Thursday, 24 January 2013

Gerombolan Angsa

 

Saat itu siang hari. Aku sudah lupa pukul berapa pastinya. Aku berdiri dibalik kaca jendela ruang tamu. Melihat ke arah luar, ke arah segerombolan angsa sekitar 8 atau 9 ekor yang sedang bersantai menghindari panas sembari mencari makan.

Tak berapa lama, aku melihat ia datang. Seorang gadis kecil berbaju biru, bercelana hitam dan sedang memakai sepatu sandal. Rambutnya panjang dan sedikit melebihi bahu terurai lembut. Aku mellihatnya diam berdiri di depan teras rumah. Dari balik kaca jendela, mataku menyelidiknya. Rupanya ia berdiri diam sambil tangannya menggenggam sebuah batu.


Ia terus berdiri mematung membelakangi ku. Matanya menatap gerombolan angsa tersebut. Jelas aku mengira kalau ia hanyalah anak yang numpang lewat di depan rumah, namun menjadi takut melintas karena ada gerombolan angsa di depannya.

Tak lama kemudian ia bertingkah seakan mencoba mengusir angsa yang sedang berada di depannya itu agar ia bisa melintasi jalan tersebut. Sesekali mulutnya mendesis "syuh-syuh", layaknya seseorang yang ingin mengusir kucing.

Aku terus memperhatikannya dari balik kaca. Cukup takjub aku melihat angsa-angsa tersebut berlalu perlahan satu demi satu dari jalan tersebut. Wah, ajaib nih anak. Cukup mendesis "syuh-syuh", gerombolan angsa dengan paruh panjang itu beringsut memberi jalan.

Tetapi setelah aku rasa semua angsa itu lewat, aku masih melihatnya tetap berdiri diam di sana dengan kepalanya melihat pada dua arah. Satu ke arah perginya gerombolan angsa, dan satu lagi ke arah dimana angsa-angsa itu tadi berada atau nongkrong. Ia mengawasi dua arah itu. Ku perhatikan lebih cermat lagi, oh itu yang ia lihat. Rupanya masih ada satu angsa lagi yang tertinggal dari rombongannya. Angsa yang tertinggal ini sedang asik mencari makan di dekat tumpukan sampah di dekat situ.

Dan baru lah aku paham. Rupanya sedari tadi ia tidak sedang mengusir gerombolan angsa itu agar menjauh dari jalanan yang akan ia lewati, melainkan menghalau angsa tersebut untuk ikut pulang. Aku melihatnya seperti seorang gembala cilik. Angsa yang seekor tadi masih tetap asik mkan. Sampai tak berapa lama kemudian angsa tersebut mendengar teriakan dari seekor angsa di dalam kelompok tadi yang telah beringsut duluan. Ibarat pemimpin sedang mengabsen anak buahnya. Angsa itu pun berhenti makan, mulai tercenung dan seperti mencoba mendengarkan lebih seksama suara dari kawanannya itu.  Dan dia pun menjadi panik lalu balas berteriak sambil setengah berlari dengan mengepakkan sayap. Mereka saling teriak berbalasan.

Bocah kecil tadi telah melihat gelagat angsa itu sebelumnya. Ia pun pelan-pelan mengambil beberapa langkah mundur ke arah belakang. Memberi jalan buat si Angsa yang ketinggalan tadi untuk lewat dan  mengejar rombongannya. Lalu tak lama itu gadis kecil itu pun segera ikut berlalu sambil berlari pelan menyusul kawanan angsa tadi.

Hmm, apakah ia gembalanya ya? Sepertinya begitu sih. Pintar sekali gadis kecil itu menjaga angsa-angsanya. Paham akan tingkah laku angsa-angsanya. Aku dulu waktu kecil, dan sepertinya sampai sekarang, masih takut-takut bila lewat dekat gerombolan angsa, hmm, :).

Dan pemirsa semua, selain itu, ada satu hal lagi yang menarik dari satu scene kehidupan yang baru aku lihat ini. Sungguh unik sekali melihat bagaimana angsa-angsa tadi saling berkomunikasi. Pemimpin angsa tadi pun ingat akan seekor lagi anggotanya yang tertinggal dan memanggilnya dengan kode-kode bahasa yang mungkin hanya Allah SWT yang memahami. Kalau kata Syahrini, "Alhamdulillah, sesuatu.". Subhanallah, Allahuakbar, Allah Maha Besar, :).

[15 Januari 2013]

No comments:

Post a Comment