Saturday, 15 December 2012

True Happyness?

Seharusnya aku merasa happy hari ini. Tapi kenapa ya…rasanya ada something yang ganjal di hati. Padahal hari ini aku banyak beraktivitas. Aku have fun bareng temen. And of course hari ini aku gak perlu ngerasa bosen to see my yellow bed.

Aku sama sekali tidak bermaksud untuk tidak bersyukur. Hanya saja aku mulai bertanya tentang seperti apakah yang namanya kebahagiaan sejati itu. Entahlah, kenapa tiba-tiba saja otakku mau repot-repot untuk mempertanyakan hal itu. Dan kalau aku terus pikirkan, rasanya the true happy itu bukanlah saat-saat dimana kita bisa jalan bareng teman, bukan karena ketemu sama cowok impian, bukan karena bisa sepuasnya main di Timezone, dan bukan pula ketika mengenang hal baik di masa lalu.
Rasanya ada sesuatu yang lebih bernilai dari itu semua. Sesuatu yang berkaitan dengan pencipta kita, Tuhan.



Mungkin gak ya, kalau kebahagiaan sejati itu adalah saat kita bisa melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menjauhi semua yang Tuhan larang? Entahlah. Semakin dipikir semakin ruwet. Yang jelas setelah sekian banyak beraktivitas di hari ini dan wajahku telah menampilkan beragam ekspresi, termasuk tersenyum dan tertawa, aku tetap merasa kosong.



Hari ini aku jadi pergi bareng Yuz dan Farah. Mereka temen-temen dekatku waktu SMP dulu. Kami have fun jalan-jalan di WTC dan Ramayana. Maen dan seru-seruan di Timezone, makan es krim sambil melihat sungai Batanghari, plus sempat narsis berfoto-foto ria. Semua itu sebenarnya sesuatu yang menyenangkan. Akan tetapi hal itu tetap tidak memuaskan hati aku. Semua terasa biasa saja. Tawar dan datar.




Lain halnya dengan sesuatu yang terjadi berikutnya. Ketika sudah nyampe humz, tiba-tiba saja aku pengen banget shalat lima waktu, lebih tepatnya merasa ingin sekali bisa rutin ngerjain shalat lima waktu. Dan alhamdulillah, hari ini aku bisa shalat Maghrib dan Isya tepat waktu. Yah, walaupun Shubuh, Zhuhur, dan Asharnya bolong. Tapi aku sempat terpikir untuk bisa rutin shalat malam.



Anehnya, sesudah shalat aku merasa ada kedamaian gitu. Hati aku merasa tentram dan terasa beda banget suasana hati aku ketika sebelum mengerjakan shalat. Apalagi tadi aku shalatnya tepat waktu. Ada hadis yang ku baca di majalah As-Sunnah, punya bapak, yang mengatakan bahwa amalan yang paling utama itu adalah shalat tepat waktunya.



Lalu, apakah rasa damai dan tentram karena menjalankan perintah Allah tadi yang namanya kebahagian sejati? Apakah ini hanya perasaan sesaat saja? Terus mengapa hari ini aku bisa memikirkan tentang apa itu kebahagiaan sejati? Apakah aku tipe orang yang cepat bosan dengan sesuatu? Apakah ini sebuah petunjuk dari Allah? Aku gak tahu.



Yang jelas, aku berharap agar hari-hari yang telah aku lewati, yang sedang aku lewati, dan yang akan ku lewati (insya Allah) tidak terbuang dengan percuma. Semoga hari-hari itu menjadi manfaat untukku, dan syukur-syukur juga bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku. Aamiin. [04 Juni 2007]


No comments:

Post a Comment