di sebuah wadah plastik bekas es krim gitu. Bapak paling jago kalau yang namanya mengupas dan memotong buah. Pastinya bukan cuma mangga. Nanas, pepaya, bengkuang, kedondong, semangka, sampai singkong, selesai, tuntas.



Well, balik ke cerita mangga tadi, ritual selanjutnya setelah potong memotong dan penempatan, langsung deh ambil garpu. Bapak kalau makan buah potongan gitu pakai garpu. Dan mulai beliau panggil Mamak, aku dan Rani, adikku. Semua yang ada di rumah ini diajaknya makan mangga bareng, :).

Sebenarnya aku tidak terlalu suka mangga. Menurutku baunya aneh dan daging buahnya tak disukai sama lidahku. Tetapi karena yang lain pada makan, ku pun ikutan icip-icip. Yah itung-itung membiasakan lidahku dengan rasa buah ini. Dan setelah beberapa kali icip-icip, hmm lumayan. Aku mulai suka mangga.

Haha, ada satu hal unik lainnya saat ritual makan mangga bareng ini. Mamak pasti bakal cerita lagi, tentang khasiat mangga. Mamak bakal bilang, mangga ini bagus buat kesehatan, bisa menambah daya ingat. Haha, beliau dapat ini dari hasil menonton iklan jus buah kemasan yang dibintangi sama Darius Sinatrya itu loh,:). Terlepas dari itu semua, hmm Mamak adalah perempuan yang suka membaca, menonton, mengamati dan pintar sekali berlogika. Dan beliau punya seribu kebaikan lainnya. Aku bersyukur sekali jadi anak Mamak. You know Mom, you are my lovely hero, ever after, :*.

And the story goes. Setelah berhasil menyukai mangga untuk sebulan dua bulan, aku kembali tidak mau makan mangga. Kali ini bukan karena aku tidak suka, tetapi karena aku kena sakit. Jadi ceritanya aku makan mangga bareng seperti biasanya. Ehh gak taunya sehari atau dua hari kemudian, ujung bibirku sebelah kanan menjadi kering keputih-putihan, seperti kapalan gitu. Aku masih santai. Aku pikir mungkin kering karena ku kurang minum dan ini akan segera hilang. Akan tetapi perkiraan aku salah. Ujung bibirku makin parah, menjadi basah, perih, dan luka. Mamak bilang, mungkin bibir aku terkena getah mangga yang ku makan tempo hari. Waktu Mak kecil dulu, suka dibilangi, kalau lagi makan mangga, hati-hati sama getahnya, jangan kena bibir, bisa bikin korengan. Hikz, mungkin tak sengaja, ada sedikit getah yang menempel di potongan mangga yang ku makan,dan itu kena sudut bibir ku, huwwaaa, :'(.

Hmm, walaupun tidak terlalu kelihatan, dan mungkin orang lain tidak ada yang menyadarinya, tetapi ini tetap membuat aku merasa malu juga kalau beraktivitas di luar. Aku pun berinisiatif untuk mengolesinya dengan madu. Kebetulan madu yang Bapak beli bulan lalu masih ada. Rutin ku oles tiap hari. Tetapi kok tak kunjung sembuh. Aku jadi curiga. Jangan-jangan madu ini madu campuran. Bukan madu asli. Karena dari berbagai sumber yang ku baca, madu adalah obat dari berbagai macam penyakit. Lagian Bapak juga pernah bilang, kalau madu ini kok murah ya. Dapat 1,5 liter madu dengan harga Rp.75.000 saja, hmm.

Aduh bingung aku. Bagaimana ini biar cepat sembuh. Lukanya tambah hari tambah parah. Jangankan makan makanan berkuah, hanya membuka mulut untuk menguap atau bilang A, terasa sulit dan perih. Huhuhu, :'(.

Hingga tibalah suatu hari. Salah seorang Mbah (Nenekku) baru pulang dari berhaji. Aku memanggil beliau Mbah Wiwik. Beliau adalah adik dari Mbah kandungku atau adik dari bapaknya Bapakku. Haha, bingung gak? Kalau kamu kenal aku dan pernah main ke rumahku, pasti gak bingung lagi,:). Ok lah, abaikan. Pastinya si Mbah baru pulang berhaji dan membawa bermacam oleh-oleh, salah satunya yang khas sekali, air zam zam. Masing-masing keluarga mendapatkan sebungkus kecil air zam zam beserta berbagai macam oleh-oleh lainnya. Nah, di sinilah rahmat Allah mengenai kesembuhanku datang, Alhamdulillah,:).

Well, karena ku rasa madu yang mungkin tidak asli atau campuran itu tidak terlalu membawa hasil, aku mulai berpikir mencari alternatif obat lainnya. Aku memang tidak mau memakai obat kimia untuk luka kali ini. Karena aku merasa masih bisa menahan luka ini dan aku juga tidak mau memporsir ginjalku untuk menyaring zat kimia yang mungkin tersisa kalau ku minum obat dokter. Kalau memakai saleb dan sebagainya, aku malah takut merusak kulit. Makanya alternatif kemarin pakai madu, walau keaslian madunya masih diragukan, hmm.

Dan siang itu, aku yang lagi haus, berjalan menuju meja makan untuk minum segelas air. Ketika minum, mataku tertuju kepada pelastik kecil yang diletakkan berdekatan dengan plastik berisi korma dan kismis. Yup, plastik kecil itu berisi air zam zam, oleh-oleh siMbah kemarin. Hmm, aku mulai berpikir, air zam zam katanya adalah air yang lebih dari air lainnya karena mengandung unsur kesehatan yang lebih. Banyak cerita beredar kalau air ini juga bisa dipakai buat obat. Lantas, mengapa tak ku coba ya? Akhirnya aku mengambil plastik berisi air itu dan membukanya, menuangkan sedikit isinya ke dalam gelasku yang sudah kosong. Aku pun lalu berdoa (kurang lebih seperti ini): Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah, hamba mohon ampun atas segala dosa-dosa hamba. Ya Allah, hamba Mu ini sedang sakit. Angkatlah penyakit ini ya Allah. Jadikan air zam zam ini sebagai perantara Mu untuk menyembuhkan penyakit yang hamba derita ini. Tiada sekutu bagi Mu ya Robb, Tuhan hamba Yang Maha Agung. Perkenankanlah ya Allah. Aamiin. Lalu aku pun meminum seteguk dua teguk air zam zam tersebut. Kemudian kembali melanjutkan aktivitas.


Hingga esok hari pun datang. Aku terbangun dari tidur, dan kusadari jika sakit ini belum sembuh. Masih dengan luka mengering yang perih di sudut bibir ini. Luka yang menjadi basah ketika aku minum, makan, bahkan hanya sekedar menguap. Belum lagi kalau kena air ketika mandi dan menyikat gigi. Aduhai, harus hati-hati sekali rasanya. Yang sakit mungkin hanya di sudut bibir, tetapi seluruh bagian tubuh merasa terkena dampaknya

Di hari ini Mak bilang kalau esok beliau  minta ditemani mencari sesuatu di Pasar Besar. Aku tidak terlalu ingat lagi itu apa. Tetapi aku iyakan ajakan Mak. Walau aku tau, ini bibir masih seperti ini keadaannya, tapi ya sudahlah, cuek aja. Anggap saja kalau di tempat umum nanti tidak ada yang menyadarinya, haha. Harapan aku sih gitu yaa, :).

Aku, Emak, dan Rani, adikku yang kadang ikutan, kalau ke pasar naik angkot. Dan nanti setelah turun di terminal atau di titik tertentu, kami berjalan menyusuri pasar dengan berjalan kaki. Rani sebenarnya tidak terlalu suka berjalan, tetapi bukan karena itu ia tidak bisa ikut esok. Melainkan karena ada kuliah yang harus dihadiri di kampusnya. Begitulah, pasar yang kami tuju masih original. Maksudnya bukan berbentuk mall. Masih pasar yang di dalamnya ada proses tawar menawar. Pasar yang sudah ada sejak dulu, jauh sebelum mall-mall di bangun. Sejak dulu ada, sejak zaman Mak kuliah pun telah ada. Entah kenapa kami menyebutnya tempat itu Pasar Besar. Sepertinya bukan nama resminya, tetapi sejak aku kecil begitulah lingkungan kami menyebutnya.

Dan begitulah. Esok hari pun datang. Dan ternyata apaahh, hmm, rupanya sakit dan luka perih di sudut bibir aku ini tambah parah daripada hari sebelumnya. Kali ini bahkan untuk membuka mulut untuk bicara, susah sekali. Susahnya karena terasa perihnya minta ampun. Akhirnya mau tak mau aku banyak diam dan kalau bicara pun ala priyayi gitu. Ehh bener gak ya itu namanya ala priyayi? Maksudnya aku bicara dengan bibir yang sedikit terbuka, kalau bisa sedikit celah yang dibuat, semakin baik. Apalagi kalau gigi pun ikut tak terlihat saat bicara itu, lebih baik lagi. Semoga terbayang lah seperti apa perihnya luka di bibir aku ini di hari itu.

Tetapi kemarin  aku sudah mengiyakan untuk menemani Mak ke pasar. Yah walaupun dengan kondisi seperti itu, aku tetep pergi juga. Mungkin ni aku nya juga kali ya yang lagi pengen jalan, haha. Ok, abaikan. Dan begitulah, kami ke pasar dari pagi menjelang siang, dan baru siang menjelang sore balik ke rumah lagi.

Enak dan seru kalau ke pasar bareng Emak. Beliau jago nawar dan masih telap jalan menyusuri Pasar Besar ini. Hari itu kami mulai dengan melihat-lihat tas KW di daerah yang disebut Belakang Mega. Dapatlah dua tas baru, asiik,:). Lalu berjalan lagi ke daerah Los. Itu adalah daerah dimana kios-kios pedagang eceran maupun kodian berkumpul jadi satu. Ada yang jual baju atasan, daster, seragam sekolah, kain, seprai, sepatu, sandal, jilbab, hingga pecah belah. Komplit. Satu hal yang khas, tempat ini masih memakai sistem lama, tawar menawar. Harus jago nawar kalau mau belanja di sini. Suka lah aku lihat Mak nawar. Ada-ada aja caranya. Haha,:).

Begitulah. Kesimpulannya hari itu aku habiskan dengan menemani Mak belanja. Lalu pulang dan bla bla bla. Hingga esok harinya lagi datang. Dan kalian tahu, di sini sesuatu yang bernama keajaiban itu, menghampiri aku, :). Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, aku bangun pagi dan Eng Ing Eng, penyakit aku sembuh, :). La la la la. Asli benar-benar sembuh. Tak ada lagi rasa sakit ketika aku minum, makan, mencuci muka, menguap, atau bahkan bicara. Subhanallah. Aku tidak tahu ada proses apa ketika aku tidur. Bahkan bekas kulit yang mengelupas karena luka itu pun tidak aku temukan. Keajaiban sekali kan. Aku bersyukur sekali kepada Allah ta'ala. Ini benar-benar nikmat, jalan keluar setelah kesusahan seperti di firmannya QS Al-Insyirah, 5-6:
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."
Dan Mungkin ini juga salah satu bentuk nyata khasiat air zam zam yang ku minum dua hari yang lalu. Yup, baru selang dua hari aku minum air tersebut. Atas izin Allah, mungkin air itu jadi perantara kesembuhanku. Dan tetap Allah yang menyembuhkan. Terima kasih ya Allah, :).

Haha, dari mangga sampai air zam zam. Begitulah kisahku suatu ketika. Salah satu scene yang harus aku lalui di dalam hidup ini. Ketika itu aku juga introspeksi diri. Mungkin ini teguran sekaligus bentuk kasih sayang dari Allah terhadapku, :). Tetapi sejak itu, aku kembali seperti Kiki yang semula, Kiki yang tak ikutan ritual makan mangga bareng Bapak cs. Kali ini bukan karena tak suka, hanya masih belum mau aja, haha,:). Yah mungkin suatu hari nanti lah aku nyoba makan mangga lagi. Haha, :).

[29 Desember 2012]

No comments:

Post a Comment