Thursday, 24 January 2013

Burung Malang

Hari ini, minggu, 16 Desember 2012, aku mencuci pakaian alias baju kesorean. Iya, kesorean, lebih-lebih dari kesiangan. Alhasil aku menjemur baju hasil cucian tersebut sekitar jam empatan. Syukurlah, hari ini matahari bersinar penuh dan cukup terik sepanjang hari.

Ketika sore mulai beranjak malam, sekitar pukul enam, aku memutuskan untuk tidak mengangkat dulu jemuran pakaianku tadi yang ku jemur di halaman belakang rumah ini.
Aku pikir air dari pakaian-pakaian tersebut masih akan terus menetes, yang bisa membuat basah lantai dapur belakang, tempat singgah cucian-cucian yang masih lembab mendekati basah. Ah, jam delapan malam nanti aja baru akan aku angkat pakaian-pakaian itu. Lagipula pakaian yang hari ini aku cuci, kebanyakan berbahan tebal dan ada tiga potong yang berbahan rajutan. Bahan-bahan yang menyerap air sekali bukan,:)

Beberapa jam berselang, tibalah jam delapan malam, tidak tepat nian sih. Tetapi seputar jam segitu lah,:). Aku yang sudah selesai makan malam, beranjak keluar rumah, ke halaman belakang, pastinya dengan niat mengangkat jemuran,:).

Halaman belakang rumah ku ini minim lampu alias penerangan. Tapi tidak terlalu samar, aku bisa melihat posisi pakaian-pakaianku plus tali jemuran yang sudah melintang manis menungguku mengangkat beban yang ditanggungnya sedari sore.

Sehelai, dua helai, akh, masih basah juga rupanya baju-baju ini (ya jelas lah,-.-'). Tapi airnya sudah berhenti menetes. Aku sampirkan helai-helai pakaianku itu di tangan kiri, sembari tangan kananku menarik helai-helai baju lainnya yang tersisa di jemuran. Dan tiba-tiba, pluk (anggap begitu bunyinya), aku menoleh ke arah kiri, dan samar-samar aku melihat sesuatu seperti sayap berwarna hijau dan biru, lalu paruh dan mata bulat yang menoleh ke arahku. Pluk (sekali lagi anggap seperti itu bunyinya), sesuatu yang baru saja mendarat di tali jemuranku itu jatuh ke tanah, di atara rerumputan liar yang tumbuh di bawah tali jemuran ini. Dan bisa ku pastikan, itu sayap, dan itu adalah seekor burung, yang entah mengapa tak mampu lagi menahan beban tubuhnya untuk bertengger.

Aduhai, dalam samar-samar itu, aku bisa mengagumi keindahan sayap makhluk Nya yang satu ini. Aku pun bingung, harus bagaimana ini. Ingin aku samperin, tetapi pakaian yang begayut di lenganku sudah terasa berat. Terus jika nanti aku bergerak, bisa jadi burung itu terkejut dan kembali terbang. Ah, akhirnya ku putuskan untuk menyelesaikan mengangkat beberapa helai baju yang tersisa dan segera berlari ke dalam rumah.

Baju-baju itu pun lalu ku gantungkan begitu saja, lalu ku ambil lampu senter dan ku ajak Bapak untuk melihat apa yang barusan ku lihat tadi. Yup, sesuatu yang terjatuh dari tali jemuran. Sesuatu seperti seekor burung yang terduduk di tanah dengan salah satu sayap terkembang seolah menahan beban tubuhnya.

Ku katakan kepada Bapak, kalau itu seekor burung. Aku meminta Bapak untuk menangkapnya dan melihat kondisinya. Aku memegang senter dan menyorotkannya ke tanah. Yup, sekali lagi dan pasti, itu benar seekor burung. Mata nya awas, dan menoleh tajam ketika aku datang dengan sorotan lampu senter. Bapak memintaku untuk mematikan senter, setelah beliau memastikan posisi burung tersebut di tanah. Ancang-ancang pun diambil, hap, lalu ditangkap,*eh. Maksudnya akhirnya burung tersebut berpindah dari tanah berumput liar, ke dalam genggaman tangan Bapak yang lalu membawanya masuk ke dalam rumah.



Aduhai (*part.II), indah sekali burung kecil itu. Sayapnya berwarna hijau dan biru. Bagian bawah tubuhnya, ditumbuhi bulu berwarna merah. Kepalanya berwarna coklat tua dengan paruh hitam legam. Subhanallah, kenapa bisa nyasar ke tali jemuranku ya ini burung. Aku berdecak kagum, tetapi sesaat kemudian, aku menjadi miris melihatnya.

Ya Allah, pantaslah burung ini tadi terjatuh saat ia mencoba untuk bertengger di tali jemuran. Dan pantaslah burung ini hanya diam tak melawan ketika ku menyorotnya dengan senter dan Bapak mencoba mendekati untuk menangkapnya. Ya Allah, kaki burung itu yang sebelah kanan, tinggal seperti seonggok danging yang menjuntai. Seperti ranting pohon yang patah, namun belum gugur ke tanah. Terjuntai berdarah dan kotor oleh tanah atau apalah itu namanya. Seperti akibat tergilas atau tertembak sesuatu. Aduh, burung kecil yang malang. Apa ceritamu sampai kamu bisa jadi seperti ini?

Bapak berkata, sepertinya burung ini lapar. Karena Bapak tadi mencoba mendekatkan jarinya telunjuknya, dan burung itu membuka paruhnya mematuki telunjuk Bapak. Tetapi sayang, kami belum ada yang tahu, ini jenis burung apa dan apa makanannya. Bapak berinisiatif untuk memberinya potongan pepaya. Sempat sekali burung malang itu mematuk pepaya tersebut, namun tidak menelannya.

Akhirnya Bapak memutuskan, dan disetujui oleh Mamak, dan kami, anak-anaknya, untuk memberikan burung tersebut kepada Pak De, pamanku yang tinggal tak jauh dari rumah. Pak De memang senang memelihara burung, pastilah beliau pandai merawat burung malang ini. Bapak langsung yang mengantarkan burung tersebut ke rumah Pak De dan tak lama itu kembali lagi ke rumah.

Selang beberapa menit, atau setengah jam-an, Dita, anak Pak De atau sepupuku mengirim sms, mengabarkan kalau burung tersebut sudah mau makan. Alhamdulillah, senangnya hati mendengar berita ini. Katanya, kalau burung ini mau makan, sehat laa badannya, dan luka parah di kakinya tak akan lagi jadi masalah, sykurlah, :).

Dan begitulah, hatiku masih tersenyum-senyum senang sembari jarum jam terus bergerak mewakili detik dan menit yang berlalu. Tetiba aku mendengar handphone ku kembali berbunyi. Ada SMS yang masuk, dari Dita. "Mbak, burungnya mati. Kasih tau Wak (Bapakku-red)." Innalillahi wa innaillaihirajiun. Lepas sudah nyawa burung tersebut dari tubuhnya. Rupanya ia tak mampu lagi bertahan hidup lebih lama lagi. Sedih aku mendengarnya. Sebelunya aku berharap ia pulih seperti sedia kala. Tetapi apa mau dikata. Mungkin memang begitulah jalan yang sebaiknya untuk burung kecil itu. Kata Bapak, sudah ajalnya. Allah Maha Mengetahui.

Hmm, burung malang, kamu itu indah. Burung malang, apa sih ceritamu? Aku sebenarnya ingin tahu...

[19 Desember 2012]


No comments:

Post a Comment